The Jansen melalui album Banal Semakin Binal telah mengubah wajah punk Indonesia. Mereka membuktikan lirik punk tak harus kasar dan langsung, melainkan bisa jadi karya sastra penuh metafora, personifikasi, dan paradoks ilmiah yang cerdas.
Inti album ini ada pada dualitas judulnya. Banal melambangkan rutinitas harian yang membosankan dan kenyataan apa adanya. Binal justru keliaran imajinasi, pemberontakan pikiran, serta penolakan terhadap cara pandang biasa.
The Jansen memadukan puisi dengan istilah sains rumit dalam melodi yang memikat, menjadikan mereka pilar punk puitis Indonesia yang modern, pintar, dan tetap rebel.
Lagu “Langit Tak Seharusnya Biru” jadi fenomena viral karena cemerlang menggabungkan astronomi, fisika, dan sikap punk yang skeptis terhadap “kebenaran pasti”.
Liriknya ajak pendengar berpikir di luar kebiasaan dengan membedah realitas mata lewat ilmu pengetahuan. Secara ilmiah, langit tak punya warna biru bawaan—hanya hasil hamburan Rayleigh saat cahaya matahari tersebar di atmosfer.
Ini metafora punk untuk ragukan apa yang kita lihat begitu saja, biru yang kita kenal hanyalah distorsi optik, selaras dengan semangat menantang otoritas persepsi umum.
Lirik “Putih tak seharusnya cahaya” rujuk eksperimen Isaac Newton tahun 1665 yang buktikan cahaya putih sebenarnya spektrum warna terpisah.
The Jansen pakai ini untuk tunjukkan, di balik yang kelihatan sederhana tersimpan kerumitan tersembunyi.
Konsep dimensi keempat alias waktu, plus tahun cahaya, gambarkan imajinasi manusia tanpa batas—waktu dan jarak bukan lagi penghalang, tapi kanvas harapan melewati ramalan takdir.
Secara psikologis, lagu ini manifesto soal kehilangan dan asa. Saat “langit tak lagi biru” gara-gara duka, subjek pilih “melukis semesta” sendiri—tindakan memberontak lawan nasib yang ditentukan.
Lirik Lagu “Langit Tak Seharusnya Biru” – The Jansen
Merangkai langit dan samuderanya
Cahaya lama mu, kau bercanda
Rasi dan bintang nya
Seratus juta tahun terlewatkan
Ku ingin melukis semesta
Menuju garis tak terhingga
Ku ingin merubah dimensi
Mengorbit melintas galaksi
Langit tak seharusnya biru
Putih tak seharusnya cahaya
Ramalan dan mesin waktu
Seratus kata aku percaya, aku percaya
Merangkai langit dan samuderanya
Cahaya lama mu, kau bercanda
Rasi dan bintang nya
Seratus juta tahun terlewatkan
Ku ingin melukis semesta
Menuju garis tak terhingga
Ku ingin merubah dimensi
Mengorbit melintas galaksi
Langit tak seharusnya biru
Putih tak seharusnya cahaya
Ramalan dan mesin waktu
Seratus kata aku percaya, aku percaya
Merangkai langit dan samuderanya
Cahaya lama mu, kau bercanda
Rasi dan bintang nya
Seratus juta tahun terlewatkan
Ku ingin melukis semesta
Menuju garis tak terhingga
Ku ingin merubah dimensi
Mengorbit melintas galaksi
Langit tak seharusnya biruPutih tak seharusnya cahaya
Ramalan dan mesin waktu
Seratus kata aku percaya, aku percaya
Artikel ini diolah dari berbagai sumber dengan bantuan AI

