Aceh Tamiang – Di balik keceriaan anak-anak penyintas bencana di Aceh Tamiang, ada sosok perempuan gigih yang tak kenal lelah merajut kembali senyum mereka.
Ia adalah Atmi Hapsari, atau yang akrab disapa Kak Ami, seorang relawan dari PCNU Kabupaten Blitar yang membawa misi khusus: memulihkan batin anak-anak melalui layanan dukungan psikososial (LDP).
Kak Ami bukanlah sosok baru dalam dunia pergerakan dan seni. Di daerah asalnya, ia menjabat sebagai Ketua Ranting Fatayat NU Kelurahan Beru, Kecamatan Wlingi, Kabupaten Blitar.
Latar belakang pendidikannya sebagai lulusan Seni Tari Universitas Negeri Malang (UM) memberinya modal ekspresi dan ketubuhan yang kuat dalam setiap penampilannya di depan audiens. Kini, ia juga aktif menjadi bagian dari Komunitas Kampung Dongeng Indonesia.
Saat ditemui di lokasi penanganan bencana pada Sabtu, 21 Februari 2026, Kak Ami membagikan kisah awal perjalanannya terjun ke dunia tutur ini.
Ia mengenang momen pertemuannya dengan Kak Tedi Kartino, seorang pendongeng nasional asal Tegal, yang menjadi titik balik hidupnya.
“Awal mulanya kenapa saya terjun di dunia dongeng adalah saat saya bertemu dengan Kak Tedi Kartino. Beliau yang mengajarkan kepada saya teknik-teknik mendongeng yang mendalam,” kenang Atmi Hapsari.
Ilmu yang didapat dari sang mentor tidak dibiarkan menguap begitu saja. Kak Ami langsung mengaplikasikan teknik tersebut kepada anak-anak di rumah.
Hasilnya luar biasa, ia menemukan bahwa pesan moral dan nilai-nilai kebaikan jauh lebih mudah diterima oleh anak-anak melalui media cerita dibandingkan nasihat formal.
“Alhamdulillah, respon anak-anak luar biasa. Kita jauh lebih mudah menyampaikan sebuah pesan kepada anak-anak melalui dongeng atau bercerita. Itu karena satu cerita sebenarnya bisa merekatkan anak-anak Indonesia,” tambahnya dengan penuh semangat.
Kini, di tanah Aceh Tamiang yang masih terluka pascabencana, Kak Ami menggunakan kemampuannya tersebut untuk melakukan Layanan Dukungan Psikososial (LDP).
Baginya, mendongeng di hadapan para penyintas bukan sekadar hiburan, melainkan ikhtiar untuk memastikan bahwa meski fisik mereka baru saja diterjang banjir, imajinasi dan harapan anak-anak Aceh Tamiang harus tetap terbang tinggi. (nu/blt)

