Table of Contents−
Di sudut-sudut Dusun Beji dan berbagai desa di Kabupaten Blitar, suasana menjelang Ramadan tak pernah terasa biasa. Ada getaran spiritual yang hangat, sebuah kesibukan kolektif yang menandakan bahwa “tamu agung” akan segera tiba.
Bagi masyarakat Blitar, kegembiraan ini tidak sekadar diwujudkan dengan persiapan fisik, melainkan melalui sebuah tradisi luhur bernama Unggahan. Sebuah momen di mana setiap individu diajak untuk berhenti sejenak, menengok ke dalam batin, dan bersiap untuk “naik kelas” secara spiritual sebelum memasuki gerbang bulan suci.
Berikut adalah fakta unik mengenai tradisi Unggahan yang menjadi napas kebudayaan masyarakat Blitar dalam menjaga kesucian hati.
1. Makna di Balik Nama: Laporan Amal yang “Munggah”
Secara etimologi, istilah Unggahan atau Punggahan berakar dari kata bahasa Jawa munggah, yang berarti naik. Tradisi ini bukan sekadar penanda kalender, melainkan pengingat spiritual yang mendalam.
Menjelang Ramadan, tepatnya pada pertengahan bulan Syakban atau malam Nisfu Syakban (tanggal 15 Ruwah). Mayarakat meyakini amal perbuatan manusia selama setahun terakhir sedang dilaporkan atau “naik” ke hadapan Allah SWT.
Penyebutan ini memberikan warna yang berbeda dibandingkan daerah lain di Jawa yang lebih mengenal istilah Megengan (menahan). Megengan menekankan pada kesiapan untuk menahan hawa nafsu.
Sedangkan, Unggahan di Blitar lebih menonjolkan aspek syukur dan transisi spiritual sebuah kesadaran bahwa kita sedang melangkah naik meninggalkan bulan Ruwah menuju kemuliaan Ramadan.
2. Apem: Simbol Pengampunan dalam Satu Gigitan
Dalam setiap kenduri Unggahan, kehadiran kue Apem adalah kewajiban yang sarat makna. Nama “Apem” diyakini berasal dari serapan bahasa Arab, Afwum, yang berarti memohon ampunan. Di sini, apem bukan sekadar pelengkap rasa, melainkan sebuah “kontrak sosial” dan spiritual.
Dengan membagikan dan memakan apem bersama, masyarakat melakukan simulasi permohonan maaf kepada sesama manusia dan permohonan ampun kepada Sang Pencipta.
Kue ini biasanya ditata apik dalam marangan (wakul plastik) atau kotak nasi sebagai bagian dari “berkat” yang berisi:
• nasi gurih atau nasi golong (nasi kecil yang dibungkus daun pisang sebagai simbol kebulatan niat),
• ayam ingkung (ayam utuh yang melambangkan kepasrahan diri),
• tahu bumbu kuning, sambal goreng, mie, dan serundeng,
• jenang abang dan jenang putih (simbol asal-usul kehidupan), dan
• buah pisang sebagai penyempurna rasa syukur.
3. Kepercayaan tentang Leluhur yang “Pulang” ke Rumah
Aspek emosional yang paling menyentuh dalam Unggahan adalah penghormatan kepada mereka yang telah mendahului. Di Dusun Beji, tradisi ini diawali dengan ritual Nyekar atau ziarah kubur.
Menjelang Ramadan, makam-makam di Blitar akan dipenuhi keluarga yang datang untuk membersihkan nisan dan mengirimkan doa. Masyarakat setempat masih memelihara keyakinan tradisional bahwa pada saat Unggahan, arwah para leluhur diberikan kesempatan untuk “pulang” menengok sanak saudara.
Sebagai bentuk penghormatan, banyak warga yang masih memasang sesajen dan membakar dupa di sudut rumah yang telah didoakan oleh pemuka adat atau pemimpin hajat.
Di era digital yang serba praktis ini, pemandangan warga yang sejenak meletakkan ponselnya untuk menjinjing berkat di atas marangan menuju rumah tetangga adalah sebuah kemewahan nilai yang tak ternilai harganya. Unggahan mengingatkan kita bahwa untuk menyambut yang suci, kita harus berani “naik” meninggalkan ego diri.
Melalui sepiring nasi berkat dan kue apem, masyarakat Blitar merawat keseimbangan antara hubungan dengan Sang Pencipta (Hablum Minallah), hubungan antarmanusia (Hablum Minannas), dan penghormatan kepada sejarah serta leluhur.
Artikel ini diolah dari berbagai sumber dengan bantuan AI

