Artikel
Beranda » Melihat wajah pasar templek yang baru

Melihat wajah pasar templek yang baru

kondisi pasar templek di Blitar setelah relokasi (sumber foto: web Pemkot Blitar)
Bagi mereka yang terbiasa terjaga sebelum fajar menyingsing di Kota Blitar, memori tentang Pasar Templek sering kali berkelindan dengan aroma aspal basah dan deru mesin yang tertahan di tengah kemacetan. Selama bertahun-tahun, berbelanja di sini adalah sebuah perjuangan fisik.
Sandal yang terbenam dalam tanah becek, lorong sempit yang pengap, dan hiruk-pikuk Jalan Anggrek yang seolah kehilangan ruang untuk bernapas. Namun, narasi urban itu kini telah berganti. Transformasi terbaru Pasar Templek bukan sekadar proyek renovasi biasa.
Ia adalah sebuah pernyataan tentang bagaimana ruang publik yang sempat dianggap kumuh bisa bersalin rupa menjadi ikon kota yang modern, bersih, dan memanusiakan penghuninya.

Nama “Templek” yang Menempel Menjadi Pilar Ekonomi

Secara etimologi, nama “Templek” lahir dari sebuah keterpaksaan kreatif. Dahulu, pasar ini hanyalah sekumpulan lapak kecil yang “menempel” (dalam bahasa Jawa: nempel/templek) di pinggir jalan raya. Sebuah nama sederhana yang mencerminkan ketangguhan ekonomi akar rumput yang bertahan selama puluhan tahun di atas aspal.
Hari ini, ada ironi yang indah di sana. Pasar yang namanya bermakna “menempel di tepian” kini justru bertransformasi menjadi pusat gravitasi ekonomi Kota Blitar. Refleksi dari perubahan ini sangat dalam.
Sebuah entitas yang dulunya hanya pelengkap di pinggiran jalan, kini telah mendapatkan pengakuan formal sebagai salah satu pilar utama distribusi pangan regional yang beroperasi hampir 24 jam penuh.

Memulihkan Napas di Jalan Anggrek

Salah satu perubahan paling signifikan adalah strategi relokasi presisi yang dilakukan pemerintah kota. Selama ini, “Pasar Tumpah” yang meluber hingga ke Jalan Anggrek telah menjadi sumbatan kronis bagi mobilitas warga. Sekitar 260 pedagang yang biasanya memenuhi area barat dilarang kembali berjualan di bahu jalan dan dipindahkan ke sisi timur, tepatnya di Jalan Kaca Piring.
Langkah ini bukanlah penggusuran, melainkan sebuah tindakan “bedah ruang” yang strategis. Dengan memindahkan pusat keramaian dari Jalan Anggrek ke area Jalan Kaca Piring yang kini dibuat lebih lebar, Kota Blitar seolah memberikan ruang bagi jantung kotanya untuk kembali bernapas.
Fenomena ini semakin menarik karena Pasar Templek bukan hanya milik warga Blitar, tetapi juga magnet ekonomi bagi pedagang dari Batu, Malang, hingga Tulungagung yang datang setiap pukul 03.00 hingga 07.00 WIB.
“Proses pemindahan pedagang pasar tumpah ini butuh waktu lama untuk komunikasi dengan paguyuban pedagang. Kami telah berkomunikasi mengenai pemindahan ini sejak lama, jadi ini bukan keputusan yang mendadak,” ungkap Joko Purnomo, Kabid Pengembangan Perdagangan dan Pasar, Dinas Perdagangan dan Industri Kota Blitar.

Perubahan Suasana: Terang, Bersih, dan Teratur

Dampak dari transformasi ini paling nyata dirasakan pada sisi psikologis pembeli. Rina, warga Kelurahan Bendo, mengakui bahwa ia kini lebih sering berkunjung ke Pasar Templek. Baginya, kenyamanan visual seperti pasar yang terang dan hilangnya bau tak sedap secara otomatis meningkatkan kepercayaan pembeli terhadap kualitas produk yang mereka beli.
Akses parkir yang lebih teratur di area Jalan Kaca Piring yang lebar juga menghilangkan kecemasan pembeli yang membawa kendaraan. Pasar tradisional kini bukan lagi tempat yang terpaksa dikunjungi karena harga murah, melainkan destinasi belanja pilihan karena suasananya yang sudah jauh lebih tertib dan memadai.
Revitalisasi Pasar Templek adalah bukti nyata bahwa kolaborasi antara pemerintah yang memiliki visi dengan pedagang yang mau beradaptasi dapat melahirkan standar kualitas hidup yang lebih baik. Keberhasilan ini adalah sebuah harapan baru bahwa modernitas tidak harus menghancurkan tradisi, melainkan memperkuatnya melalui penataan yang cerdas.


Artikel ini diolah dari berbagai sumber dengan bantuan AI

Berburu takjil di Kota Blitar: 5 hal seru di bazar ramadan 2026 yang wajib kamu tahu!
×