Artikel
Beranda » Pagelaran seni tradisi meriahkan Paseban PIPP 2026

Pagelaran seni tradisi meriahkan Paseban PIPP 2026

Barongan Sodo pertunjukan seni tradisi Paseban PIPP Blitar, Doc. Reza Wiga Perwana

Mengawali Minggu Budaya di Jantung Kota

Sore Minggu, 15 Februari 2026, jantung Kota Blitar bergemuruh alunan gamelan. Tabuhan kendang mantap bersahut dengan denting saron dan gong, memecah sunyi sambil undang ribuan warga merapat ke Paseban PIPP. Mulai pukul 13.00 WIB, area ini berubah jadi panggung raksasa, campur aduk tradisi kental dengan semangat modern.

Anak kecil sampai turis asing berdesak-desakan, mata melek lihat kostum warna-warni kontras bangunan megah Paseban. Atmosfer “Kota Patria” hidup betul!

Paseban PIPP: Pusat Seni Baru Blitar

Paseban PIPP bukan lagi sekadar pusat info wisata dan dagang. Tahun ini, Disbudpar Kota Blitar jadikan spot utama seni budaya, tepat di jalur menuju Makam Bung Karno. Ruang terbuka gratis ini biarkan komunitas seni—dari pelajar sampai mahasiswa—latih dan tampil tiap petang.

Alasan mengapa nasi uceng adalah “jiwa” kuliner Blitar

Tujuannya sederhana: dekatkan warisan leluhur ke publik, biar lestari meski zaman edan.

Sorotan Tarian: Jiwa Sejarah Hidup Kembali
Tiga tarian ikonik Blitar jadi bintang utama, bawa cerita filosofis dalam gerak dinamis:

Jaranan Eklek (ciptaan Munarsih, 1988): Ritual tolak bala dengan kuda kayu cerah, didominasi penari perempuan penuh energi—simbol keberanian spiritual.

Rahasia di balik tarawih kilat Blitar yang tetap eksis selama 100 tahun

Barongan Sodo: Boneka raksasa pelindung desa, campur drama dan musik untuk pesan harmoni manusia-alam gaib.

Tari Panalingga: Anggun teduh, gambar keselarasan dengan flora-fauna lokal, ajak syukuri alam Bumi Penataran.

Makna Patriotik dan Ramadan di Baliknya

Acara Februari ini pas banget sambut Hari Cinta Tanah Air, kenang pemberontakan PETA 14 Februari dengan tema “Alap-Alap Daidan”—burung rajawali simbol ketangguhan pejuang Blitar. Plus, warga sambut Ramadan lewat tradisi Unggahan, Megengan, dan kue Apem (dari “afwan” Arab, arti maaf-ampunan). Walikota Syauqul Muhibbin (Mas Ibin) ingatkan lewat “Jas Merah” Bung Karno: “Jangan lupa sejarah, anak-anak Blitar. Hayati dan teladani!”

Mengapa Blitar disebut “The land of kings”? ini sejarah dan maknanya

Ekonomi Hidup, UMKM Senyum Lebar
Seni ini dorong roda ekonomi lokal:

Omzet pedagang kaki lima dan UMKM naik dua kali lipat saat acara.

Branding Blitar kuat sebagai wisata budaya hidup, bukan cuma ziarah.

Generasi Z-Alpha dapat edukasi nasionalisme fun via seni.

Dari Garum tersenyum ke Nikita Jibril, jejak sejarah komunitas punk sejak 1996

Bu Siti Rukanah, pedagang kuliner, bilang: “Panggung begini bikin pengunjung betah, pendapatan saya dobel!”

Api Budaya Tetap Menyala
Kolaborasi Disbudpar-Dinsos dengan komunitas seni buktikan Blitar punya ekosistem budaya tangguh. Mari dukung karya lokal agar warisan tak pudar di angin modernitas. Indonesia maju, Blitar menyala!

Menyingkap misteri Supriyadi lewat kesaksian keluarga di Blitar

Berita Terbaru

×