FotoAlasan Mengapa Nasi Uceng Adalah ‘Jiwa’ Kuliner BlitarKeajaiban dalam Ukuran Telunjuk Dalam semesta kuliner Nusantara, kehebatan rasa tidak selalu berbanding lurus dengan ukuran.
Tengoklah ikan uceng, penghuni perairan tawar Blitar yang ukurannya bahkan tidak lebih besar dari jari telunjuk orang dewasa.
Namun, di balik tubuh mungilnya, tersimpan ledakan rasa gurih yang begitu intens hingga mampu menjadi identitas budaya yang tak tergantikan.
Mengapa ikan kecil ini bisa menggeser dominasi lauk-pauk populer lainnya dan menjadi “ruh” bagi meja makan di Blitar?
Jawabannya bukan sekadar pada teknik penggorengannya, melainkan pada kearifan lokal yang merajut harmoni antara alam sungai dan selera yang diwariskan lintas generasi.
Identitas Unik Nemacheilus fasciatus, Sang Penyintas Arus Deras
Sebagai seorang penjelajah budaya, saya melihat uceng bukan sekadar “iwak kali” biasa. Secara ilmiah, ia dikenal sebagai Nemacheilus fasciatus, anggota dari kelompok hillstream loaches atau ikan selusur.
Sebagai pakar, perlu saya garis bawahi bahwa dari 18 spesies Nemacheilus di Indonesia, hanya dua yang menghuni Pulau Jawa, dan kebanggaan Blitar adalah N. fasciatus yang memiliki ketangguhan luar biasa.
Ikan ini memiliki karakteristik fisik yang unik: tubuh ramping memanjang dengan corak garis-garis hitam di punggung, serta memiliki sungut (barbels) yang membuatnya sekilas tampak seperti ikan lele versi mini.
Habitat aslinya adalah sungai berbatu dengan aliran arus deras seperti Kali Lekso dan Kali Brantas. Kehebatan biologisnya terletak pada daya tahan hidup tinggi; ia mampu bertahan dalam kondisi oksigen rendah dan kekeruhan air yang menyulitkan ikan lain.
Mereka adalah penghuni sela-sela kerikil yang hanya keluar mencari makan pada sore dan dini hari, membawa sari-sari mineral sungai ke dalam dagingnya yang gurih.
“Rasanya sangat gurih dan lezat, bikin ngiler ini…” (Pak Boim).
“Superfood” Tersembunyi dari Sungai Blitar
Ikan uceng adalah definisi nyata dari superfood lokal. Keunggulan nutrisinya justru terletak pada ukurannya yang kecil, yang memungkinkan kita untuk mengonsumsinya secara utuh (kepala, tulang, hingga ekor).
Praktik “eat-it-whole” ini membuat ketersediaan mineral seperti Kalsium, Zat Besi, dan Fosfor jauh lebih tinggi dan mudah diserap tubuh dibandingkan ikan besar yang tulangnya dibuang.
Analisis gizi menunjukkan paket nutrisi yang mengagumkan:
- Protein (15%) dan asam lemak esensial DHA-EPA yang tinggi untuk kecerdasan dan kesehatan jantung.
- Vitamin A dari organ dalam dan mata ikan yang baik untuk penglihatan.
- Vitamin D dan Vitamin B Kompleks untuk metabolisme serta pertumbuhan tulang.
- Yodium dan Zat Besi untuk mencegah gondok dan pembentukan hemoglobin yang optimal.
Inilah alasan mengapa uceng adalah alternatif nutrisi hebat bagi masyarakat; ia adalah suplemen alami dari jantung sungai Blitar.
Warung Sukaria dan Legenda Kuliner Sejak 1977
Membicarakan Nasi Uceng tanpa menyebut Warung Uceng Sukaria adalah sebuah “dosa” sejarah kuliner. Didirikan pada tahun 1977 oleh Haji Sukari dan Hajjah Sholihah di Babadan, Wlingi, warung ini adalah sang pelopor.
Ada sebuah romantisme sejarah di sini: meskipun Haji Sukari pernah menyatakan tidak membuka cabang di manapun demi menjaga keotentikan, kini muncul berbagai “Warung Uceng Cabang Sukaria” yang menunjukkan betapa kuatnya pengaruh nama besar tersebut.
Warung aslinya tetap menjadi kiblat bagi para pemuja rasa. Pilihan menunya beragam, mulai dari uceng lalapan, sayur lodeh uceng, hingga “mix uceng” yang mencampurkan uceng dengan wader dan udang kali goreng. Sensasi makan di sini adalah pengalaman wajib bagi siapa pun yang menginjakkan kaki di Bumi Bung Karno.
“Belum dikatakan ke Blitar jika belum menikmati Uceng Sukaria.”
Bukan Sekadar Lauk, Tapi Komoditas Ekonomi Kreatif
Evolusi uceng dari sekadar lauk pendamping nasi menjadi komoditas ekonomi kreatif adalah pencapaian yang patut diapresiasi. Di tangan kreatif pelaku UMKM seperti Depot Anda di Garum, uceng telah bertransformasi menjadi camilan modern dalam bentuk uceng crispy dan peyek uceng.
Secara teknis, terdapat perbedaan pada adonannya. Untuk versi snack yang sangat renyah, pengolahannya menggunakan campuran tepung terigu, margarin, dan telur yang digoreng dalam minyak panas bervolume besar.
Pengemasannya pun sudah modern, menggunakan stand-up pouch dengan lapisan aluminium foil atau plastik PP/PE/PVC yang kedap udara untuk menjaga kerenyahan hingga 6 bulan.
Harganya pun sangat inklusif; Anda bisa menikmati porsi lauk di warung lokal seperti Pak Sabar mulai dari Rp1.500 hingga Rp5.000, atau membeli kemasan oleh-oleh premium mulai dari Rp10.000.
Tantangan Modernitas dan Alarm Ekosistem Sungai
Namun, sebagai pengamat budaya, saya harus memberikan catatan kritis. Saat ini, kita melihat fenomena “Standarisasi vs. Inkonstistensi.”
Nasi Padang merajalela karena memiliki rantai pasok industri (ayam, daging) yang stabil dan terstandarisasi. Sebaliknya, Nasi Uceng adalah kuliner yang sangat bergantung pada kemurahan hati alam yang kian rapuh.
Ada alarm keras bagi ekosistem sungai kita. Populasi Nemacheilus fasciatus menurun drastis bukan hanya karena overfishing, melainkan akibat praktik “kejut listrik” (electrofishing) yang merusak benih ikan, serta pencemaran air yang menurunkan kadar oksigen sungai.
Jika sungai-sungai di Blitar tercemar, maka “jiwa” kuliner ini akan hilang. Tanpa sungai yang bersih, uceng hanyalah kenangan yang tercatat dalam buku resep kuno.
Penutup: Menjaga Warisan di Setiap Gigitan
Nasi Uceng adalah narasi tentang bagaimana masyarakat Blitar memuliakan sumber daya kecil menjadi sebuah mahakarya rasa.
Ia adalah perpaduan antara biologi sungai, sejarah keluarga, dan inovasi ekonomi. Namun, gurihnya uceng yang kita nikmati hari ini adalah titipan masa depan.
Mampukah kita tetap menikmati gurihnya uceng di masa depan jika sungai tempatnya bernaung kian tercemar, atau akankah uceng hanya tinggal nama dalam buku sejarah kuliner?
Kesadaran kita untuk berhenti merusak sungai dengan limbah dan alat tangkap berbahaya adalah harga yang harus dibayar demi menjaga warisan ini tetap renyah di setiap gigitan generasi mendatang.
Artikel ini diolah dari berbagai sumber dengan bantuan AI

