Pintu Gerbang Budaya Pesisir Selatan
Desa Serang menempati wilayah strategis di Kecamatan Panggungrejo, Kabupaten Blitar, Jawa Timur.
Secara geografis, desa ini berbatasan langsung dengan Samudra Hindia, menyajikan perpaduan panorama karst yang kokoh dengan bentang pesisir yang eksotis.
Pantai Serang menjadi daya tarik utama destinasi ini melalui hamparan pasir hitam yang luas serta rimbunnya pohon cemara udang.
Pemerintah Kabupaten Blitar menetapkan wilayah ini sebagai desa wisata unggulan karena memiliki kearifan lokal yang kuat sebagai fondasi pengembangan pariwisata.
Ritual Larung Sesaji: Wujud Syukur Nasional
Masyarakat pesisir selatan Blitar rutin menyelenggarakan ritual adat Larung Sesaji setiap tanggal 1 Suro atau 1 Muharram.
Upacara ini memiliki kedudukan istimewa karena telah mendapatkan pengakuan resmi sebagai Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) tingkat nasional.
Tradisi ini merupakan manifestasi rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas kelimpahan hasil laut, hasil panen pertanian, serta permohonan keselamatan dan tolak bala bagi seluruh warga desa.
Pemerintah Kabupaten Blitar mengatur agenda resmi Larung Sesaji ini dengan pembagian khusus: pelaksanaan skala kabupaten berlangsung di Pantai Serang pada tahun genap, sementara pada tahun ganjil berpusat di Pantai Tambakrejo.
Prosesi inti bermula dari kirab gunungan hasil bumi dari balai desa menuju tepi pantai.
Sesampainya di pesisir, sesepuh adat memimpin doa kenduri yang disebut Ujub. Doa ini menggunakan bahasa Jawa krama yang sarat makna pengharapan agar kehidupan masyarakat tetap harmonis dengan alam.
Setelah doa rampung, nelayan membawa sesaji ke tengah laut Samudra Hindia menggunakan perahu untuk dilarung. Elemen utama dalam sesaji tersebut meliputi:
- Gunungan hasil bumi: Kerucut raksasa berisi nasi tumpeng, sayuran, buah-buahan, dan palawija hasil pertanian desa.
- Produk peternakan: Sesaji pendukung yang melambangkan kemakmuran pangan masyarakat lokal.
- Ubu rampe : Perlengkapan adat khusus yang disiapkan secara teliti oleh sesepuh desa sesuai pakem leluhur.
Serang Culture Festival: Magnet Wisata Tahunan
Guna memperkuat daya saing destinasi, pengelola menyelenggarakan Serang Culture Festival yang berlangsung antara bulan September hingga Oktober.
Pemerintah Kabupaten Blitar mengemas agenda ini sebagai jembatan antara pelestarian tradisi dan industri kreatif modern.
Penyelenggaraan festival ini terbukti efektif menarik audiens yang lebih luas melalui beragam kegiatan tematik.
Aktivitas festival mencakup Festival Layang-Layang yang menghiasi langit pesisir, kompetisi patung pasir di sepanjang bibir pantai, hingga pertunjukan kesenian barong yang atraktif.
Selain seni tradisional, pengelola menghadirkan nuansa modern melalui festival musik Jazz dan Keroncong di tepi laut.
Transformasi budaya menjadi paket wisata ini meningkatkan durasi kunjungan wisatawan dan memberikan pengalaman emosional yang mendalam bagi pengunjung domestik maupun mancanegara.
Edukasi Konservasi Penyu dan Daya Tarik Alam
Desa Serang menawarkan dimensi wisata edukatif melalui pusat konservasi penyu yang menjadi satu-satunya fasilitas perlindungan satwa laut tersebut di wilayah Blitar.
Pusat konservasi ini memegang peran krusial dalam menjaga keseimbangan ekosistem pesisir selatan dari ancaman kepunahan.
Pusat konservasi penyu di Pantai Serang merupakan program unggulan yang sangat unik di Kabupaten Blitar.
Fasilitas ini menyajikan pengalaman edukatif mulai dari proses penetasan telur secara alami hingga aktivitas pelepasan tukik (anak penyu) menuju Samudra Hindia yang menjadi daya tarik utama bagi wisatawan peduli lingkungan.
Aktivitas pelepasan tukik biasanya berlangsung pada periode tertentu dan melibatkan wisatawan secara langsung.
Keindahan alam Pantai Serang juga menawarkan spot foto menarik, seperti hutan pinus yang asri dan pemandangan matahari terbenam (sunset) yang optimal antara bulan Oktober hingga Januari.
Pada saat-saat tertentu di kala senja, wisatawan yang beruntung dapat menyaksikan kawanan lumba-lumba yang melompat di ujung cakrawala, menambah nilai estetika destinasi ini.
Menjaga Keberlanjutan Tradisi dan Wisata
Desa Serang telah bertransformasi menjadi model desa wisata berkelanjutan yang mampu menyelaraskan kemajuan ekonomi dengan pelestarian budaya.
Semangat “uri-uri” atau menjaga tradisi leluhur menjadi kunci utama agar nilai-nilai luhur Larung Sesaji tidak tergerus oleh modernisasi.
Keberhasilan menjaga keseimbangan antara atraksi alam, edukasi lingkungan, dan ritual adat menjadikan desa ini sebagai aset berharga bagi pariwisata Jawa Timur.
Komitmen kolektif antara pemerintah, BUMDes, dan masyarakat lokal perlukan untuk memastikan kearifan lokal tetap terjaga demi masa depan generasi mendatang.
Artikel ini diolah dari berbagai sumber dengan bantuan AI

