Menelusuri jalanan utama di Kota Blitar saat ini menawarkan pengalaman sensorik yang menggoda. Jika Anda melintasi Jalan Merdeka, Veteran, Dr. Wahidin, hingga Anjasmoro, aroma biji kopi yang baru disangrai dan kepulan uap mesin espresso akan menyapa hampir di setiap sudut.
Fenomena ini bukan sekadar tren musiman, melainkan pergeseran budaya “nongkrong” yang fundamental.
Dari sekadar tempat mengusir kantuk, kedai kopi di Blitar telah bertransformasi menjadi “ruang tamu kedua” di mana urusan produktivitas dan sosialisasi melebur dalam kehangatan suasana kota.
Ledakan Kuantitas: Dari Puluhan Menjadi Ratusan Kedai
Secara administratif, data dari Asosiasi Kopi Indonesia (ASKI) Blitar mencatat sebanyak 73 coffee shop murni yang terdaftar resmi. Namun, gairah ekonomi di lapangan berbicara lain.
Suharyono, Kepala Dinas Penanaman Modal Tenaga Kerja dan PTSP Kota Blitar, memprediksi bahwa jumlah total kedai kopi—termasuk yang belum terdaftar—sebenarnya telah mencapai angka ratusan.
Julukan “Kota 1.000 Kopi” pun bukan sekadar hiperbola, melainkan potret nyata bangkitnya ekonomi kreatif pasca-pandemi yang mampu menyerap tenaga kerja lokal secara masif.
“Kedai kopi yang saat ini berdiri di Kota Blitar menjadi daya tarik sendiri. Fenomena ini mampu menumbuhkan sektor perekonomian, termasuk berkurangnya angka pengangguran. Masih banyak yang belum memiliki izin, tapi sementara tidak apa-apa, yang penting jalan dulu agar ekonomi bangkit lagi,” ungkap Suharyono.
Bukan Sekadar Pahit: Prestasi Nasional dan Nilai Ekonomi Tinggi
Blitar tidak hanya mengejar kuantitas, tetapi juga membuktikan tajinya melalui kualitas. Hal ini dibuktikan oleh Ahrian Festyananda, seorang prosesor kopi asal Blitar yang sukses menyabet Juara 2 kategori Robusta pada ajang Indonesia Green Coffee Competition 2026.
Ia membawa Kopi Robusta Selorejo dengan metode proses honey anaerobic yang unik, meraih skor standar Specialty Coffee Association (SCA) mencapai 82,80. Karakter rasanya yang bersih, seimbang, dan konsisten membuat kopi ini memiliki nilai ekonomi tinggi, dengan rentang harga Rp120 ribu hingga Rp2 juta per kilogram.
“Penghargaan ini menjadi pijakan untuk terus membangun kualitas kopi daerah bersama petani, agar kopi Blitar semakin berdaya saing di level nasional maupun internasional,” tegas Ahrian.
Warisan Sejarah yang Masih Mengepul
Geliat kopi modern di Blitar sejatinya memiliki akar sejarah yang sangat dalam, sebuah identitas yang terwariskan lintas generasi. Jauh sebelum maraknya kafe minimalis, Blitar sudah memiliki De Karanganjar Koffieplantage yang berdiri sejak 1874 di lereng Gunung Kelud—perkebunan yang sempat dinasionalisasi oleh Presiden Soekarno pada tahun 1957.
Tak kalah legendaris adalah Toko Kopi Kereta Api Klasik di Pasar Legi. Berdiri sejak 1959, usaha ini membuktikan ketangguhannya bertahan meski sempat terhenti akibat erupsi dahsyat Gunung Kelud pada tahun 1950-an. Nama “Kereta Api” sendiri merupakan penghormatan pemiliknya, Dian, kepada sang ayah yang tumbuh di lingkungan perkeretaapian.
Sejarah panjang inilah yang memberikan “jiwa” pada industri kopi Blitar saat ini, menjadikannya destinasi wisata edukasi yang melampaui sekadar tempat minum kopi.
Gaya hidup berubah: dari sekadar nugas jadi lebih ambisius
Perubahan perilaku konsumen menjadi motor penggerak utama. Budi Santoso, pelaku usaha kopi di Jalan Merdeka, mengungkapkan bahwa 60% pelanggannya adalah mereka yang melakukan Work From Cafe (WFC). Fenomena ini membuat pengusaha harus cerdas menawarkan konsep unik.
Kedai Loji Ningsih, misalnya, menyajikan nostalgia bangunan kolonial dengan ornamen barang antik—di mana nama “Ningsih” sendiri diambil sebagai bentuk penghormatan kepada istri sang pemilik.
Sementara itu, Kedai Kopi Abah yang berdiri sejak 2010 di Jalan Serayu menunjukkan bagaimana strategi pertumbuhan agresif (growth-oriented strategy) bekerja.
Mereka sukses memikat anak muda dengan mengombinasikan kopi berkualitas, fasilitas free WiFi yang kencang, serta menu unik roti canai dengan kuah kari. Inovasi-inovasi inilah yang menjawab mengapa kafe kini menggantikan fungsi ruang tamu pribadi bagi warga Blitar.
Dukungan Pemerintah: Investasi Rp 1,135 Miliar untuk Infrastruktur
Pemerintah Kota Blitar menyadari potensi besar ini dengan menyiapkan dukungan administratif dan teknis yang serius. Pada tahun 2026, melalui APBD murni, telah dialokasikan anggaran sebesar Rp1,135 miliar untuk rehabilitasi infrastruktur perdagangan.
Detailnya, sebesar Rp800 juta difokuskan untuk pembenahan Pasar Legi sebagai pusat aktivitas ekonomi, dan Rp335,8 juta dialokasikan khusus untuk standardisasi Pasar Kuliner di Jalan Ahmad Yani.
Tujuannya jelas: mendorong UKM kuliner agar “naik kelas” dengan standar higienitas dan pengelolaan limbah yang lebih modern.
Penutup: Menatap Masa Depan Kopi Blitar
Sinergi antara hulu di lereng Kelud dan hilir di ratusan kedai tengah kota telah menciptakan identitas baru yang harum.
Kopi Blitar kini bukan hanya konsumsi warga lokal, namun sudah merambah pasar Jepang melalui pengiriman rutin biji kopi pilihan.
Dengan kualitas yang telah menembus pasar Asia dan dukungan infrastruktur yang kian modern, mampukah Blitar bertransformasi sepenuhnya menjadi ibu kota kopi di Jawa Timur? Masa depan industri ini nampaknya masih akan terus mengepul harum, sekuat filosofi kereta api yang terus bergerak maju membawa kemakmuran bagi banyak orang.
Sumber data: blitarkota.go.id

