Artikel Feature
Beranda » Bagaimana suasana Makam Bung Karno di bulan puasa?

Bagaimana suasana Makam Bung Karno di bulan puasa?

Dok. pribadi

Sore itu, angin berembus lembut di antara pepohonan rindang yang menaungi kompleks makam. Ramadan menghadirkan suasana yang berbeda lebih teduh, lebih hening, namun tetap hidup oleh arus peziarah yang datang silih berganti.

Di bulan suci, kawasan Makam Bung Karno tak hanya menjadi destinasi wisata sejarah, tetapi juga ruang refleksi spiritual. Rombongan keluarga tampak berjalan beriringan, sebagian membawa bunga tabur, sebagian lagi menggenggam tasbih. Ada yang datang dengan pakaian muslim serba putih, ada pula yang mengenakan busana santai khas pelancong luar kota.

Suasana di pelataran makam terasa khusyuk. Beberapa pengunjung duduk bersila, memanjatkan doa dengan suara lirih. Di sisi lain, anak-anak kecil tampak mengikuti orang tuanya, belajar memahami arti ziarah dan sejarah sejak dini. Ramadan seolah mempertemukan dua hal sekaligus, penghormatan terhadap tokoh bangsa dan penguatan nilai religius.

Perjalanan menjajakan kudapan tradisional sejak tahun 1998

Pada hari itu, kami sempat melakukan wawancara singkat dengan salah satu pengunjung. Ia menjelaskan bahwa tujuannya ke Makam Bung Karno adalah untuk jalan-jalan biasa dan menyempatkan waktu untuk berziarah ke makam.

“Saya Lusi, dari Malang. Kesini ya sekadar jalan-jalan sama ziarah,” ujarnya.

Menurut Lusi, suasana hari itu tidak terlalu padat.

Menjaga kerenyahan di tengah lonjakan harga bahan baku

“Karena mungkin pengunjungnya ini sudah berkurang,” tambahnya.

Menurut pengamatan di lapangan, jumlah peziarah memang cenderung fluktuatif selama Ramadan. Pada pagi hingga siang hari, suasana relatif tenang.

Namun menjelang sore, terutama saat waktu berbuka semakin dekat, jumlah pengunjung kembali meningkat. Banyak yang memanfaatkan momen ngabuburit dengan berziarah sebelum melanjutkan ibadah di masjid dalam kompleks yang sama.

Ramadhan jadi ruang diskursus pemikiran progresif, komunitas literasi di Blitar bedah sosialisme

Petugas kompleks makam tampak berjaga dan mengatur alur keluar-masuk pengunjung agar tetap tertib. Imbauan untuk menjaga kebersihan dan ketenangan terus disampaikan. Di luar area utama, pedagang kecil tetap setia berjualan, menawarkan makanan ringan dan minuman untuk berbuka puasa.

Bagi para peziarah, datang ke makam Bung Karno bukan sekadar kunjungan wisata. Ada harapan yang diselipkan dalam doa, ada rasa hormat yang dipanjatkan di hadapan pusara tokoh yang pernah memimpin negeri ini. Di bulan Ramadan yang identik dengan pengampunan dan introspeksi diri, suasana itu terasa semakin mendalam.

Menjelang azan Magrib, langit perlahan berubah jingga. Satu per satu pengunjung mulai beranjak, sebagian menuju masjid untuk menunaikan salat berjamaah, sebagian lagi bersiap berbuka puasa bersama keluarga. Namun meski hari beranjak petang, arus peziarah tak benar-benar berhenti.

Kecamatan Bakung: potensi agraris dan pesona wisata pesisir

Ramadan di Makam Bung Karno menghadirkan potret perpaduan antara sejarah dan spiritualitas. Di bawah naungan pepohonan dan bayang-bayang jejak perjuangan, doa-doa terus mengalir. Menandai bahwa tempat ini bukan hanya ruang mengenang masa lalu, tetapi juga ruang menata harapan di bulan yang penuh berkah.

×