Artikel Berita
Beranda » Pasar Kediri dan Ramadan 2026: menghadapi pedasnya harga cabai dengan bijak

Pasar Kediri dan Ramadan 2026: menghadapi pedasnya harga cabai dengan bijak

Gambar cabai (Foto: rri.co.id)

Gini nih, kalau sambal sudah jadi “barang mewah” di meja makan, rasanya makan ayam goreng atau tahu tempe jadi kurang afdhal. Memasuki pertengahan Februari 2026, suasana menjelang Ramadan 1447 H mulai terasa, tapi sayangnya bukan cuma rindu tarawih yang datang, harga bahan pokok juga ikutan “naik kelas.”

Kalau kamu scroll TikTok belakangan ini, isinya bukan lagi spill outfit lebaran, tapi spill harga cabai yang bikin elus dada. Kenapa sih setiap mau puasa, si merah kecil ini selalu jadi “primadona” masalah?

Yuk, kita bedah faktanya biar kamu nggak cuma bisa sambat, tapi juga makin pintar mengatur strategi dapur!

Blitar menyambut Ramadan 2026: antara ketegasan dan tenggang rasa

1. Harga Cabai Tembus Angka Psikologis Rp 100 Ribu

Keresahan para ibu rumah tangga dan pelaku UMKM kuliner di Kediri bukan tanpa alasan. Berdasarkan pantauan di Pasar Setono Betek, harga cabai rawit sudah resmi melewati angka keramat Rp 100 ribu. Ini bukan lagi soal pedas di lidah, tapi sudah pedas sampai ke dompet.

Berikut adalah perbandingan “keranjang belanja” per kilogram agar kamu bisa melihat betapa “mewahnya” cabai saat ini:

  • Cabai Rawit Kecil: Rp 102.000 (Naik dari Rp 95.000, harganya sudah mepet harga daging!)
  • Cabai Merah Keriting: Rp 50.000
  • Cabai Merah Besar: Rp 42.000
  • Daging Sapi Biasa: Rp 110.000 (Hanya selisih tipis dengan cabai rawit!)
  • Daging Sapi Has Dalam: Rp 135.000 (Bisa menyentuh Rp 170.000 saat puncak Ramadan nanti)
  • Ayam Kampung: Rp 75.000

Secara psikologis, ketika harga cabai rawit menyentuh angka 100 ribu, masyarakat mulai merasakan tekanan ekonomi yang nyata karena komoditas ini sudah sejajar dengan protein hewani.

Dari megengan ke bukber modern: Wajah ramadan 2026 di Blitar

2. Cuaca Ekstrem dan “Standing Crop” yang Terkunci Hujan

Banyak yang menyangka harga mahal karena stok di sawah habis. Ternyata, menurut Badan Pangan Nasional (Bapanas), ada fenomena yang disebut Standing Crop Paradox.

Barangnya ada di lahan, tapi nggak ada yang berani petik karena hujan lebat terus-menerus! Kalau dipaksakan petik saat basah, cabai justru cepat busuk dan hancur saat distribusi.

Selain itu, musuh bebuyutan petani kembali datang: Patek atau jamur akar. Bayangkan patek ini seperti “kusta” bagi tanaman; membuat buah cabai membusuk prematur dan tanaman mati mendadak.

Tradisi unik masyarakat Blitar menyambut Ramadan

Di sentra seperti Desa Tambakrejo (Kecamatan Gurah) dan Ngasem, hasil panen anjlok hingga 50%.

Dua perspektif dari lapangan menunjukkan betapa peliknya situasi ini:

  • “Penyebab harga mahal adalah kualitas dan kondisi buah kurang bagus. Jadi stok berkurang karena ada yang rusak. Untuk mencegah kerusakan meluas, buah yang terserang harus segera dipetik dan disemprot obat jamur,”  Zulaikah, petani di Desa Tambakrejo.
  • “Kondisi saat ini membuat kami hanya bisa pasrah. Kami memetik cabai yang sekiranya masih bisa dipanen seadanya. Meskipun harga tinggi mencapai Rp 50 ribu di tingkat petani, kami belum benar-benar untung karena biaya perawatan membengkak,” Leni, petani di kawasan Ngasem.

3. Paradoks Petani: Risiko Harga “Ibarat Mantan yang Nggak Stabil”

Kamu mungkin berpikir petani sedang panen uang saat harga Rp 100 ribu. Faktanya? Tidak selalu. Petani harus mengeluarkan biaya operasional ekstra untuk obat jamur dan perawatan di tengah cuaca ekstrem yang nggak menentu.

Perayaan Imlek di Kediri: Lebih dari sekadar lampion merah dan barongsai

Kalau kita bicara data riset dari eJurnal UNG, ada istilah Koefisien Variasi (KV) untuk mengukur risiko harga. Buat kita orang awam, cara bacanya gampang:

  • Risiko Tinggi (KV > 0,5): Ini terjadi pada Cabai Merah Besar dan Keriting. Artinya, harganya ibarat “mantan yang nggak stabil” pagi murah, sore bisa meroket tanpa aba-aba. Sangat sulit diprediksi!
  • Lebih Stabil (KV < 0,5): Cabai rawit hijau justru lebih “kalem” risikonya dibandingkan saudaranya yang merah membara.

Jadi, kalau kamu mau aman dari fluktuasi harga yang bikin jantungan, mungkin ini saatnya mulai membiasakan lidah dengan sambal cabai rawit hijau yang lebih stabil.

4. Strategi “Operasi Rahasia” Pemerintah (OPM dan FDP)

Pemerintah Kota Kediri dan Bapanas nggak tinggal diam melihat “serbuan” harga ini. Mereka menyiapkan Operasi Pasar Murni (OPM) di 15 titik kelurahan.

Dari Viral Menjadi berkah: Kisah “Macan Gemoy” Balongjeruk yang menggerakkan ekonomi desa

Menariknya, lokasi spesifik OPM ini sengaja dirahasiakan dan tidak dipublikasikan secara masif jauh-jauh hari.

Tujuannya? Untuk mencegah “oknum” atau tengkulak nakal yang mau memborong stok murah untuk dijual kembali dengan harga tinggi. Pemerintah ingin memastikan barang ini sampai langsung ke tangan ibu rumah tangga yang membutuhkan.

Selain itu, ada program Fasilitasi Distribusi Pangan (FDP) yang mendatangkan stok cabai dari Lembang, Jawa Barat, untuk “menyerbu” pasar induk agar harga bisa tertekan turun.

Fenomena pasar Blitar jelang ramadan 2026

5. Belajar dari Sejarah: Februari 2025 vs Februari 2026

Kalau kita melihat ke belakang, Februari 2025 adalah masa “bulan madu” ekonomi karena terjadi deflasi 0,17% berkat diskon tarif listrik 50% untuk pelanggan daya 450 VA hingga 2.200 VA. Namun, Februari 2026 ini situasinya lebih menantang.

Sejak awal bulan, Pertamina sudah menyesuaikan harga BBM non-subsidi. Pertamax naik dari Rp 12.500 menjadi Rp 12.900, sementara Dexlite melonjak dari Rp 13.600 ke Rp 14.600.

Kenaikan bahan bakar inilah yang menjadi bumbu tambahan bagi mahalnya biaya distribusi pangan kita.

Cerita di balik dua gelar juara yang mengangkat nama Persik Kediri

Berdasarkan tren historis 2021-2024 dari data BPS Sumenep, inilah 5 barang yang paling sering jadi motor inflasi saat Ramadan dan harus kamu waspadai stoknya:

  • Daging Ayam Ras (Langganan naik saat puasa)
  • Ayam Hidup (Sering muncul di 10 besar pemicu inflasi)
  • Telur Ayam Ras (Kebutuhan pokok untuk kue lebaran)
  • Beras (Komoditas paling sensitif)
  • Emas Perhiasan (Tren masyarakat yang gemar berinvestasi menjelang hari raya)

Kesimpulan: Bijak Berbelanja di Bulan Suci

Kenaikan harga cabai adalah “ujian” tahunan yang dipicu oleh alam dan dinamika pasar. Meskipun harganya sedang pedas, stok di lahan sebenarnya ada hanya saja proses panennya sedang “terkunci” oleh hujan.

Mbak Wali Kota Kediri, Vinanda Prameswati, berpesan agar kita semua tetap tenang dan tidak melakukan panic buying apalagi menimbun barang. Berbelanjalah sesuai kebutuhan.

Cara memilih penginapan ideal di Kediri: rekomendasi & tips

Dengan belanja yang bijak, kita tidak hanya menyelamatkan dompet pribadi, tapi juga membantu menjaga stabilitas harga di pasar.

Selamat menyambut bulan suci Ramadan, semoga ibadah kita tetap khusyuk meski tanpa sambal yang terlalu melimpah!


Artikel ini diolah dari berbagai sumber dengan bantuan AI

Berita Terbaru

×