Memasuki wilayah Blitar dengan kereta api modern saat ini menyuguhkan pemandangan yang tenang, namun deru roda besi di atas rel ini menyimpan memori panjang tentang ambisi kolonial.
Sejak abad ke-18, pemerintah Hindia Belanda telah menetapkan Blitar sebagai pusat administrasi strategis. Langkah ini menyusul penemuan potensi besar di lereng gunung Kelud dan lembah sungai brantas yang subur.
Revolusi industri di Eropa menuntut efisiensi tinggi dalam pengiriman bahan mentah. Hal ini mendorong Belanda membangun jaringan infrastruktur kereta api masif untuk menghubungkan pabrik-pabrik gula dan perkebunan kopi di pedalaman dengan pelabuhan besar.
Jalur besi ini tidak hanya memfasilitasi mobilitas para pejabat Belanda dan pengusaha perkebunan, tetapi juga menjadi urat nadi utama yang mengangkut komoditas berharga seperti kopi, gula, dan teh ke pasar dunia.
Stasiun Blitar: Ikon Kota yang Menembus Zaman
Pemerintah Hindia Belanda memosisikan Stasiun Blitar sebagai pusat gravitasi transportasi di wilayah ini. Sebagai stasiun kelas besar tipe B, bangunan ini memegang peran teknis yang sangat vital dalam jaringan transportasi Jawa Timur.
* Lokasi: Kecamatan Kepanjenkidul, Kota Blitar.
* Ketinggian: +167 meter di atas permukaan laut.
* Pengelolaan: Daerah Operasi (Daop) VII Madiun.
* Jarak: 92,5 kilometer ke arah tenggara dari Kertosono.
Perusahaan kereta api negara, Staatsspoorwegen (SS), memulai pengerjaan stasiun ini pada tahun 1883. Pemerintah meresmikan operasionalnya pada 16 Juni 1884, bersamaan dengan pembukaan jalur Kediri-Tulungagung-Blitar sepanjang 64 kilometer.
Meskipun otoritas terkait merenovasi bangunan pada tahun 1950, stasiun ini tetap memancarkan kemegahan masa lalu. Fasad depan menampilkan gaya indische empire yang berwibawa, sementara sentuhan art deco terlihat jelas pada desain pintu dan jendela yang geometris.
Salah satu warisan arsitektur yang paling menonjol adalah sistem overkapping atau atap peron yang menggunakan rangka kayu asli. Di sini, pengunjung masih bisa membayangkan hiruk-pikuk masa lalu saat lokomotif uap melakukan langsiran, pengisian air di menara air, serta aktivitas intens di dipo lokomotif dan dipo kereta.
Tokoh Besar di Balik Rel Blitar: Anthony Fokker dan Bung Karno
Sejarah perkeretaapian Blitar bersinggungan erat dengan tokoh-tokoh yang mengubah dunia. Anthony Herman Gerard Fokker, pionir penerbangan dunia, lahir di Blitar pada 6 April 1890. Ayahnya, Herman Fokker Sr., merupakan pemilik perkebunan kopi yang sangat bergantung pada efisiensi kereta api.
Sebelum pindah ke Belanda pada usia empat tahun, Fokker kecil kemungkinan besar telah menghirup aroma kopi dan asap lokomotif di peron Stasiun Blitar.
Selain Fokker, stasiun ini mencatat momen patriotik yang tak ternilai. Ir. Soekarno bersama para pejuang kemerdekaan bertolak dari Stasiun Blitar menuju Jakarta untuk memproklamasikan kemerdekaan Indonesia.
Sebagai bentuk penghormatan, sebuah patung Bung Karno kini berdiri gagah di area stasiun, menyapa setiap penumpang yang datang dan pergi.
Menjaga Warisan Lewat Wisata Sejarah
Stasiun Blitar bukan sekadar titik pemberhentian, melainkan monumen hidup yang membentuk identitas kota. Dari fungsinya sebagai pengangkut kopi dan gula hingga menjadi saksi bisu perjuangan bangsa, bangunan-bangunan ini menyimpan cerita yang layak kita pelajari kembali.
Seiring perkembang nya zaman stasiun Blitar sudah mengalami perubahan infrastruktur, meski demikian setiap sudut nya masih menyisakan memori yang akan terus tinggal.
Jika mampir ke Blitar dan naik kereta, anda akan tiba di stasiun yang dahulu menjadi jalur distribusi kopi dan gula.
Jangan lewatkan untuk mampir ke kedai kedai di dekat stasiun sambil menikmati suasana tenang dan hangat kota Blitar.
Artikel ini diolah dari berbagai sumber dengan bantuan AI

