Irama Budaya Blitar yang Tak Pernah Redup di Sentul
Blitar bukan cuma kota biasa di Jawa Timur. Ini “Kota Proklamator”, tempat peristirahatan terakhir Bung Karno. Kalau jalan di Jl. Ir. Soekarno, Kelurahan Sentul, telinga kita langsung disambut ketukan gendang dari pengrajin lokal. Di sini, Pusat Seni Pertunjukan Ikonik direncanakan dibangun, untuk jaga napas budaya di tengah arus globalisasi.
Gedung ini lahir dari “genius loci”—semangat tempat Sentul. Tradisi di sini hidup, bukan cuma pajangan museum. Bangunan ini akan jadi wadah agar budaya Blitar tetap relevan, menyatukan masa lalu dan masa kini.
Visi Desain
Filosofi utamanya: “Merajut akar tradisi dengan benang emas kreativitas”. Bukan slogan kosong, tapi janji ruang inklusif untuk wariskan seni lokal ke generasi muda. Tiga pilar kunci: wadah kesenian dan ikon budaya Blitar, ramah lingkungan selaras alam, serta estetika tinggi dari nilai lokal.
Inspirasi Candi Penataran
Desain terinspirasi Candi Penataran dari era Kediri-Majapahit, tapi direinterpretasi modern. Candi Angka Tahun beri geometri stabil untuk rasa abadi. Candi Naga tambah ornamen meliuk di fasad. Candi Induk atur hierarki ruang dari publik ke sakral. Candi dulu religius, sekarang ruang seni publik—sekuler tapi tetap khidmat.
Gaya Extending Tradition
Bangunan mainkan kontras berat-ringan: massa tradisional kokoh, dipotong transparansi modern. Elemen tradisional pakai geometri candi masif dan hiasan lokal. Modernnya baja tekstur kayu tahan lama plus kaca Maxifloat transparan. Skylight ala puncak candi ciptakan bayangan dramatis di lobi.
Desain Ramah Iklim
Sesuai cuaca Blitar (21-31°C): orientasi angin alami, rainwater harvesting, panel surya. Lanskap jadi ekosistem hidup. Pohon Tanjung (Mimusops elengi) beri peneduh wangi Jawa. Kiara Payung (Filicium decipiens) filter debu pedestrian. Lee Kwan Yaw (Vernonia elliptica) jadi tirai hijau fasad.
Kencana Ungu (Ruellia angustifolia) hias dan serap air. Rumput Gajah Mini (Axonopus compressus) jaga resapan tanah.
Nilai Spiritual
Dasar Islam: “Allah indah, suka keindahan” (HR Muslim). Riwayat Aisyah RA soal seniman Habasyah di masjid jadi pembenaran seni dalam akhlak. Interior auditorium pakai plafon bambu akustik, lampu warmwhite 3200K untuk suasana hangat.
Fasilitas Utama
- Auditorium: 400 kursi, audio digital, LED wall, spotlight 200W.
- Koridor Sejarah: Edukasi budaya Blitar dari purba ke kemerdekaan.
- Area Komersial: Ruko & kantin dukung pengrajin gendang Sentul.
- Ruang Latihan: Rias & ganti kostum lengkap.
Penutup
Ini bukan gedung biasa, tapi “ruh” yang satukan keindahan, sosial, dan akhlak. Kata arsitek Indra Kurniawan, “Keindahan yang bawa kebaikan”. Hadiah untuk Blitar 2026, selaras manusia-alam-tradisi.

