Lupakan anggapan bahwa podcast hanyalah medium bagi mereka yang sibuk, yang hanya menyumpat telinga di tengah kemacetan atau menjelang tidur. Data terbaru merobek teori lama tersebut. Publik tidak lagi sekadar mendengarkan, tetapi sedang “menatap” suara.
Terjadi pergeseran paradigma dalam konsumsi konten linear ke arah yang lebih imersif, di mana mata kita kini menuntut porsi yang sama besarnya dengan telinga.
Lanskap digital Indonesia tengah mengalami disrupsi format yang signifikan. Saat ini, podcast bukan lagi sekadar kawan setia dalam kesunyian audio murni, melainkan sebuah tontonan aktif.
Fenomena ini didukung oleh data Spotify yang mencatat adanya peningkatan konsumsi video podcast lebih dari 75% di Indonesia hanya dalam kurun waktu setahun. Angka ini bukan sekadar statistik, ini adalah sinyal kuat bahwa audiens kita telah bertransformasi dari pendengar pasif menjadi penonton yang lapar akan koneksi visual.
Sajian Visual dalam Medium Audio
Kehadiran format video telah mendefinisikan ulang storytelling di ruang digital. Data menunjukkan preferensi audiens yang sangat kontras. Sebanyak 54% responden kini lebih memilih podcast dalam format video.
Angka tersebut terlihat sangat mencolok jika dibandingkan dengan hanya 7% responden yang tetap setia pada audio murni. Sebuah angka yang “strikingly low” bagi industri yang awalnya dibangun di atas fondasi gelombang suara saja.
Evolusi ini terjadi karena video memberikan dimensi manusiawi yang selama ini absen dari transmisi audio. Video memungkinkan engagement metrics yang lebih dalam melalui penangkapan emosi yang presisi.
Budaya ‘Nongkrong’ yang Terdigitalisasi lewat Komedi
Genre komedi tetap menjadi primadona di tanah air, dengan lonjakan pertumbuhan mencapai 91% sejak tahun 2019. Menariknya, pertumbuhan ini didominasi oleh pengguna di bawah usia 34 tahun. Carl Zuzarte, Head of Podcast Spotify Southeast Asia, menganalisis bahwa fenomena ini merupakan cerminan dari budaya “nongkrong” masyarakat Indonesia yang telah terdigitalisasi.
Dalam kultur kita, “nongkrong” adalah aktivitas visual melihat reaksi kawan saat melontarkan banyolan jauh lebih memuaskan daripada sekadar mendengarnya. Video podcast komedi berhasil mereplikasi kehadiran fisik tersebut secara digital.
Untuk memperkuat ekosistem ini, Spotify bahkan meluncurkan kampanye spesifik #LucuTerusDiSpotify dan mengkurasi playlist “Lucu Terus” untuk memudahkan akses audiens.
Beberapa alasan mengapa genre komedi dengan format video begitu dominan:
- Representasi Budaya Lokal: Menghidupkan kembali kebiasaan bercengkrama yang mendarah daging dalam keseharian orang Indonesia.
- Koneksi yang Lebih Akrab: Penonton merasa seolah-olah duduk di lingkaran pertemanan yang sama dengan para komika.
- Hiburan Pelarian (Escapism): Menjadi solusi alternatif hiburan ringan yang bisa dinikmati di sela-sela kepadatan aktivitas.
Mitos ‘Multitasking’ yang Mulai Bergeser
Selama bertahun-tahun, podcast dipasarkan sebagai media terbaik untuk multitasking. Namun, data terbaru mematahkan mitos tersebut. Sebanyak 70% pengguna video podcast di Indonesia menonton secara aktif.
Mereka sengaja mengalokasikan waktu untuk menatap layar, menandakan bahwa kualitas konten saat ini sudah berada pada level yang sangat imersif. Contoh nyata dari tren ini terlihat pada genre horor seperti Horor Misteri Riplay.
Kreatornya, Rizky dan Andy, secara cerdik menggunakan elemen animasi dalam format video untuk memperkuat atmosfer mencekam. Di sisi lain, podcast seperti “In Her View” yang menampilkan perspektif lima perempuan dari latar belakang berbeda.
Hal tersebut menunjukkan bahwa diskusi mendalam pun kini menuntut interaksi visual agar audiens merasa benar-benar terlibat. Pergeseran dari konsumsi pasif ke aktif ini membuktikan bahwa penonton Indonesia kini lebih menghargai kedalaman konten daripada sekadar menjadikannya suara latar.
Standar Baru Industri Kreatif
Video podcast bukan lagi sekadar tren musiman. Namun, telah menjelma menjadi standar baru dalam industri konten kreatif di Indonesia.
Fleksibilitas platform untuk berpindah antara mode menonton aktif dan mendengarkan pasif memberikan kemerdekaan penuh bagi audiens dalam menentukan cara mereka mengonsumsi cerita. Seiring dengan teknologi yang terus menyempurnakan pengalaman imersif ini, ruang bagi kreator lokal untuk bereksperimen kian terbuka lebar.

