Kontaminasi mikroplastik di Sungai Brantas memberikan dampak yang signifikan dan berbahaya, baik bagi ekosistem perairan maupun kesehatan manusia yang bergantung pada sungai tersebut.
Dampak Terhadap Kesehatan Ikan Mikroplastik
Dampak Terhadap Kesehatan Ikan Mikroplastik yang masuk ke dalam tubuh ikan, terutama melalui saluran pencernaan dan insang, menimbulkan berbagai gangguan kesehatan serius:
Gangguan Pencernaan dan Kelaparan: Ikan yang menelan mikroplastik sering mengalami “kekenyangan palsu”, di mana partikel plastik memenuhi saluran pencernaan namun tidak dapat dicerna,. Hal ini menyebabkan nafsu makan berkurang, gangguan makan, hingga kematian akibat kekurangan nutrisi,.
Gangguan Pernapasan: Partikel mikroplastik, terutama jenis fiber, mudah tersangkut dan menempel pada filamen rackers insang. Akumulasi ini menghambat proses pernapasan karena air yang membawa oksigen tidak dapat masuk ke dalam insang secara optimal, yang pada akhirnya dapat menyebabkan kematian ikan.
Gangguan Reproduksi dan Hormonal: Penelitian menunjukkan bahwa mikroplastik dapat mengganggu hormon reproduksi ikan, yang mengakibatkan kondisi interseksual atau ikan memiliki dua jenis kelamin.
Paparan Racun dan Gangguan Metabolisme: Mikroplastik memiliki kemampuan untuk menyerap kontaminan berbahaya dari lingkungan perairan, seperti bahan organik, anorganik, dan zat kimia pengganggu endokrin (EDC),.
Masuknya racun ini ke dalam tubuh ikan dapat menyebabkan gangguan metabolisme yang fatal.
Ancaman Kepunahan: Jika kontaminasi terus berlanjut secara masif, hal ini dikhawatirkan dapat memicu kepunahan spesies ikan tertentu di Sungai Brantas.
Dampak Terhadap Kesehatan Manusia Manusia terpapar risiko mikroplastik melalui interaksi dengan rantai makanan dan penggunaan air sungai:
Transfer Melalui Rantai Makanan: Mikroplastik yang terakumulasi dalam tubuh ikan dapat berpindah ke tubuh manusia melalui proses biomagnifikasi atau bioakumulasi ketika ikan tersebut dikonsumsi. Mengingat banyak spesies ikan di Sungai Brantas yang menjadi target konsumsi masyarakat, risiko ini menjadi sangat nyata.
Paparan Bahan Kimia Berbahaya: Mikroplastik, terutama yang berwarna transparan, diketahui dapat menyerap polutan berbahaya seperti PCB lebih banyak.
Ketika manusia mengonsumsi ikan yang terkontaminasi, mereka juga tidak sengaja mengonsumsi racun dan bahan kimia berbahaya (seperti logam berat dan PACs) yang menempel pada plastik tersebut.
Risiko Air Minum: Pencemaran plastik yang tinggi di Sungai Brantas mengancam komunitas yang mengandalkan sungai ini sebagai sumber air baku untuk air minum.
Keberadaan mikroplastik dan bahan kimia pengganggu endokrin di dalam air menimbulkan risiko jangka panjang bagi kesehatan masyarakat di wilayah hilir seperti Surabaya, Sidoarjo, dan Gresik.
Oleh karena itu, keberadaan mikroplastik di Sungai Brantas tidak hanya merusak integritas ekologis sungai, tetapi juga menjadi ancaman serius bagi ketahanan pangan dan kesehatan masyarakat Jawa Timur.
Jenis Mikroplastik di Sungai Brantas
Terdapat tiga jenis mikroplastik utama yang mencemari lingkungan perairan di Sungai Brantas, yaitu fiber, filamen, dan fragmen.
Berikut adalah rincian mengenai jenis-jenis mikroplastik yang paling dominan:
Fiber (Serat): Jenis ini merupakan yang paling dominan ditemukan pada seluruh sampel penelitian dengan kelimpahan rata-rata sebesar 19,04 partikel/ikan.
Fiber memiliki karakteristik berbentuk serat memanjang dan paling banyak ditemukan pada organ insang ikan karena sifatnya yang mudah tersangkut pada filamen rackers. Sumber utamanya berasal dari degradasi kain sintetis, aktivitas mencuci pakaian, limbah laundry, serta jaring atau senar pancing nelayan.
Filamen: Jenis ini menempati posisi dominan kedua dengan kelimpahan rata-rata 18,45 partikel/ikan.
Filamen memiliki bentuk lembaran tipis yang tidak beraturan dan paling sering ditemukan di saluran pencernaan ikan. Hal ini disebabkan oleh tingginya pencemaran sampah plastik sekali pakai, seperti kantong plastik (tas kresek) dan sachet, yang terdegradasi di perairan Sungai Brantas.
Fragmen: Jenis ini memiliki kelimpahan rata-rata terendah di antara ketiganya, yaitu sebesar 9,27 partikel/ikan.
Fragmen memiliki karakteristik bentuk yang keras, bervolume, dan tidak beraturan. Biasanya, fragmen berasal dari degradasi plastik keras seperti botol kemasan dan kotak makan.
Selain jenisnya, mikroplastik di Sungai Brantas ditemukan dalam berbagai ukuran dan warna, seperti biru, hitam, ungu, merah, dan transparan.
Partikel yang berwarna transparan dianggap sangat berbahaya karena kemampuannya menyerap polutan kimia seperti PCB dalam jumlah yang lebih banyak dibandingkan partikel berwarna.
Ikan yang Rawan Terpapar Mikroplastik
Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan di Sungai Brantas, spesies ikan yang tercatat paling banyak mengandung mikroplastik adalah ikan Bader Putih (Barbodes gonionotus).
Berikut adalah rincian mengenai temuan tersebut dan faktor penyebabnya:
Tingkat Kontaminasi: Pada ikan Bader Putih, ditemukan akumulasi sebanyak 61 partikel di saluran pencernaandan 76 partikel pada organ insang.
Kategori Makanan (Omnivora): Tingginya kontaminasi pada spesies ini disebabkan oleh jenis makanannya sebagai ikan omnivora.
Ikan dalam kategori ini sangat rentan karena mereka cenderung tidak memilah makanandan sering kali salah mengira partikel mikroplastik sebagai sumber makanan karena kemiripan warna dan bentuknya.
Perilaku Aktif: Ikan omnivora seperti Bader Putih dikenal sebagai perenang yang aktif, sehingga mereka memiliki cakupan daerah pencarian makan yang lebih luas dibandingkan jenis ikan lainnya, yang meningkatkan peluang terpapar polutan plastik.
Perbandingan dengan Kelompok Lain: Secara keseluruhan, ikan jenis omnivora di Sungai Brantas memiliki rata-rata kelimpahan mikroplastik tertinggi, yaitu sebesar 89,625 partikel/ekor (44%), jauh lebih tinggi dibandingkan ikan herbivora (33%) dan karnivora (23%).
Sebaliknya, spesies ikan yang ditemukan memiliki kontaminasi mikroplastik terendah dalam kajian tersebut adalah ikan Berot (Mastambelus aculeatus).
Selain Bader Putih, beberapa spesies lain yang diteliti meliputi Wader, Mujair, Sapu-sapu, Jendil, Monto, Keting, Rengkik, Bader Bang, Muraganting, dan Lukas, di mana semuanya telah terkonfirmasi terkontaminasi mikroplastik.
Risiko kesehatan jangka panjang bagi manusia yang mengandalkan air Sungai Brantas sebagai sumber air minum sangat berkaitan dengan akumulasi polutan berbahaya di dalam tubuh.
Mengingat 97% bahan baku air PDAM di Surabaya, Sidoarjo, dan Gresik berasal dari Sungai Brantas, risiko ini mencakup populasi yang sangat besar.
Resiko Mikroplastik bagi Manusia
Berikut adalah beberapa risiko kesehatan jangka panjang yang diidentifikasi dalam sumber:
Paparan Bahan Kimia Pengganggu Endokrin (EDC): Air Brantas tercemar oleh zat pengganggu endokrin seperti hormon, pemlastis, agrokimia, dan senyawa aktif farmasi (pharmaceutical active compounds/PACs).
Paparan jangka panjang terhadap EDC ini dapat menyebabkan gangguan hormon dan dampak serius lainnya pada kesehatan manusia.
Transfer Mikroplastik dan Polutan Organik: Mikroplastik yang ada di air dapat masuk ke tubuh manusia, baik melalui konsumsi air secara langsung maupun melalui ikan yang terkontaminasi (proses bioakumulasi).
Partikel plastik ini, terutama yang transparan, mampu menyerap polutan berbahaya seperti PCB dan logam berat dalam jumlah besar, yang kemudian ikut masuk ke sistem tubuh manusia.
Penyakit yang Ditularkan Melalui Air (Water-borne Diseases): Tingginya kontaminasi tinja yang ditandai dengan kadar E. coli dan total coliform yang melampaui batas standar menimbulkan risiko penyakit diare dan infeksi bakteri lainnya secara terus-menerus.
Polusi ini tidak hanya mencemari air permukaan tetapi juga meresap ke air tanah/sumur dangkal yang digunakan oleh 64% masyarakat Jawa Timur.
Akumulasi Logam Berat: Sumber mencatat keberadaan logam berat seperti timbal, seng, tembaga, dan merkuri dalam air sungai yang dapat berdampak buruk pada organ tubuh jika terkonsumsi dalam jangka panjang.
Keterbatasan Standar Keamanan Air Minum: Masifnya pencemaran di Sungai Brantas meningkatkan biaya pengolahan air dan menyulitkan penyediaan air minum yang benar-benar aman karena ketersediaan teknologi pengolahan yang terbatas di fasilitas pengolahan air baku.
Secara keseluruhan, kontaminasi yang kompleks di Sungai Brantas menjadi ancaman serius bagi kesehatan masyarakat Jawa Timur karena polutan tersebut bersifat menetap dan dapat terakumulasi seiring berjalannya waktu.
Artikel ini diolah dari berbagai sumber menggunakan bantuan Ai

