Artikel
Beranda » Rahasia di balik tarawih kilat Blitar yang tetap eksis selama 100 tahun

Rahasia di balik tarawih kilat Blitar yang tetap eksis selama 100 tahun

Foto: Pemkot Yogya

Di tengah kesunyian malam Ramadan, saat sebagian besar masjid baru saja menyelesaikan beberapa rakaat awal, sebuah fenomena di sudut Kabupaten Blitar telah mencapai garis finis.

Di Pondok Pesantren Mambaul Hikam, rangkaian 33 rakaat salat Tarawih dan Witir tuntas dalam waktu yang sangat singkat. Bagi sebagian orang yang terbiasa dengan salat tarawih yang tenang dan penuh penghayatan, kecepatan ini tentu memunculkan tanda tanya.

Bagaimana mungkin ibadah yang sakral bisa selesai dalam waktu yang terasa begitu singkat? Bahkan mungkin lebih cepat dari satu jeda iklan di televisi.

Alasan mengapa nasi uceng adalah “jiwa” kuliner Blitar

Namun di balik kesan “kilat” itu, ada cerita panjang yang tidak sederhana. Tradisi ini bukan sekadar soal gerakan cepat, melainkan lahir dari pemahaman keagamaan, sejarah yang mengakar, serta strategi dakwah yang disesuaikan dengan kondisi masyarakatnya.

Memahami apa yang dikenal sebagai “tarawih kilat” berarti melihat bagaimana ajaran agama mampu beradaptasi dengan realitas tanpa kehilangan ruhnya. Dan dari sanalah, muncul berbagai kisah menarik yang menyelimuti tradisi Mantenan ini.

Berikut lima fakta menarik yang membuat tradisi ini tetap bertahan hingga sekarang

Mengapa Blitar disebut “The land of kings”? ini sejarah dan maknanya

1. Warisan Dakwah Sang “Tentara Veteran” Sejak 1907

Fakta pertama yang jarang diketahui adalah sosok di balik tradisi ini. Ibadah kilat ini bukan produk media sosial kontemporer, melainkan warisan KH Abdul Ghofur yang dimulai sejak tahun 1907.

Kiai Ghofur bukanlah ulama biasa; ia adalah seorang tentara veteran yang pernah terjun langsung di medan perang kemerdekaan. Latar belakang militer ini membentuk pola pikir yang strategis dan pragmatis dalam menyebarkan agama Islam.

Ketika merintis Pondok Mantenan, Kiai Ghofur menghadapi realitas masyarakat sekitar yang masih cenderung “abangan”. Mereka adalah pekerja keras petani dan peternakyang tenaganya terkuras habis di siang hari.

Ramadan 2026 di Blitar: jadwal imsak, war lapak takjil, dan pangan murah

Alih-alih langsung mencekoki dengan doktrin berat, beliau melakukan pendekatan manusiawi dan sosial terlebih dahulu. Memahami bahwa jemaahnya sering kali “ogah-ogahan” jika harus berlama-lama salat setelah seharian bekerja, beliau menciptakan sebuah “inovasi dakwah”: salat Tarawih dengan standar minimal namun tetap sah. Ini adalah bentuk adaptasi agar masyarakat mau melangkahkan kaki ke masjid tanpa merasa terbebani.

2. Anatomi Kecepatan: Rahasia Teknis Berdurasi 7 Hingga 13 Menit

Anatomi kecepatan salat ini sering kali disalahpahami sebagai gerakan asal-asalan. Secara teknis, durasi yang berkisar antara 7 hingga 13 menit tersebut merupakan hasil dari efisiensi yang ketat. Rahasianya terletak pada pemilihan surat-surat pendek atau potongan ayat tertentu serta pemangkasan elemen non-wajib.

Salah satu rahasia teknis yang paling krusial adalah pemangkasan tarqiyah (selawat di antara rakaat). Jika pada umumnya selawat dibaca panjang di setiap jeda rakaat, di Pondok Mantenan, tarqiyah hanya dilakukan secara singkat di awal rangkaian salat Tarawih dan awal salat Witir saja. Gerakan transisi dilakukan dengan sangat gesit, namun pihak pesantren menjamin bahwa setiap rukun tetap terpenuhi.

Dari Garum tersenyum ke Nikita Jibril, jejak sejarah komunitas punk sejak 1996

“Di sini tidak sampai mengurangi rukun dan tidak merusak keabsahan salat. Syarat sampai rukunnya sudah terlaksana semua, termasuk tuma’ninah. Tuma’ninah itu diam sejenak minimal cukup untuk melafalkan ‘subhanallah’ baik secara lisan maupun hati.” (KH Dliya’uddin Azzamzammi.)

3. Debat Syariat dan Investigasi Resmi Tahun 2019

Fakta ketiga menyangkut legalitas formal di mata hukum agama. Karena durasinya yang ekstrem, praktik ini sempat menjadi perhatian nasional. Pada tahun 2019, sebuah tim khusus dari Jakarta yang terdiri dari perwakilan Kementerian Agama RI dan MUI melakukan investigasi langsung ke lokasi untuk melakukan observasi mendalam.

Hasilnya memunculkan spektrum opini yang beragam:

Menyingkap misteri Supriyadi lewat kesaksian keluarga di Blitar

MUI Blitar dan Kemenag: Menyatakan praktik ini sah secara kaidah syariat karena tetap memenuhi standar minimal tuma’ninah dan rukun salat.

Muhammadiyah Blitar: Cenderung memandang praktik ini tidak sah. Kecepatan luar biasa tersebut dianggap telah mengabaikan aspek tuma’ninah ideal dan etika dalam menyembah Allah.

Kritik Gus Baha: Ulama ahli tafsir KH Ahmad Bahauddin Nursalim atau Gus Baha memberikan catatan kritis yang tajam namun menyelipkan humor khasnya. Beliau khawatir jika umat tak lagi menikmati sujud dan rukuk.

Bumi Penataran 2026 hadirkan wajah baru seni dan budaya Blitar

“Untuk kelangsungan Islam ini bisa bahaya, karena nanti umat tidak lagi ikhlas mengerjakan sholat Tarawih. Nanti kalau ditanya Allah: ‘Ha’, sujud kok cepete ngono?’ (Lalu dijawab) ‘Lah imame cepet ngoten Gusti. Jarene makmum ken anut imam?’ (Sujud kok cepat begitu? Lah imamnya cepat begitu, Gusti. Katanya makmum harus ikut imam?). Makanya, kelak yang dimintai pertanggungjawaban adalah imam.”(Gus Baha.)

4. Daya Tarik Ribuan Jemaah dan Tantangan Menjaga Kekhusyukan

Meski terus menuai pro dan kontra, Pondok Pesantren Mambaul Hikam tetap menjadi magnet bagi jemaah. Setiap malam, tak kurang dari 1.500 orang memadati area masjid hingga aula, bahkan meluber ke luar.

Menariknya, jemaah tidak hanya berasal dari warga setempat, tetapi juga dari luar kota seperti Kediri yang sengaja datang demi merasakan sensasi salat kilat ini.

Pagelaran seni tradisi meriahkan Paseban PIPP 2026

Di sini ditemukan sebuah paradoks psikologis. Bagi sebagian jemaah, kecepatan justru menjadi alat bantu untuk mencapai fokus. Ibad, seorang jemaah asal Kediri, mengungkapkan sebuah logika menarik: durasi yang singkat justru melindunginya dari gangguan pikiran.

“Malah semakin khusyuk karena tidak ada jeda untuk memikirkan hal lain. Karena gerakannya sangat cepat, saya tidak sempat untuk melamun atau memikirkan hal-hal duniawi.” — Ibad, Jemaah asal Kediri.

5. Warisan Budaya Islam Nusantara yang Fleksibel

Fakta terakhir adalah mengenai daya tahan tradisi ini yang melampaui satu abad. Bertahan sejak 1907 hingga hari ini membuktikan bahwa Tarawih Kilat bukan sekadar tren sesaat, melainkan warisan budaya Islam Nusantara yang sangat adaptif.

Gado-Gado Yami Sari Ayu, hidden gem di Sananwetan

Hingga saat ini, di bawah asuhan Gus Basid, pesantren tetap kukuh mempertahankan sistem salat salaf ini sebagai penghormatan terhadap jerih payah sang pendiri dalam membumikan Islam di tanah Blitar.

Tradisi ini adalah pengingat bahwa dakwah tidak selalu harus tampil kaku. Terkadang, ia harus “berlari” untuk mengejar mereka yang hampir tertinggal.

 


Fenomena Tarawih Kilat di Blitar pada akhirnya mengajak kita untuk merefleksikan kembali esensi dari sebuah pengabdian. Di tengah dunia yang menuntut segalanya serba cepat, tradisi ini berdiri di antara batas syariat dan realitas sosial.

Ia melahirkan sebuah pertanyaan filosofis bagi setiap insan yang beribadah: mana yang lebih esensial, durasi waktu yang panjang dalam kesunyian, ataukah konsistensi dan kemauan kuat untuk tetap hadir di rumah Tuhan, meski hanya dalam sekejap mata?

Artikel ini diolah dari berbagai sumber dengan bantuan AI

×