Artikel
Beranda » Jantung pemulihan dari Hiroshima hingga Aceh Tamiang

Jantung pemulihan dari Hiroshima hingga Aceh Tamiang

TPQ An-Nasihah di Manyak Payed, Kabupaten Aceh Tamiang. (Foto: Mambaul Huda/Bicarablitar.com)

Sejarah dunia mencatat bahwa kehancuran fisik sedahsyat apa pun bukanlah akhir dari sebuah bangsa, selama fondasi intelektualnya tetap terjaga. Ketika bom atom meluluhlantakkan Hiroshima dan Nagasaki pada tahun 1945, Kaisar Hirohito tidak menanyakan berapa jumlah tentara yang tersisa atau berapa sisa emas di kas negara.

Pertanyaan ikonik yang ia lontarkan adalah: “Berapa jumlah guru yang masih hidup?” Jepang menyadari bahwa bangunan yang runtuh dapat dibangun kembali dalam hitungan bulan, namun peradaban yang hancur hanya bisa dibangkitkan melalui pendidikan. Fokus pada kualitas guru dan sekolah inilah yang menjadi “keajaiban” di balik bangkitnya Jepang menjadi raksasa dunia hanya dalam hitungan dekade.

Filosofi ini bukanlah sekadar strategi sekuler, melainkan selaras dengan prinsip fundamental Islam. Dalam pandangan teologis, pendidikan adalah instrumen utama untuk mengeluarkan manusia dari kegelapan trauma menuju cahaya harapan. Rasulullah SAW menegaskan pentingnya ilmu sebagai jalan keselamatan melalui sabdanya:
‎مَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَلْتَمِسُ فِيهِ عِلْمًا سَهَّلَ اللهُ لَهُ بِهِ طَرِيقًا إِلَى الْجَنَّةِ

Ini kesaksian salah satu relawan dari PCNU Kabupaten Blitar melihat aktivitas penyeberangan di Jembatan Gantung Perintis Aceh Tamiang

“Barangsiapa yang menempuh suatu jalan untuk mencari ilmu, maka Allah akan memudahkan baginya jalan menuju surga.” (HR. Muslim)

Lebih jauh lagi, Imam Al-Ghazali dalam kitab Ihya Ulumuddin menekankan bahwa ilmu adalah kehidupan bagi hati. Di tengah bencana, pendidikan berfungsi sebagai alat rehabilitasi mental dan spiritual yang paling efektif. Oleh karena itu, di mana pun ada bencana, pembenahan sektor pendidikan harus menjadi prioritas utama guna memastikan mata rantai masa depan tidak terputus.

Semangat “pendidikan sebagai pilar pemulihan” inilah yang kini diejawantahkan secara nyata oleh PCNU Kabupaten Blitar melalui program NU Peduli. Aksi heroik ini mewujud pada proyek renovasi TPQ Annasiah yang terletak di Kecamatan Manyak Payed, Kabupaten Aceh Tamiang. Meski secara geografis Blitar dan Aceh Tamiang terpisah ribuan kilometer, ikatan persaudaraan dan visi pendidikan menyatukan keduanya.

Meniti harapan di jembatan gantung Perintis, saat warga Sekerak dan Bandar Pusaka Aceh Tamiang inginkan akses permanen

Langkah PCNU Kabupaten Blitar merenovasi TPQ An-Nasihah bukan sekadar urusan semen dan batu bata. Ini adalah bentuk manifestasi dari dakwah bil-hal (dakwah dengan perbuatan) yang menyasar jantung pemulihan pasca-bencana.

Dengan memperbaiki tempat belajar Al-Qur’an, NU Peduli Blitar sedang membangun kembali benteng moral dan mental anak-anak di Aceh Tamiang. Sebagaimana Jepang yang memprioritaskan guru pasca-bom atom, renovasi TPQ ini memastikan bahwa generasi muda Aceh Tamiang tetap memiliki akses terhadap ilmu agama yang menjadi kompas hidup mereka.

Pada akhirnya, apa yang dilakukan oleh NU Peduli Kabupaten Blitar di Aceh Tamiang adalah pengingat bagi kita semua: bahwa dalam menghadapi musibah, hal pertama yang harus kita selamatkan adalah akal dan iman generasi penerus.

Mengenal Atmi Hapsari, srikandi Fatayat dari Kabupaten Blitar yang punya peran dalam dukungan psikososial kepada anak-anak di Aceh Tamiang

Pendidikan adalah investasi yang tak akan pernah lekang oleh bencana, dan renovasi TPQ An-Nasihah adalah langkah nyata dalam merajut kembali harapan bangsa dari serambi Mekkah hingga tanah Jawa.

Ditulis oleh Mamba’ul Huda (Tymbro)

Potret Desa Menanggini dari udara, saat ‘atap oranye’ jadi saksi bisu perjuangan para penyintas di Aceh Tamiang
×