Artikel Berita
Beranda » Dari Garum tersenyum ke Nikita Jibril, jejak sejarah komunitas punk sejak 1996

Dari Garum tersenyum ke Nikita Jibril, jejak sejarah komunitas punk sejak 1996

Agung Hari Pujiharso di Kopian Minum-minum sini, Foto: Dok. Pribadi

Mendefinisikan Ulang Kebebasan di Pinggiran Rel

Senin pagi yang cerah, 16 Februari 2026 — Pukul 11.00 WIB, suasana hangat terasa di Kopian Minum-minum sini, Garum. Di warung sederhana itu, kisah panjang tentang lahirnya sebuah komunitas bernama Nikita Jibril dituturkan kembali oleh salah satu penggeraknya, Agung Hari Pujiharso.

Narasi besar punk di Indonesia sering kali hanya berhenti pada estetika visual, namun di Garum, komunitas

“Nikita Jibril” menulis cerita yang berbeda. Berawal dari tahun 1996, gerakan ini lahir dari kegundahan pemuda yang mendambakan kebebasan.

Alasan mengapa nasi uceng adalah “jiwa” kuliner Blitar

Alih-alih terjebak dalam hura-hura tanpa arah, mereka justru berevolusi menjadi sebuah lingkaran yang menjembatani keresahan jalanan dengan pencarian makna hidup yang melampaui penampilan luar.

Pesan Kebaikan dalam Sebuah “Communique”

Perjalanan identitas mereka cukup panjang. Sebelum dikenal dengan nama sekarang, mereka menamakan diri “Garum Tersenyum”, sebuah identitas lokal yang berakar kuat di Pasar Garum dan Stasiun Garum.

Namun, inspirasi baru datang dari nama anak vokalis band punk legendaris, Marjinal, yaitu Nikita Jibril.

Rahasia di balik tarawih kilat Blitar yang tetap eksis selama 100 tahun

Mereka pun menambahkan kata “Communique” di belakangnya, meski dengan bumbu humor khas jalanan. Si Mbah (Agung), salah satu sosok senior di sana, berseloroh tentang asal-usul kata tersebut. Bagi mereka, “Nikita” adalah akronim dari “Ini Kita”, sementara “Jibril” adalah simbol penyampai pesan.

“Nikita Jibril itu dalam artian makna menurut kita itu ‘Ini Kita Jibril’, menyampaikan pesan baik. Kita menambahkan ‘Communique’—itu kalau tidak salah bahasa Jerman atau Sansekerta, saya agak lupa. Yang intinya, ini loh komunitas kita menyampaikan pesan-pesan yang baik dan jujur.” — Si Mbah (Agung).

“Nikitasin”: Diplomasi Domestik demi Solidaritas Spiritual

Seiring waktu, para anggota komunitas ini pun menua. Rambut mohawk mungkin masih ada, tapi tanggung jawab rumah tangga mulai menyapa. Di sinilah lahir istilah unik “Nikitasin”, sebuah hibrida kreatif antara Nikita Jibril dan Yasinan. Setiap Rabu malam Kamis, mereka berkumpul bukan sekadar untuk nongkrong, melainkan untuk berdoa bersama.

Mengapa Blitar disebut “The land of kings”? ini sejarah dan maknanya

Di balik aksi spiritual ini, terselip kejujuran yang mengundang tawa tentang realitas laki-laki dewasa. Izin untuk keluar rumah bagi mereka yang sudah berkeluarga ternyata membutuhkan “diplomasi” tingkat tinggi.

“Alasannya itu supaya bisa keluar rumah. Kalau cuma pamit nongkrong atau band-bandan di usia sekarang, itu susahnya minta ampun. Izin ke istri itu rasanya lebih sulit daripada izin ke Kapolda, melebihi rumitnya mengurus BPJS. Tapi kalau alasannya yasinan dan tahlilan, jalannya jadi lancar.”

Namun, di balik candaan itu, ada misi mulia: mendoakan kawan-kawan seperjuangan yang sudah meninggal di jalanan—apakah karena kecelakaan, sakit, atau kerasnya hidup—serta mendoakan mereka yang masih berjuang mencari jalan hidup.

Menyingkap misteri Supriyadi lewat kesaksian keluarga di Blitar

Aksi sosial yang dilakukan Nikita Jibril adalah respons terhadap pendapat yang berbeda dari masyarakat. Mereka menunjukkan bahwa berada di dekat Pasar Garum sangat menguntungkan. Melalui berbagai cara, mereka mengubah ketakutan warga menjadi rasa hormat. Beberapa tindakan mereka di dunia nyata termasuk:

  • Kampanye Lingkungan: Secara teratur menjaga lingkungan bersih dan sehat
  • Berbagi Sosial: Mengumpulkan beras dan bahan pokok lainnya dari hasil swadaya untuk dibagikan kepada masyarakat yang membutuhkan
  •  Bedah Rumah: Bergotong-royong memperbaiki rumah warga yang hampir ambruk di lingkungan mereka.

Aksi-aksi ini dilakukan sebagai pembuktian bahwa “reaksi” positif lebih bermakna daripada sekadar mendebat omongan orang.

Kejujuran di balik tato: Melawan Korupsi dengan Kejujuran

Bagi Nikita Jibril, moralitas tidak bisa diukur dari sepotong kain. Si Mbah (Agung) menekankan sebuah paradoks sosial yang sering kita temui di layar televisi: banyak orang berpenampilan rapi dan berdasi, namun justru melakukan korupsi yang menyengsarakan rakyat.

Bumi Penataran 2026 hadirkan wajah baru seni dan budaya Blitar

Dalam kacamata mereka, lebih baik tetap tampil apa adanya sebagai anak punk dengan segala atributnya, selama hati dan tindakan tetap lurus.

Mereka memilih untuk “tetap begini saja” daripada berpura-pura rapi namun merugikan orang lain. Bagi komunitas ini, kejujuran pada diri sendiri adalah bentuk perlawanan tertinggi terhadap kemunafikan sistem.

Istiqomah dari “Komunitas Orang Gagal”

Ada sebuah pengakuan jujur namun provokatif dari mereka: Nikita Jibril adalah “komunitas orang gagal”. Dalam masyarakat yang terobsesi pada kesuksesan materi dan status sosial, mengklaim diri sebagai “orang gagal” adalah tindakan radikal. Ini adalah cara mereka menolak standar sukses yang semu.

Pagelaran seni tradisi meriahkan Paseban PIPP 2026

Meski menyebut diri tidak terstruktur dan tanpa pendaftaran resmi, mereka menunjukkan kedisiplinan yang luar biasa. Selama tiga tahun terakhir, kegiatan doa bersama setiap Rabu malam Kamis dilakukan secara istiqomah tanpa pernah libur sekalipun.

“Kita ini komunitas orang gagal. Tidak ada pendaftaran, tidak terstruktur, yang penting kumpul. Tapi hebatnya teman-teman, sudah tiga tahun rutin doa bersama tanpa libur.” — Si Mbah (Agung).

Anggotanya bersifat cair, mulai dari belasan orang pada rutinitas mingguan hingga ratusan orang yang datang dari luar wilayah kecamatan saat momen perayaan ulang tahun komunitas.

Gado-Gado Yami Sari Ayu, hidden gem di Sananwetan

Sebuah Renungan dari Garum

Kisah komunitas Nikita Jibril adalah pengingat bagi kita sebagai pengamat budaya populer bahwa subkultur bukan sekadar soal gaya hidup, melainkan cara manusia bertahan hidup dan mencari Tuhan dengan caranya sendiri. Di Garum, punk telah berevolusi menjadi gerakan yang humanis, spiritual, dan sangat lokal.

Mereka telah melewati fase pemberontakan tanpa arah dan kini menetap dalam fase pengabdian yang tulus.

Jika kebaikan dan solidaritas yang konsisten bisa lahir dari kelompok yang sering kita pinggirkan, masihkah kita berhak menghakimi integritas seseorang hanya dari apa yang ia kenakan di tubuhnya? Di sudut Garum, doa-doa yang dipanjatkan oleh tangan-tangan bertato adalah bukti bahwa pesan kebaikan tidak pernah salah alamat.

Drama kolosal PETA Blitar 2026 akan kembali dipentaskan, semangat patriotisme menyala di Hari Cinta Tanah Air

Berita Terbaru

×