Artikel
Beranda » Fenomena pasar Blitar jelang ramadan 2026

Fenomena pasar Blitar jelang ramadan 2026

pedagang di pasar (sumber foto: web Pemkot Blotar)
Menjelang Ramadan 1447 H, denyut nadi perekonomian di Blitar mulai berakselerasi. Warga mulai memadati pasar-pasar tradisional seperti Pasar Legi dan Pasar Kanigoro untuk mengamankan stok dapur.
Namun, sebuah paradoks menarik tertangkap di lapangan. Satu sisi, operasi pasar beras murah justru tidak memicu antrean panjang yang dramatis, namun di sisi lain, komoditas bumbu dapur dan protein meroket hingga memaksa para ibu rumah tangga memutar otak lebih keras.
Fenomena ini memotret dinamika pasar yang unik sebuah transisi musiman di mana ketersediaan stok pangan pokok tetap terjaga, namun tekanan inflasi pada komoditas “pendamping” menjadi masalah baru di meja makan.

Paradoks Beras SPHP: Mengapa 2 Ton Tak Habis dalam Sekejap?

Pemandangan kontras terlihat dalam Operasi Pasar yang baru-baru ini digelar oleh Disperindag Kabupaten Blitar. Pemerintah menyediakan 2 ton beras Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) serta stok minyak goreng subsidi.
Meski dibanderol Rp57.000 per 5 kilogram jauh di bawah harga pasar yang menyentuh Rp65.000 dan MinyaKita yang dijual Rp14.700 per liter, stok tersebut tidak langsung ludes dalam hitungan jam.
Rendahnya antusiasme ini bukan menandakan daya beli yang melemah, melainkan indikasi dari kepercayaan masyarakat terhadap stabilitas stok. Ketika pasokan dianggap aman, kecenderungan untuk melakukan panic buying menurun drastis.
Namun, sebagai analis, kita perlu mencatat hal tak biasa. Meski harga stabil, pasokan beras premium dan minyak goreng di rak-rak retail justru terpantau menurun hingga 50 persen. Kondisi ini menunjukkan bahwa sementara intervensi pemerintah berhasil menenangkan psikologi pasar, rantai pasok komoditas premium mulai merasakan tekanan permintaan.
Kepala Disperindag Kabupaten Blitar, Darmadi, mengonfirmasi bahwa kondisi psikologis pasar saat ini relatif terkendali.
“Kondisi stok dan harga kebutuhan pokok saat ini cenderung stabil. Hal tersebut berpengaruh pada tingkat antusiasme masyarakat yang tidak terlalu tinggi dalam mengikuti operasi pasar. Selain itu, pasokan juga aman,” pungkas Darmadi.

Krisis Cabai: Lonjakan 75 Persen dan Pengaruh Dapur MBG

Berbanding terbalik dengan beras, area bumbu dapur justru menjadi sumber kecemasan. Cabai rawit mengalami lonjakan harga drastis, melompat dari kisaran Rp50.000 menjadi Rp80.000 hingga Rp90.000 per kilogram dalam sepekan terakhir. Kenaikan ini mencapai angka fantastis, yakni 75%.
Hasil analisis menunjukkan adanya faktor eksternal baru, yakni pengaruh Dapur MBG (Makan Bergizi Gratis).
Meningkatnya permintaan skala besar untuk kebutuhan program tersebut, ditambah serangan penyakit tanaman dan cuaca ekstrem, membuat hasil panen di tingkat petani lokal menyusut. Tak hanya cabai, bumbu dapur lain pun ikut memanas.
• Bawang merah, sempat turun namun kembali berfluktuasi di angka Rp40.000/kg.
• Tomat, naik dari Rp6.000 menjadi Rp7.000/kg.
• Daun Bawang, melonjak dari Rp12.000 menjadi Rp16.000/kg.
Meski demikian, ada titik terang bagi konsumen. Data Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) menunjukkan adanya potensi panen raya di wilayah Blitar Selatan pada bulan Maret mendatang dengan luasan mencapai 7.000 hektare. Panen ini diharapkan menjadi faktor penyeimbang harga saat memasuki pertengahan Ramadan.

Dilema Daging Ayam: Efek Domino Harga Pakan

Sektor protein juga mengalami tekanan serupa. Temuan Satgas Pangan menunjukkan harga daging ayam potong kini mencapai Rp42.000 per kilogram. Kenaikan ini bukan sekadar fenomena musiman “momen unggahan” (tradisi menjelang puasa), melainkan akibat kenaikan biaya produksi di tingkat hulu.
Berdasarkan pantauan, berikut rincian kenaikan komoditas protein.
1. Daging ayam, naik sekitar 13,5% (dari Rp37.000 ke Rp42.000/kg).
2. Telur ayam, naik di kisaran 11%.
Ketua Satgas Pangan Kota Blitar, AKP Rudi Kuswoyo, menjelaskan bahwa akar masalah berada pada rantai pasokan pakan yang mulai membebani para peternak.
“Keterangan dari supplier, kenaikan terjadi karena harga pakan juga sedikit mengalami kenaikan seminggu terakhir. Sedangkan penjual di pasar mengikuti harga dari supplier, tapi rata-rata harganya sama sekitar Rp 42 ribu per kilogram,” jelas AKP Rudi Kuswoyo.

Strategi Pemerintah: Pengawasan Ketat dan Mitigasi GPM

Pemerintah Kabupaten dan Kota Blitar tidak tinggal diam. Satgas Pangan dari Polres Blitar Kota bersama DKPP terus melakukan inspeksi mendadak (sidak) ke sejumlah supplier dan pasar tradisional. Fokus utama mereka adalah memastikan tidak ada praktik penimbunan atau spekulasi harga yang tidak wajar.
Sebagai langkah mitigasi konkret, pemerintah telah menyiapkan Gerakan Pangan Murah (GPM). Instrumen ini dirancang untuk menyediakan bahan pangan pokok di bawah Harga Eceran Tertinggi (HET).
Pemerintah terus mengimbau warga untuk tetap tenang. Pasokan secara umum masih mencukupi meski terjadi fluktuasi pada komoditas tertentu.


Artikel diolah dari berbagai sumber dengan bantuan AI

Kendang jimbe di Blitar: industri kreatif lokal

Berita Terbaru

×