Setelah wafatnya Utsman bin Affan, Madinah berada dalam kondisi kacau. Tidak ada pemimpin. Emosi umat bercampur antara duka, marah, dan saling curiga. Dalam situasi seperti itu, Ali bin Abi Thalib akhirnya dibaiat sebagai khalifah keempat. Bukan karena situasi ideal, tapi karena tidak ada pilihan lain yang lebih realistis saat itu.
Ali menerima kepemimpinan dengan syarat yang berat. Ia memimpin umat yang sudah terbelah, bukan umat yang solid. Masalah utamanya ada dua: siapa yang bertanggung jawab atas kematian Utsman, kapan dan bagaimana keadilan ditegakkan. Sebagian menuntut hukuman segera. Sebagian lain menilai stabilitas harus dipulihkan lebih dulu. Ali memilih langkah kedua.
Ali menunda penindakan terhadap pelaku pembunuhan Utsman. Bukan karena melindungi, tapi karena kondisi politik tidak memungkinkan. Pelaku bercampur dengan massa. Jika dipaksa, konflik bisa melebar tanpa kendali. Namun keputusan ini tidak diterima semua pihak.
Aisyah, bersama Thalhah dan Zubair, menuntut kejelasan hukum atas pembunuhan Utsman. Mereka mengumpulkan kekuatan di Basrah. Tujuan awalnya adalah menuntut keadilan, bukan menggulingkan Ali. Namun situasi di lapangan berkembang cepat. Ali berangkat dari Madinah untuk menghadapi situasi tersebut.
Perang Jamal: Konflik Sesama Muslim
Pertemuan kedua pihak awalnya membuka ruang damai. Namun provokasi di malam hari memicu bentrokan. Terjadilah Perang Jamal, perang besar pertama antar sesama muslim. Ali menang. Aisyah diperlakukan dengan hormat dan dipulangkan ke Madinah dengan pengawalan. Secara militer selesai, tapi luka sosialnya dalam.
Perang Jamal tidak menyelesaikan persoalan utama. Justru membuka bab baru konflik yang lebih besar. Mu’awiyah di Syam menolak baiat kepada Ali sebelum pembunuh Utsman dihukum. Posisi Ali makin terjepit.
Dari fase awal kepemimpinan Ali: kebenaran hukum tidak selalu bisa ditegakkan seketika, pemimpin kadang harus memilih antara dua risiko besar, konflik internal jauh lebih merusak daripada musuh luar. Ali tidak memulai konflik. Ia mewarisi konflik yang sudah membusuk.
Sumber: Sirah Nabawiyah karya Syaikh Shafiyyur Rahman al-Mubarakfury

