Artikel
Beranda » Saat Blitar diselimuti abu: Cerita letusan besar Kelud tahun 2014

Saat Blitar diselimuti abu: Cerita letusan besar Kelud tahun 2014

gambar Gunung Kelud (Foto: Google Maps/Rizky Afreza Febryanto)

Malam 13 Februari 2014 menjadi salah satu momen paling mencekam dalam sejarah erupsi Gunung Kelud. Saat sebagian masyarakat bersiap menyambut Hari Valentine, alam justru menulis kisah lain yang jauh lebih dahsyat. Langit yang semula terang oleh cahaya bulan purnama perlahan berubah gelap ketika status aktivitas gunung melonjak dari Siaga menjadi Awas dalam hitungan jam.

Dentuman keras terdengar hingga wilayah seperti Surabaya, Yogyakarta, Solo, hingga Purbalingga. Letusan ini menjadi pengingat bahwa Kelud merupakan salah satu gunung api paling aktif di Pulau Jawa.
Berikut enam fakta penting yang merekam kedahsyatan erupsi tersebut.

1. Ledakan Plinian yang Menembus Stratosfer

Erupsi 2014 tergolong letusan tipe Plinian yang sangat eksplosif. Berdasarkan data PVMBG, kolom abu vulkanik mencapai ketinggian sekitar 17 kilometer dan menembus lapisan stratosfer. Letusan kecil mulai terjadi pada pukul 22.50 WIB dan mencapai puncaknya pukul 23.29 WIB.

Kendang jimbe di Blitar: industri kreatif lokal

Aktivitas kegempaan menunjukkan akumulasi energi besar dengan ratusan gempa vulkanik dangkal dan dalam sebelum ledakan utama terjadi. Radius bahaya ditetapkan hingga 10 kilometer dari kawah.
Fenomena ini memperlihatkan bagaimana energi yang tersimpan selama bertahun-tahun dapat dilepaskan hanya dalam waktu singkat.

2. Lumpuhnya Jalur Transportasi Udara Jawa

Dampak letusan tidak hanya dirasakan di sekitar gunung. Abu vulkanik menyebar hingga lebih dari 700 kilometer mencapai wilayah seperti Bandung dan Ciamis. Tujuh bandara besar di Pulau Jawa terpaksa ditutup, termasuk Bandara Internasional Juanda.

Aktivitas penerbangan lumpuh total dan menyebabkan kerugian ekonomi besar. Di Yogyakarta, jarak pandang turun drastis hingga hanya beberapa meter. Situs bersejarah seperti Candi Borobudur dan Candi Prambanan bahkan harus ditutup terpal untuk melindungi struktur batu dari kerusakan abu vulkanik.

Hal yang mungkin belum kamu tahu tentang Jembatan Trisula di Blitar Selatan

Selain itu, beban abu yang bercampur air hujan menyebabkan banyak atap bangunan ambruk. Sektor pertanian mengalami kerugian besar, terutama di wilayah Kediri dan Batu.

3. Runtuhnya Kubah Lava “Anak Kelud”

Sejak 2007, terbentuk kubah lava yang dikenal sebagai Anak Kelud. Struktur ini menutup saluran magma dan menjadi karakter unik aktivitas gunung tersebut.

Namun, erupsi 2014 menghancurkan kubah lava tersebut hanya dalam satu malam. Material padat yang terbentuk selama tujuh tahun hancur menjadi abu dan kerikil. Pasca-erupsi, kawah kembali terisi air dan membentuk danau baru yang menjadi wajah Kelud saat ini.

Blitar menyambut Ramadan 2026: antara ketegasan dan tenggang rasa

4. Sengketa Wilayah yang Diwarnai Ironi Alam

Menjelang erupsi, status kepemilikan administratif Kelud menjadi sengketa antara Kediri dan Blitar. Ironisnya, wilayah yang ikut terdampak besar justru daerah yang jauh dari pusat sengketa.

Peristiwa ini menjadi refleksi bahwa fenomena geologi tidak mengenal batas wilayah administratif. Aktivitas alam bergerak mengikuti mekanisme bumi, bukan garis batas manusia.

5. Trauma Psikologis Penyintas

Dampak erupsi tidak hanya terlihat secara fisik, tetapi juga meninggalkan luka psikologis. Penelitian di Dukuh Kali Bladak menunjukkan sekitar 66,6 persen warga mengalami gejala Post-Traumatic Stress Disorder (PTSD).

Dari megengan ke bukber modern: Wajah ramadan 2026 di Blitar

Penyintas mengalami ketakutan berulang ketika mendengar suara keras, kecemasan berlebihan, serta gangguan emosional. Kelompok yang paling rentan adalah perempuan dan lansia. Fakta ini menegaskan pentingnya rehabilitasi mental dalam penanganan pascabencana.

6. Filosofi Lokal dan Legenda Sumpah Lembu Suro

Masyarakat lereng Kelud mengenal konsep “Jaman Bendhu”, yakni masa kemarahan alam yang sering dikaitkan dengan legenda Sumpah Lembu Suro yang dipercaya mempengaruhi wilayah Kediri, Blitar, hingga Tulungagung.

Meski begitu, masyarakat memandang abu vulkanik sebagai berkah. Abu dipercaya membawa kesuburan tanah yang mendukung pertanian dalam jangka panjang. Kearifan lokal ini menjadi cara masyarakat berdamai dengan siklus bencana alam.

Masjid ar-rahman: suasana madinah di Jawa Timur

Belajar Hidup Berdampingan dengan Alam

Erupsi Kelud 2014 menunjukkan pentingnya integrasi teknologi pemantauan bencana dan kesiapsiagaan masyarakat. Berkat sistem pemantauan modern, jumlah korban jiwa dapat ditekan secara signifikan.

Saat ini, kawasan kawah kembali terlihat tenang dan menjadi destinasi wisata. Namun, potensi bahaya seperti gas fumarol dan erupsi freatik tetap ada. Kesadaran mitigasi bencana menjadi kunci agar masyarakat mampu hidup berdampingan dengan aktivitas alam yang terus berlangsung.


Artikel ini diolah dari berbagai sumber yang dibantu AI

Tradisi unik masyarakat Blitar menyambut Ramadan

Berita Terbaru

×