Sejarah Kerajaan Majapahit memberikan pengaruh yang sangat besar terhadap situs-situs wisata di Blitar, terutama dalam hal pembangunan arsitektur megah, penentuan fungsi pusat keagamaan, dan pembentukan identitas daerah. Berikut adalah rincian pengaruh tersebut berdasarkan sumber yang tersedia:
Pembangunan Kompleks Candi Megah
Pengaruh yang paling nyata terlihat pada Candi Penataran (dahulu disebut Candi Palah), yang merupakan kompleks candi terluas dan termegah di Jawa Timur. Candi ini dibangun secara bertahap selama masa pemerintahan empat penguasa besar Majapahit:
- Dimulai pada masa Raja Jayanagara (1309-1328).
- Dilanjutkan oleh Ratu Tribhuwantunggadewī (1328-1350).
- Mencapai puncak kemegahan pada masa Raja Hayam Wuruk (1350-1389).
- Diselesaikan pada masa Ratu Suhita (1400-1477).
Selain Penataran, terdapat pula Candi Kotes di Desa Kotes, Kecamatan Gandusari, yang didirikan pada masa pemerintahan raja pertama Majapahit, Raden Wijaya.
Pusat Keagamaan dan Pendidikan (Mandala)
Pada masa Majapahit, situs-situs di Blitar berfungsi sebagai pusat spiritual yang sangat penting bagi kerajaan.
Candi Penataran berfungsi sebagai candi kerajaan (state temple) tempat pemujaan Paramasiwa.
Berdasarkan naskah kuno Bhujangga Manik, kawasan ini merupakan pusat pendidikan agama yang ramai dikunjungi untuk belajar kitab-kitab hukum dan agama.
Warisan Seni dan Kepercayaan melalui Relief
Sejarah Majapahit memengaruhi nilai estetika situs wisata di Blitar melalui relief-relief yang kini menjadi daya tarik wisatawan.
Dinding candi dihiasi kisah Ramayana dan Kresnayana. Penggunaan relief Wisnu ini menunjukkan bahwa meskipun Waisnawa bukan agama dominan, para raja Majapahit memilih Wisnu sebagai dewa pelindung (Istadewata) mereka.
Pembentukan Identitas dan Sejarah Daerah
Keberadaan peninggalan Majapahit ini menjadikan Blitar sebagai pusat kehidupan masyarakat yang penting sejak sepuluh abad yang lalu.
Pengaruh ini sangat kuat sehingga Candi Penataran dijadikan bagian dari lambang daerah Kabupaten Blitar sebagai simbol kebudayaan yang luhur.
Saat ini, situs-situs tersebut telah menjadi destinasi wisata sejarah utama yang menarik wisatawan domestik maupun mancanegara, serta diakui oleh UNESCO sebagai bagian dari peradaban Asia Tenggara.
Artikel ini diolah dari berbagai sumber yang dibantu AI

