Artikel
Beranda » Bukan lagi sage green! Ini 7 tren fashion lebaran 2026

Bukan lagi sage green! Ini 7 tren fashion lebaran 2026

Foto oleh Beyza Yılmaz di Unsplash
Beberapa tahun belakangan, kita seolah terjebak dalam kepungan sage greenlilac, hingga dusty pink yang muncul secara repetitif di setiap sudut silaturahmi. Namun, memasuki tahun 2026, dunia mode muslim tanah air resmi menyatakan “visual burnout” terhadap palet-palet tersebut.
Tahun ini bukan lagi soal siapa yang paling mencolok, melainkan tentang pergeseran besar menuju konsep “Quiet Elegance” sebuah kemewahan yang tenang dan berkelas, atau yang sering kita sebut sebagai gaya quietly expensive.
Tren 2026 tidak lagi mengejar eksplanasi visual yang meledak-ledak.
Sebaliknya, ada nilai spiritual yang diterjemahkan ke dalam desain yang lebih refinedmeaningful, dan timeless. Sebagai pengamat tren, saya melihat ini sebagai evolusi cerdas di mana konsumen tidak lagi sekadar membeli baju, tetapi membeli kenyamanan emosional dan kualitas yang bertahan lama.

1. Dominasi Butter Yellow: Simbol Optimisme yang Lembut

Warna kuning mentega atau butter yellow resmi menggeser tahta warna pastel tradisional. Jika kuning cerah seringkali dianggap terlalu intimidatif, butter yellow hadir dengan nuansa hangat yang memberikan efek “glow” alami pada wajah tanpa terkesan berlebihan.
Warna ini sangat ideal bagi Anda yang ingin tampil segar namun tetap mempertahankan aura kedewasaan yang anggun. Untuk mencapai total look yang harmonis, Anda bisa memadukannya dengan palet netral seperti bone whitebeige, cokelat susu, hingga abu-abu muda. Perpaduan ini menciptakan gradasi yang sangat “bersih” dan eksklusif.

2. Fenomena “Gamis Bini Orang”

Istilah “gamis bini orang” sempat viral sebagai representasi gaya yang matang dan berkelas. Dalam analisis mode 2026, tren ini bukan merujuk pada status pernikahan, melainkan pada preferensi siluet yang elegan, tidak ketat, namun tetap memberikan struktur yang rapi.
Ciri khasnya adalah penggunaan potongan clean A-line atau potongan lurus yang jatuh (loose fit). Tidak ada detail payet yang berlebihan.
Kekuatan utamanya terletak pada pemilihan warna-warna earth tone seperti moka, zaitun, dan ivory. Tren ini membuktikan bahwa busana yang effortless justru mampu memancarkan aura kepercayaan diri yang lebih tinggi.

3. Era “Quiet Elegance” dan Pengaruh Gen Z

Gen Z kini menjadi penggerak pasar yang signifikan, dan mereka membawa selera yang lebih substansial. Mereka lebih menyukai desain yang memiliki storytelling kuat, seperti tren hibrida “Muslim Wear x Cheongsam” yang memberikan sentuhan budaya yang unik namun tetap sopan.
Pergeseran ini merupakan bentuk kejenuhan terhadap motif seragam yang diproduksi secara massal. Brand-brand besar pun kini lebih memilih melakukan intimate launching events dengan konsep cerita yang mendalam daripada sekadar pameran besar-besaran.

4. Fleksibilitas “Rompi Lepas” (Detachable Vest)

Inovasi fungsional menjadi kunci dalam tren 2026 melalui kehadiran detachable vest atau rompi yang bisa dilepas-pasang. Ini bukan sekadar gimik desain, melainkan respons terhadap gerakan sustainable fashion dan pola pikir ekonomi yang lebih cerdas. Membeli lebih sedikit, tetapi mendapatkan manfaat lebih banyak.
Anda bisa mengenakan rompi tersebut untuk tampilan berlapis yang formal saat salat Id atau sesi foto keluarga, lalu melepaskannya untuk mendapatkan gaya yang lebih ringan dan santai saat berkumpul di sore hari. Versatilitas ini membuat satu potong busana Lebaran tetap relevan untuk digunakan kembali sebagai pakaian harian atau ke kantor.

5. Kebangkitan Katun Bordir dan Jacquard

Jika tahun-tahun sebelumnya panggung mode didominasi oleh kain shimmering dan satin gliter yang glamor, tahun 2026 beralih ke apresiasi tekstur kain. Berdasarkan data tren dari Lemon8, bahan-bahan yang memiliki karakter permukaan unik kini jauh lebih dihargai daripada sekadar kilau permukaan.
Material seperti Katun BordirEmbos JacquardPrada Oki, hingga renda halus Chantily menjadi primadona baru. Bahan-bahan ini memberikan dimensi visual yang mahal melalui detail pengerjaan benangnya.
Khususnya katun bordir, bahan ini menjadi favorit karena sifatnya yang sangat adem dan menyerap keringat, sangat cocok untuk iklim tropis Indonesia yang menuntut kenyamanan ekstra di hari raya yang sibuk.

6. Family Look yang Harmonis, tetapi Tidak Identik

Konsep sarimbit atau seragam keluarga mengalami metamorfosis menjadi lebih modern. Tahun 2026, tren bergerak menjauhi gaya “kembaran” yang identik secara kaku. Sebaliknya, keharmonisan dicapai melalui gradasi warna atau shade yang senada.
Sebagai contoh, sang ayah bisa mengenakan baju koko dengan warna beige tua, sementara sang ibu menggunakan abaya berwarna cream lembut, dan anak-anak menggunakan gradasi di antaranya.
Pendekatan ini membuat tampilan keluarga terlihat lebih chic, tidak berlebihan, dan memberikan ruang bagi masing-masing anggota keluarga untuk tetap menonjolkan personalitas mereka.

7. Hijab Minimalis dengan Teknik Layering Tipis

Menyempurnakan busana yang sudah minimalis, tren hijab 2026 fokus pada teknik lilitan sederhana yang memberikan kesan bersih. Pilihan materialnya pun bergeser ke arah yang lebih eksklusif seperti Pashmina Cashmere yang jatuh dengan mewah atau gaya Hijab Malaysia berbahan chiffon yang memberikan kesan anggun seketika.
Teknik layering tipis menggunakan bahan ringan seperti voal tetap populer karena memberikan dimensi visual tanpa menambah beban atau kesan gerah pada pemakainya. Penggunaan aksen minimalis seperti bros kecil atau lipatan halus menjadi sentuhan akhir yang manis untuk menjaga estetika clean look yang menjadi inti dari tren tahun ini.

Berita Terbaru

×