Di mini hall Kantor Kementerian Agama Kota Blitar, Kamis (12/02/2026), Kementerian Agama Kota Blitar mengadakan rapat koordinasi untuk persiapan Rukyatul Hilal Awal Bulan Ramadan 1447 Hijriyah atau 2026 Masehi. Untuk memastikan kesiapan teknis dan administratif pelaksanaan pemantauan hilal, rapat tersebut melibatkan jajaran terkait.
Habiburrohman, Kepala Seksi Bimas Islam Kemenag Kota Blitar, menyatakan bahwa rukyatul hilal di Kota Blitar akan diadakan pada Selasa, 17 Februari 2020, pukul 17.30 WIB. Pemantauan akan dilakukan di lokasi yang sama seperti tahun sebelumnya, di Rooftop Hotel Santika Blitar lantai 9, Jalan Ir. Soekarno, Kota Blitar.
Menurutnya, dia tidak akan bergabung dengan Kabupaten Blitar tahun ini dan akan menggelar sendiri di lokasi baru di Kota Blitar
Secara nasional, rukyatul hilal juga dijadwalkan serentak pada tanggal yang sama oleh pemerintah melalui Kementerian Agama Republik Indonesia bekerja sama dengan berbagai organisasi kemasyarakatan Islam, seperti Lembaga Falakiyah Nahdlatul Ulama (LFNU), serta sejumlah lembaga pendidikan.
Metode hisab (perhitungan astronomi) dan rukyat (observasi langsung di lapangan) digunakan dalam upaya ini untuk menentukan awal Ramadan 1447 Hijriah.
Tiga Lokasi Resmi Rukyatul Hilal di Blitar
Terdapat tiga titik strategis untuk mengamati hilal di wilayah Blitar berdasarkan pemetaan astronomis dan kesiapan fasilitas:
1. Rooftop Hotel Santika (Kota Blitar)—Gedung sembilan lantai ini memiliki pandangan terbuka ke arah barat dengan sedikit hambatan visual.
2. Bukit Banjarsari (Kabupaten Blitar) berada di Kecamatan Wonotirto dan merupakan lokasi pantau alami yang digunakan setiap tahun karena medannya yang terbuka.
3. Rooftop RSUD Ngudi Waluyo Wlingi (Kabupaten Blitar) terletak di wilayah timur Kabupaten Blitar dan merupakan lokasi strategis untuk meningkatkan data hasil rukyat dari wilayah selatan.
Instrumen Pengamatan: Tradisional hingga Modern
Dalam praktik ilmu falak, berbagai instrumen digunakan untuk membantu mendeteksi hilal yang sangat tipis di ufuk barat. Di antaranya:
• Gawang Lokasi (Bektang) terdiri dari gawang besi (Djambek Tangsoban) dan tiang pembidik dengan jarak ideal sekitar 5 meter. Efektif untuk memfokuskan pandangan menggunakan sumbu azimuth (horizontal) dan vertikal.
• Teleskop portabel adalah perangkat optik kontemporer yang biasanya dilengkapi dengan motor penggerak otomatis yang memungkinkan mereka untuk mengamati benda langit. Teleskop digunakan untuk “mengumpulkan cahaya hilal yang redup,” menurut Thomas Djamaluddin, seorang astronom.
• Filter Near Infrared meningkatkan kontras hilal dengan mengurangi hamburan cahaya matahari di sekitar ufuk.
• Sensor citra digital/CCD yang terhubung ke perangkat lunak pengolah gambar memungkinkan pemahaman yang lebih baik tentang bentuk bulan sabit.
Prosedur Penentuan Awal Ramadan
Penentuan awal Ramadan mengikuti tahapan ketat:
Observasi dan Laporan: Tim melakukan pengamatan sebelum matahari terbenam dan melaporkan hasilnya langsung ke Kantor Wilayah Kemenag Provinsi Jawa Timur.
Integrasi Data Hisab dan Rukyat: Perhitungan astronomi digunakan untuk memastikan kesesuaian posisi azimuth dan ketinggian bulan.
Sidang Isbat Nasional—Forum resmi penetapan awal Ramadan oleh pemerintah—diselenggarakan di Auditorium H.M. Rasjidi, Gedung Kementerian Agama, Jakarta, mulai pukul 16.00 WIB. Sidang ini membahas semua laporan dari berbagai daerah..
Menanti Pengumuman Resmi
Diharapkan bahwa sinergi teknik tradisional dengan teknologi modern di tiga lokasi strategis Blitar akan menghasilkan data yang akurat dan dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah. Sebelum pemerintah menetapkan awal puasa Ramadan 1447 Hijriah, masyarakat diminta untuk menunggu hasil resmi Sidang Isbat.
Diharapkan pelaksanaan rukyatul hilal di Blitar pada 17 Februari 2026 berjalan lancar dan memberi umat Islam kepastian waktu ibadah.
Artikel ini diolah dari berbagai sumber yang dibantu AI

