Bagi sebagian besar penduduk bumi, 14 Februari adalah sinonim dari afeksi merah jambu, cokelat, dan seikat mawar. Namun, jika Anda melangkah ke Kota Blitar pada tanggal yang sama, atmosfer yang menyapa bukanlah romansa sentimentil, melainkan getaran dentuman mortir artifisial dan pekik “Merdeka!” yang membelah kesunyian malam di Monumen PETA.
Di sini, cinta tidak dirayakan secara personal, melainkan diproyeksikan melalui sebuah ikhtiar ideologis untuk menghormati pemberontakan militer paling ikonik dalam sejarah kemerdekaan kita.
1. Reklamasi Identitas: Dari “Valentine” Menjadi “Hari Cinta Tanah Air”
Pemerintah Kota Blitar melakukan sebuah manuver budaya yang berani dengan melakukan reklamasi identitas terhadap narasi global 14 Februari. Melalui Peraturan Wali Kota (Perwali) No. 10 Tahun 2023, tanggal tersebut secara resmi ditetapkan sebagai Hari Cinta Tanah Air.
Langkah ini bukan sekadar urusan administratif, melainkan sebuah strategi untuk mengalihkan euforia negatif yang sering menyertai Valentine’s Day menuju kegiatan yang lebih patriotik dan memiliki kedalaman karakter.
Tradisi ini menunjukkan keteguhannya saat pesta demokrasi melanda negeri pada 2024; masyarakat Kota Blitar tetap menyalakan api peringatan meski tanggal 14 Februari bertepatan dengan Pemilu, lalu secara sadar menggeser peringatan ke 17 Februari sebagai bukti bahwa mereka menempatkan nasionalisme sebagai prioritas yang tak tergoyahkan.
Plt Kepala Disbudpar Kota Blitar, Rike Rochmawati, menekankan bahwa mencintai bangsa adalah “bentuk cinta yang lebih tinggi” sebuah dedikasi yang dibuktikan oleh para prajurit PETA melalui pengorbanan nyawa.
“Kita deklarasikan bahwa 14 Februari bukanlah hari Valentine tapi sebagai Hari Cinta Tanah Air. Kami ingin anak muda tidak sekadar tahu sejarah, tapi meresapi semangat rela berkorban sebagai benteng karakter bangsa,” tegas Rike Rochmawati.
2. Estetika “Alap-Alap”: Kecepatan, Presisi, dan Keberanian Predator
Pada pementasan tahun 2026, Drama Kolosal PETA mengusung tema spesifik: “Alap-Alap Daidan PETA Blitar”. Tema ini menandai pergeseran naratif yang signifikan. Jika tahun sebelumnya, “Dharma Kesatria Bumi Pertiwi” (2025), masih menyelipkan subplot cinta personal Shodanco Supriyadi, versi 2026 ini sepenuhnya berfokus pada grit (keteguhan) dan heroisme murni pasukan PETA dalam melawan penjajah.
Alap-alap (burung Falcon/Rajawali) dipilih sebagai metafora taktis pasukan PETA. Burung predator ini melambangkan kecepatan dalam menyergap, presisi dalam strategi, dan keberanian yang tidak mengenal rasa takut. Menariknya, pementasan ini tidak menggunakan gaya realis yang kering, melainkan pendekatan sastrawi dan non-realis.
Terinspirasi oleh napas puitis Chairil Anwar dan Usmar Ismail, pertunjukan ini bertransformasi menjadi “estetika perlawanan” yang magis. Pendekatan teatrikal seperti ini terbukti jauh lebih efektif dalam menangkap imajinasi Generasi Z dibandingkan narasi sejarah konvensional yang cenderung membosankan.
3. Pengkhianatan terhadap “Janji Samurai” Memicu Tragedi
Drama ini menghidupkan kembali inti emosional dari pemberontakan 14 Februari 1945. Di tengah penderitaan rakyat akibat sistem romusha dan perampasan hasil bumi, para perwira muda PETA Blitar memilih untuk memberontak. Namun, puncak tragedi ini terletak pada momen diplomasi yang berakhir dengan pengkhianatan pahit.
Setelah perlawanan sengit, Kolonel Katagiri membujuk pasukan PETA untuk kembali ke markas dengan menjanjikan keamanan tanpa tindakan hukum. Sebagai jaminan, Katagiri menyerahkan pedang samurainya kepada Shodanco Muradi sebuah simbol kehormatan militer tertinggi Jepang.
Namun, “Janji Samurai” itu ternyata hanyalah siasat busuk. Begitu mereka kembali, pasukan PETA justru dikepung, ditangkap, dan diseret ke Mahkamah Militer Jakarta untuk menerima vonis mati.
Beberapa tokoh kunci yang narasi perjuangannya diabadikan dalam palagan ini antara lain:
- Shodanco Supriyadi: Pemimpin utama yang sosoknya tetap misterius dan menjadi ikon patriotik Blitar.
- Shodanco Muradi: Komandan pertempuran yang memimpin unit taktis terkuat.
- Shodanco Partoharjono: Tokoh heroik yang dengan gagah berani mengganti bendera Jepang dengan Sang Merah Putih di markas PETA.
- Semangat mereka terekam dalam dialog ikonik yang membakar adrenalin: “Merdeka kalau bukan sekarang kapan lagi, tak ada jalan lain kita harus melawan!”
4. Melibatkan 200+ Gen Z sebagai Pemilik Narasi
Selain itu, pementasan ini bukan sekadar tontonan pasif, melainkan proses partisipatif yang melibatkan lebih dari 200 peserta, mayoritas adalah pelajar dan seniman muda dari Sanggar Patrialoka serta berbagai sekolah di Blitar. Selama satu bulan penuh, mereka menjalani latihan intensif untuk menghidupkan kembali memori kolektif tahun 1945.
Keterlibatan langsung generasi muda sebagai pemeran adalah cara terbaik untuk melawan “disrupsi digital”. Di tengah bombardir budaya luar, menjadi bagian dari pementasan sejarah membuat mereka merasa memiliki narasi bangsa sendiri.
Mereka tidak hanya menonton sejarah; mereka “menghidupinya”. Ini adalah proses engagement-driven yang membangun solidaritas dan rasa bangga terhadap identitas lokal di tengah arus globalisasi.
5. Visi Masa Depan: Membangun Infrastruktur “Memoria Collective”
Peringatan Hari Cinta Tanah Air ini hanyalah pintu masuk dari proyek “infrastruktur memori” yang lebih besar. Pemerintah Kota bersama Yayasan Pembela Tanah Air (YAPETA) tengah menggarap beberapa proyek strategis untuk memperkuat citra Blitar sebagai Kota Pejuang di level nasional:
- Sinema Sejarah: Rencana produksi film biopik berjudul “Soeprijadi Sang Pemberontak” untuk membawa narasi ini ke layar lebar nasional.
- Pendidikan Patriotik: Inisiasi pembangunan SMA Taruna Nusantara di Blitar guna melembagakan nilai-nilai kedisiplinan dan semangat PETA.
- Destinasi Nasional: Pengembangan Museum PETA, termasuk optimalisasi menara pantau dan penambahan koleksi alutsista (senjata laras panjang), agar menjadi destinasi wisata sejarah kelas dunia.
Sejarah PETA Blitar bukan sekadar catatan usang yang tersimpan di arsip berdebu; ia adalah api yang terus dinyalakan setiap tahun di pelataran Monumen PETA agar tidak padam di tangan generasi mendatang. Melalui drama kolosal, Blitar membuktikan bahwa sejarah bisa tampil segar, relevan, dan menggetarkan.
Saat dunia sibuk dengan perayaan kasih sayang yang bersifat fana, warga Blitar memilih untuk merayakan cinta yang abadi: cinta kepada tanah air. Pertanyaannya bagi kita di era modern 2026 ini: Di tengah kenyamanan digital dan kepungan budaya global, masihkah kita memiliki “Janji Samurai” pada diri sendiri untuk menjaga kedaulatan bangsa? Jika Anda mencari jawabannya, datanglah ke Blitar setiap 14 Februari dan rasakanlah getaran Palagan Alap-Alap.
Artikel ini diolah dari berbagai sumber dengan bantuan AI

