Membicarakan Blitar sering kali membawa ingatan kita pada heningnya pusara Sang Proklamator atau deretan arca di Candi Penataran yang megah. Namun, cobalah melangkah sejenak ke area City Walk atau riuhnya pasar di sekitar Makam Bung Karno.
Di sana, aroma manis dari kudapan tradisional dan ketukan ritmis pengrajin kayu bercerita tentang sisi lain “Bumi Bung Karno”: sebuah kota yang tidak hanya merawat memori, tapi juga terus berinovasi melalui tangan-tangan kreatif masyarakatnya.
Buah tangan dari Blitar bukan sekadar pelengkap perjalanan. Di balik setiap bungkus wajik atau renyahnya peyek, terdapat filosofi ketahanan pangan, adaptasi budaya, hingga semangat keberlanjutan yang telah hidup puluhan tahun.
Mari kita telusuri jejak kreativitas lokal melalui lima oleh-oleh ikonik yang mendefinisikan identitas modern Kota Patria ini.
1. Beras Cerdas: Inovasi Pangan yang “Jenius”
Siapa sangka tradisi agraris Blitar mampu melahirkan terobosan pangan yang diakui secara akademis? Beras Cerdas adalah bukti nyata bagaimana riset modern dari Universitas Jember bersinergi dengan potensi lokal.
Ini bukan beras padi biasa, melainkan “beras analog” yang dirancang khusus sebagai alternatif pengganti beras yang jauh lebih sehat namun tetap memiliki kandungan gizi setara.
Kejeniusan produk ini terletak pada bahan penyusunnya yang unik:
- Jagung: Sebagai sumber karbohidrat utama yang kaya energi.
- Protein Susu: Menambahkan nilai gizi yang jarang ditemukan pada beras biasa.
- Mocaf (Modified Cassava Flour): Tepung singkong fermentasi yang memberikan tekstur pas.
- Antioksidan & Serat Tinggi: Menjadikannya pilihan utama bagi mereka yang peduli kesehatan.
Dengan harga mulai dari Rp10.000 per kemasan, Beras Cerdas bukan sekadar oleh-oleh, melainkan pesan tentang pentingnya kemandirian pangan.
Produk ini menawarkan solusi bagi gaya hidup modern: nol kolesterol, kaya serat, dan sangat bersahabat bagi tubuh. Inilah bentuk inovasi yang mengubah ketergantungan pada satu jenis komoditas menjadi keberagaman pangan yang menyehatkan.
2. Wajik Kletik: Aroma Nostalgia dalam “Klobot”
Jika Anda pernah mencicipi wajik ketan khas Tasikmalaya, maka Wajik Kletik Blitar akan memberikan impresi yang berbeda. Keunikannya langsung terpancar dari kemasannya yang menggunakan klobot atau kulit jagung kering.
Bungkus tradisional ini membuat Wajik Kletik tampak menggemaskan, menyerupai “bantal mini” yang tersusun rapi dalam rentengan.
Penggunaan klobot bukan hanya tentang estetika nostalgia, melainkan sebuah kearifan lokal dalam menjaga kualitas:
- Aroma Autentik: Kulit jagung memberikan aroma alami yang khas, yang tidak mungkin didapatkan dari kemasan plastik modern.
- Tekstur Terjaga: Klobot membantu menjaga kekenyalan wajik agar tetap legit saat digigit.
- Keberlanjutan Tradisional: Ini adalah praktik sustainability (keberlanjutan) yang sudah dilakukan warga Blitar jauh sebelum tren eco-friendly mendunia. Pemanfaatan limbah pertanian menjadi kemasan bernilai seni adalah bentuk kecerdasan ekologis yang patut diapresiasi.
Menikmati sebutir Wajik Kletik seharga Rp20.000-an per kemasan ini seperti menyesap kembali memori masa lalu yang manis, sekaligus mendukung kelestarian alam melalui produk yang minim sampah plastik.
3. Peyek Uceng: Ikon Sungai dalam Setiap Gigitan
Jika daerah lain membanggakan peyek kacang atau udang, Blitar memiliki jagoan yang lebih eksotis: Peyek Uceng. Ikan uceng adalah ikan air tawar kecil yang menghuni sungai-sungai jernih di wilayah Blitar.
Ukurannya yang mungil justru menjadi kekuatan utama saat dipadukan dengan adonan tepung beras yang berbumbu kencur dan daun jeruk.
Kekuatan utama Peyek Uceng terletak pada teksturnya yang sangat renyah dan rasa gurih alami ikan sungai yang tidak meninggalkan rasa amis. Masyarakat lokal berhasil mengangkat ikan sungai yang sederhana menjadi ikon kuliner yang diburu wisatawan.
Penampilannya yang unik dengan ikan-ikan kecil yang tersebar di lembaran peyek tipis memberikan sensasi berbeda dalam setiap gigitan. Harganya yang terjangkau, sekitar Rp17.000 per kemasan, menjadikannya camilan wajib yang selalu ludes di pusat oleh-oleh.
4. Kendang Jimbe: Adaptasi Budaya dari Afrika untuk Dunia
Kreativitas masyarakat Blitar menembus batas benua melalui Kendang Jimbe. Terinspirasi dari alat musik djembe asal Afrika Barat, para pengrajin di Kelurahan Tanggung dan Sentul telah melakukan “fusion” budaya sejak tahun 1980-an.
Mereka mengadaptasi bentuk aslinya namun tetap menyematkan identitas lokal pada setiap inci kayunya.
Dibuat dari kayu mahoni atau nangka pilihan, kendang ini tidak hanya kokoh tapi juga memiliki ukiran artistik bermotif batik, flora, hingga fauna khas Jawa. Bagian atasnya menggunakan kulit kambing yang diolah khusus agar menghasilkan suara yang nyaring dan mantap.
Selain menjadi komoditas internasional, industri ini memiliki dampak ekonomi yang luar biasa.
“Usaha kendang jimble sangat mendorong perekonomian daerah, karena bisa mensejahterakan masyarakat kecil, nambah lapangan pekerjaan, mengurangi pengangguran,” Pak Wawan, Pemilik Usaha Kendang Jimbe.
Keberhasilan Blitar mengekspor kendang ke berbagai negara adalah bukti bahwa adaptasi budaya yang cerdas dapat menjadi penggerak ekonomi masif bagi masyarakat kecil.
5. Kampung Opak Gambir: Dari Camilan Menjadi Wisata Edukasi
Bergeser ke Kelurahan Plosokerep, kita akan menemukan transformasi luar biasa dari sebuah kudapan tradisional bernama Opak Gambir. Sejarahnya dimulai pada 1987 ketika warga seperti Ibu Sartunik mulai menjajakan opak di area Makam Bung Karno.
Kini, semangat kolektif warga yang didukung program “Maya Juwita” (Masyarakat Berdaya Menuju Kota Pariwisata) telah mengubah pemukiman ini menjadi Kampung Opak Gambir (KOG).
Di sini, produk kuliner tidak lagi sekadar barang dagangan, melainkan sebuah “pengalaman”. Wisatawan dapat menyelami sejarah UMKM lokal melalui paket wisata edukasi yang ditawarkan.
Berikut adalah hal-hal menarik yang bisa Anda temukan di KOG:
- Menyaksikan langsung proses produksi tradisional opak gambir, sagon kelapa, hingga koyah.
- Mempelajari teknik pembuatan opak yang masih mengandalkan keterampilan tangan (manual) untuk menjaga kerenyahan.
- Interaksi langsung dengan para pengrajin yang menjaga resep turun-temurun sejak era 80-an.
Transformasi Plosokerep menunjukkan bahwa dengan bergerak bersama, sebuah komunitas mampu menaikkan nilai jual produk tradisional menjadi destinasi wisata yang memberdayakan ekonomi warga secara luas.
Panduan Cerdas Berbelanja di Bumi Bung Karno
Agar Anda membawa pulang oleh-oleh dengan kualitas terbaik, berikut adalah daftar periksa yang perlu diperhatikan saat berbelanja di Blitar:
- Pilih Toko Bereputasi: Belanjalah di pusat oleh-oleh terpercaya seperti Kios Makam Bung Karno, Kawasan Karangsari, atau sentra Omah Jenang untuk menjamin keaslian produk.
- Cek Izin P-IRT: Pastikan pada kemasan tertera nomor izin P-IRT (Pangan Industri Rumah Tangga) dari Dinas Kesehatan sebagai jaminan keamanan dan standar produksi.
- Ketelitian Label: Selalu cek tanggal kedaluwarsa (expired date) yang jelas pada label kemasan.
- Kualitas Kemasan: Untuk produk seperti opak gambir dan sagon, pastikan kemasan tertutup rapat dan kedap udara agar kerenyahannya tetap terjaga hingga sampai di rumah.
- Harga Masuk Akal: Pertimbangkan harga yang wajar terhadap kualitas; harga yang terlalu murah sering kali mengorbankan kualitas bahan baku.
Mendukung Geliat Kreativitas Lokal
Oleh-oleh dari Blitar memberikan pesan kuat bahwa tradisi dan inovasi bukanlah dua hal yang berseberangan.
Dari Beras Cerdas yang lahir dari laboratorium hingga Wajik Kletik yang setia pada balutan kulit jagung, semuanya mencerminkan semangat masyarakat Blitar untuk terus relevan tanpa kehilangan jati diri.
Memilih produk-produk UMKM lokal ini adalah cara termudah bagi kita untuk mengapresiasi kerja keras para pengrajin dan memastikan roda ekonomi daerah terus berputar.
Dari daftar di atas, mana yang paling menggugah rasa penasaran Anda?
Apakah kerenyahan Peyek Uceng yang ikonik, atau nostalgia manis dalam balutan klobot Wajik Kletik yang Anda rindukan untuk dicicipi saat berkunjung ke Kota Sang Proklamator nanti?
Artikel ini diolah dari berbagai sumber dengan bantuan AI

