Selasa pagi, 10 Februari 2026, udara di “Bumi Bung Karno” terasa lebih hidup daripada sebelumnya.
Di depan Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Kota Blitar, yang terletak di Jalan Ir. Soekarno, suara ribuan orang yang bersiap untuk menyongsong Ramadhan 1447 H.
menggantikan deru kendaraan yang biasanya mendominasi jalan-jalan kota. Menurut saya, “GEMA SORAMADU” (Gerakan Bersama Songsong Ramadhan, Mensyiarkan Agama, Dekatkan Umat) adalah lebih dari sekadar pawai biasa.
Momentum ini hadir sebagai jangkar spiritual—sebuah oase kebersamaan yang mendamaikan batin warga kota—di tengah gempuran kesibukan modern yang kerap memisahkan kita secara sosial.
Kekuatan dalam Angka: Tanda Persamaan Generasi
Dalam banyak kasus, tingkat partisipasi sebuah gerakan menentukan daya pikatnya. Tahun ini, sekitar 4.000 orang memasuki ruang publik bersama. Mereka adalah wakil ukhuwah Islamiyah yang kuat di Kota Blitar, bukan hanya massa.
Peserta tidak hanya berasal dari sekolah umum, tetapi lebih banyak berasal dari lingkungan Madrasah, mulai dari MI hingga MTS.
Mereka bersanding dengan mahasiswa dan organisasi masyarakat besar seperti NU dan Muhammadiyah, serta badan otonomnya seperti Fatayat, Muslimat, dan Aisyiyah.
Kehadiran orang dari berbagai generasi di Blitar menunjukkan bahwa nilai-nilai religius masih kuat di hati Gen Z dan Alpha. Ini bukan hanya data statistik, tetapi juga modal sosial yang menunjukkan bahwa tradisi menyambut bulan suci masih menjadi identitas kolektif yang dibanggakan.
“Ketua Pelaksana Gema Soramadu, Habib Nurohman, menyatakan, “Gema Soramadu bertujuan untuk memberikan syiar Islam sekaligus menumbuhkan rasa bahagia dalam menyambut datangnya Bulan Suci Ramadhan. Kami memeriahkannya bersama melalui kegiatan pawai.”
Integritas Integrasi: Keselarasan “Lahir dan Batin”
Sebagai jurnalis, saya Ferry Meisiano menemukan aspek yang lebih mendalam dalam pelaksanaan tahun ini: gagasan “bersih lahir dan batin.” Ribuan orang melakukan pembersihan lahir atau syiar di jalan, sementara Kemenag Kabupaten Blitar melakukan “pembersihan batin” administratif di Aula MAN 2 Blitar.
Forum yang dipimpin oleh Syaikhul Munib menandatangani Perjanjian Kinerja dan Pakta Integritas, dan Mars Zona Integritas diluncurkan.
Ini adalah pesan yang sangat kuat bagi publik. Menyambut Ramadhan tidak hanya soal parade visual, tetapi juga soal pembenahan kualitas pelayanan publik. Komitmen moral para aparatur negara untuk bekerja secara transparan diposisikan sebagai bentuk ibadah nyata.
Ramadhan di sini menjadi momentum untuk memastikan bahwa keselarasan antara ucapan dan perilaku sehari-hari benar-benar terwujud dalam pelayanan umat.
Kinerja yang luar biasa sejalan dengan pakta integritas dan perjanjian kinerja diharapkan. Kepala Kantor Kemenag Kabupaten Blitar, Farmadi, menyatakan bahwa seorang pemimpin harus mampu memberi contoh yang baik.
“Ruang Perjumpaan”: Mengeksplorasi Pusat Sejarah Kota
Peserta start finish didepan Kantor Kemenag Kota Blitar melewati rute pawai yang panjangnya 3,15 kilometer dengan hati-hati. Dimulai dari gerbang historis Jalan Ir. Soekarno, peserta melewati Jalan Jenderal Sudirman, Ahmad Yani, dr.
Soetomo, Sultan Agung, dan melewati Perempatan Diponegoro dan Jalan Sudanco Supriyadi. Rute ini adalah “arteri” utama yang menghubungkan sejarah dan aktivitas ekonomi Kota Blitar.
Setiap langkah yang diambil oleh peserta di rute ini berfungsi sebagai doa yang menyapa ruang publik secara langsung. Strategi “menyapa ruang” ini dapat membuat jalanan yang biasanya dingin karena kebanggaan berkendara menjadi hangat dengan salam hangat.
Pesan Ramadhan tidak hanya tersimpan di dalam masjid, tetapi juga mengalir di jalan protokol, meningkatkan mood kota.
Seni Islami: Menjembatani Energi Muda dan Tradisi
Penampilan seni yang enerjik Gema Soramadu adalah salah satu puncak estetika. Tari Saman yang dibawakan oleh delegasi MTsN 2 Kota Blitar memukau dengan kecepatan dan filosofi sinkronisasi yang menunjukkan kekuatan berjamaah. Selain itu, Tari Zapin menunjukkan bagaimana akar budaya Melayu-Islam masih relevan.
Ekspresi seni ini adalah media syiar terbaik bagi generasi muda. Tradisi keagamaan tidak lagi dianggap sebagai sesuatu yang kaku; sebaliknya, mereka melihatnya sebagai festival kebudayaan yang memberi mereka rasa belonging.
Kegembiraan menyambut Ramadhan diubah menjadi koreografi yang indah dan menginspirasi oleh para pelajar ini.
Memberikan Penghargaan kepada Para Penggerak Transformasi
Orang-orang yang bekerja di balik layar adalah penyebab syiar agama di Blitar. Gema Soramadu juga memberikan penghargaan kepada para inovator keagamaan selama tahun 2024–2025.
Beberapa nama disebut sebagai bukti keahlian:
Nuril Alamin, M.Ag. (Kepala KUA Kademangan): Dia diberi penghargaan untuk pelayanan pernikahan terbaik dalam kategori digitalisasi.
Arif Syamroni, MM adalah penyuluh terbaik yang menunjukkan kepedulian nyata terhadap pelestarian lingkungan hidup.
Hermazusti, M.Ag.: Penyuluh paling berpengalaman dalam penggunaan media sosial sebagai alat komunikasi kontemporer.
Khusnul Khuluk, M.Pd., yang bertugas sebagai Kepala MAN 1 Blitar: Kepala Madrasah Terbaik
Muhaimin, M.Ag. (Kepala KUA Wlingi): yang terbaik dalam mengelola dan mengelola KUA. Fatati
Nuryana, S.Si., M.Pd., dan Miftah Qurohmah, S.Ag.: Pengawas Madrasah dan PAI yang baik.
Penghargaan ini menunjukkan bahwa prinsip utama dari setiap pelayanan keagamaan di Blitar adalah kejujuran dan inovasi.
Penutup: Menahan lapar dan haus adalah lebih dari itu.
Gema Soramadu memberikan perspektif baru bahwa persiapan Ramadhan di Kota Blitar adalah gerakan semesta yang melibatkan hati, pikiran, dan tindakan nyata.
Ia adalah momentum untuk berkembang bersama, mempererat ikatan persaudaraan, dan menyatukan komitmen pelayanan dengan nilai-nilai ketuhanan.
Ramadhan adalah perayaan kedamaian bersama. Semangat yang ditinggalkan pawai harus tetap hidup saat gemanya perlahan memudar di sepanjang Jalan Ir. Soekarno.
“Bagaimana kita bisa memasukkan semangat kedamaian ‘Gema Soramadu’ ini ke dalam interaksi digital dan sosial kita sehari-hari, bahkan setelah Ramadhan berakhir?”
Artikel ini diolah dari berbagai sumber yang dibantu AI

