Table of Contents−
Pernahkan mendengar narasi publik yang menyebut Generasi Z sulit memiliki rumah karena terlalu sering menghabiskan Rp50.000 untuk segelas iced latte?
Bagi Gen Z, ngopi bukan sekadar gaya hidup konsumtif, tetapi adalah ritual identitas di tengah ketidakpastian. Berikut adalah empat analisis mengenai alasan sosiologis di balik budaya ngopi Gen Z saat ini.
1. Kopi Sebagai “Mekanisme Koping” dan Siklus Kecemasan
Banyak Gen Z mengunjungi kafe bukan demi kafein, melainkan sebagai misguided coping mechanism (mekanisme pelarian yang kurang tepat).
Pakar psikologi dari Universitas 17 Agustus 1945 (Untag) Surabaya, Diah Sofiah, menjelaskan bahwa aktivitas ini sering kali dilakukan untuk mengalihkan pikiran dari tekanan akademik maupun beban personal yang berat.
Dalam kacamata psikologi klinis, fenomena ini bersinggungan dengan diagnosis dalam DSM-5 (Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders edisi kelima).
Meskipun kafe dianggap sebagai third place yang memberikan kontrol semu, konsumsi kopi berlebihan justru berisiko memicu caffeine intoxication dan caffeine withdrawal yang memperburuk kualitas tidur serta kesehatan mental.
Diah Sofiah menyoroti perbedaan antara state anxiety (kecemasan situasional) dan trait anxiety (kecemasan sebagai bagian kepribadian) melalui perspektif berikut.
“Kecemasan sebenarnya bentuk rasa takut, tetapi objeknya tidak spesifik. Ketidakjelasan itulah yang membuat respons emosional menjadi lebih berat.”
Pelarian ke kafe ini sering kali menciptakan anxiety cycle, yakni kecemasan memicu perilaku penghindaran (ke kafe), yang berujung pada penundaan tugas, yang pada akhirnya meningkatkan kecemasan karena beban pekerjaan yang kian menumpuk.
2. Membangun Identitas Lewat Dimensi AIO
Dalam teori konsumsi simbolik Jean Baudrillard, kopi telah bergeser dari sekadar produk menjadi “nilai tanda.” Bagi Gen Z, gaya hidup mereka diukur melalui dimensi AIO (Activity, Interest, Opinion).
Aktivitas ngopi bukan soal rasa, melainkan soal kepentingan (interest) untuk diakui dan opini publik terhadap citra diri mereka.
Data dari penelitian Sri Mirayani menunjukkan angka yang mengejutkan yakni, 67,2% dari variasi keputusan konsumsi Gen Z dapat dijelaskan oleh aktivitas media sosial. Ritual digital ini sering disebut “memberi makan media sosial” menjadikan kemasan estetik dan suasana kafe sebagai instrumen utama pembangunan identitas digital.
Di platform seperti Instagram dan TikTok, secangkir kopi adalah simbol status yang mengonfirmasi bahwa mereka “hadir” dan “relevan” dalam strata sosial modern.
3. Kafe sebagai Simulasi Ruang Kerja Ideal
Fenomena Work From Cafe (WFC) adalah perwujudan dari konsep Simulakrum dan Hiperrealitas. Kafe seperti Dua Asa Coffee di Banjarmasin yang mengusung konsep industrial, sengaja merancang ruangnya untuk menyimulasikan ruang kreatif modern.
Melalui fasilitas sofa, AC, dan musik trendi, kafe menciptakan realitas yang terasa lebih “nyata” dan menyenangkan dibandingkan perpustakaan yang kaku.
Jurnal Ilmu Sosial, Humaniora dan Seni (JISHS) mencatat pergeseran ini.
“Kafe menawarkan simulasi ruang belajar yang dianggap lebih fleksibel dan menarik dibandingkan perpustakaan yang mungkin memberikan kesan kaku, formal, serta memiliki aturan ketat seperti dilarang membawa makanan atau dilarang berisik.”
Akibatnya, batas antara ruang santai dan ruang produktif menjadi kabur. Mahasiswa merasa lebih bersemangat dan kreatif karena suasana kafe telah direkayasa secara visual untuk memberikan kesan produktivitas tinggi, meskipun secara fungsional itu adalah ruang konsumsi.
4. FOMO dan Ancaman “Identity Erasure”
Penelitian dari jurnal EDU SOCIATA mengungkapkan bahwa aktivitas nongki di coffee shop didorong kuat oleh fenomena Fear Of Missing Out (FOMO).
Di era digital, FOMO bukan sekadar takut ketinggalan tren, melainkan ketakutan akan “identity erasure” atau penghapusan identitas.
Jika seorang anggota Gen Z tidak mampu “hadir” dalam pengalaman yang sedang viral di Instagram. Mereka merasa kehilangan pengakuan sosial dan terasing dari komunitasnya.
Tekanan untuk terus mengunggah momen estetik di kafe viral sering kali memicu kecemasan sosial. Di balik foto-foto kopi yang tenang, terdapat perjuangan mental untuk terus mempertahankan eksistensi dalam arus gaya hidup yang serba cepat.
Navigasi di Tengah “Paradox of Place”
Budaya ngopi Gen Z adalah campuran kompleks antara kebutuhan emosional, pencarian identitas, dan respons terhadap ketidakpastian. Kita sering melihat fenomena ini di kota-kota seperti Yogyakarta, di mana kafe-kafe overpriced tetap ramai meski UMP-nya rendah.
Inilah yang disebut “Paradox of Place”. Ruang sosial yang tersegregasi secara ekonomi, di mana kafe menjadi “oasis” bagi kelas menengah baru dan mahasiswa, sementara masyarakat lokal sering kali hanya menjadi penonton.

