Artikel
Beranda » Berziarah ke Makam Soekarno di Blitar, ada hal menarik apa saja?

Berziarah ke Makam Soekarno di Blitar, ada hal menarik apa saja?

Makam Bung Karno. (Foto: Pemkot Blitar)

Makam Bung Karno (MBK) di Blitar bukan sekadar titik akhir perjalanan fana seorang tokoh besar; ia adalah episentrum energi yang menarik denyut nadi politik, spiritualitas, hingga ekonomi di jantung Jawa Timur. Terdapat sebuah kontradiksi puitis sekaligus getir di sini. Ir. Soekarno, sang penyambung lidah rakyat, dalam wasiatnya mendambakan sebuah peristirahatan sederhana di daerah Priangan atau dekat Istana Batu Tulis, Bogor sebuah tempat yang dinaungi pohon rindang dan ditemani suara gemericik air yang mengalir.

Namun, realitas hari ini menyuguhkan kemegahan pualam hitam dan marmer Tulungagung di atas lahan seluas 1,8 hektar. Situs ini telah bertransformasi menjadi sebuah “ziarah kebangsaan” yang menyatukan berbagai lapisan masyarakat, dari rakyat jelata hingga para pencari mandat kekuasaan, membuktikan bahwa kharisma Sang Proklamator tidak pernah benar-benar surut meski raga telah lama menyatu dengan tanah.

1. Di Balik Lokasi Blitar: Sebuah Siasat Politik yang Pelik

Pemilihan Blitar sebagai lokasi pemakaman bukanlah tanpa diskontinuitas sejarah. Melalui Keppres No. 44 Tahun 1970, Presiden Soeharto menetapkan Blitar sebagai tempat peristirahatan terakhir Bung Karno. Secara resmi, alasan yang dikemukakan adalah agar ia dimakamkan di dekat ibundanya, Ida Ayu Nyoman Rai. Namun, para sejarawan melihat adanya motif politik yang jauh lebih dalam dan kalkulatif: sebuah upaya “de-Soekarno-isasi” untuk menjauhkan pengaruh kharismatik sang pemimpin dari pusat gravitasi politik di Jakarta.

Kendang jimbe di Blitar: industri kreatif lokal

Lebih jauh lagi, pemilihan Blitar dianggap sebagai strategi untuk membangun citra kedekatan antara Bung Karno dengan basis Partai Komunis Indonesia (PKI). Mengingat Blitar merupakan basis kemenangan PKI pada Pemilu 1957 dan lokasi perlawanan sisa-sisa PKI di wilayah Blitar Selatan pasca-1965, pemakaman ini seolah menjadi upaya simbolis untuk melabeli warisan politik Soekarno dengan stigma Orde Baru. Untuk melengkapi “reuni keluarga” di tanah pengasingan politik ini, kerangka ayahanda Bung Karno pun dipindahkan dari Pemakaman Umum Karet, Jakarta, ke Blitar pada tahun 1975.

Di tengah pusara yang sunyi itu, berdiri tegak sebuah batu pualam hitam besar yang memahat identitas abadi beliau:

“Di sini dimakamkan Bung Karno, Proklamator Kemerdekaan & Presiden Pertama Republik Indonesia, Penyambung Lidah Rakyat.”

Hal yang mungkin belum kamu tahu tentang Jembatan Trisula di Blitar Selatan

2. Arsitektur yang “Bernapas”: Filosofi Tiga Alam dan Sekat yang Runtuh

Kompleks makam ini dirancang dengan estetika Jawa yang sarat akan sakralitas. Bangunan utama yang menaungi nisan disebut Astono Mulyo”Astono” berarti tempat terhormat, dan “Mulyo” merujuk pada tanah asal makam di Karang Mulyo. Perjalanan menuju nisan adalah sebuah narasi filosofis tentang fase kehidupan manusia yang dibagi dalam tiga tingkatan lantai:

  • Alam Purwo: Melambangkan kehidupan manusia di dalam kandungan, dicapai setelah menaiki 7 anak tangga.
  • Alam Madyo: Melambangkan kehidupan di dunia fana, ditandai dengan 5 anak tangga menuju teras.
  • Alam Wasono: Melambangkan kehidupan setelah kematian, dicapai dengan menaiki 3 anak tangga terakhir menuju cungkup.

Filosofi ini ditopang oleh empat soko guru (tiang utama) berdimensi 11×11 meter. Angka 11 merupakan simbol pengeleng (pengingat), di mana setiap hitungan sepuluh disisihkan satu sebagai pengingat akan Tuhan.

Satu catatan sejarah yang menyentuh adalah mengenai aksesibilitas makam ini. Pada era Orde Baru, makam Bung Karno disekat oleh dinding kaca setebal 10 cm, sebuah simbol pemisahan fisik antara sang pemimpin dengan rakyatnya. Baru pada masa pemerintahan Presiden Abdurrahman Wahid (Gus Dur), kaca tebal tersebut dibongkar total, mengembalikan keintiman antara peziarah dengan Sang Proklamator sehingga mereka kini dapat mendekat dan menaburkan bunga secara langsung di atas pualam hitam tersebut.

Blitar menyambut Ramadan 2026: antara ketegasan dan tenggang rasa

3. Koleksi Museum yang “Hidup” dan Fenomena Metafisika

Bagi peziarah spiritual, Museum Bung Karno bukan sekadar ruang penyimpanan memorabilia, melainkan jembatan batin. Di sinilah tersimpan dua koleksi yang terus memantik rasa penasaran publik:

Lukisan “Berdetak”: Sebuah potret Bung Karno berukuran 1,5 x 1,75 meter yang seolah “hidup”. Bagian dada pada lukisan ini terlihat berdegup layaknya jantung manusia, sebuah fenomena yang oleh para pengunjung sering dimaknai sebagai simbol bahwa semangat nasionalisme Soekarno belum pernah mati.

Uang Kertas Rp1.000 Tahun 1964: Koleksi uang kertas seri Bung Karno yang konon memiliki energi unik sehingga dapat menggulung sendiri saat diletakkan di telapak tangan.

Dari megengan ke bukber modern: Wajah ramadan 2026 di Blitar

Terlepas dari perdebatan ilmiah, keberadaan elemen-elemen ini menunjukkan betapa masyarakat enggan melepaskan sosok Soekarno hanya pada lembaran buku sejarah. Bagi mereka, mistisisme ini adalah bentuk penghormatan terhadap profil kharismatik yang melampaui logika zaman.

4. Gong Perdamaian Dunia: Manifestasi Tokoh Global

Makam ini juga menegaskan posisi Bung Karno sebagai negarawan lintas batas. Di pelataran kompleks, berdiri World Peace Gong atau Gong Perdamaian Dunia berdiameter 2,5 meter. Gong ini merupakan artefak langka yang hanya ada di beberapa tempat di Indonesia seperti Bali, Ambon, dan Palu.

Di permukaannya, terukir simbol dari 9 agama besar dan 202 bendera negara di dunia. Kehadiran gong ini di Blitar menjadi pengingat abadi bahwa Bung Karno bukan hanya milik bangsa Indonesia, melainkan seorang arsitek perdamaian dunia yang gagasannya mengenai anti-kolonialisme dan persaudaraan antarbangsa tetap bergaung di panggung internasional hingga saat ini.

Masjid ar-rahman: suasana madinah di Jawa Timur

5. Labirin Suvenir: Transformasi “Taman Bahagia” Menjadi Nadi Ekonomi

Dahulu, area ini hanyalah sebuah makam pahlawan sunyi yang dikenal sebagai “Taman Bahagia”. Sejarah mencatat bahwa tanah ini awalnya merupakan sumbangan dari yayasan perkumpulan kematian “Mardi Mulyo”. Kini, wajah sunyi itu telah berubah menjadi mesin ekonomi yang menghidupi warga Kelurahan Bendogerit.

Setiap peziarah yang keluar akan diarahkan melewati sebuah “labirin” pasar suvenir. Di lorong-lorong sempit ini, interaksi sosiologis terjadi secara organik sebuah manifestasi bagaimana sosok Bung Karno, bahkan dalam tidurnya, tetap mampu menyejahterakan rakyat kecil.

Panduan Praktis di Labirin Suvenir:

Tradisi unik masyarakat Blitar menyambut Ramadan

Seni Tawar-Menawar: Harga pernak-pernik dimulai dari Rp2.000 hingga Rp100.000-an. Jangan ragu untuk menawar, terutama jika Anda membeli dalam jumlah banyak sebagai bentuk dukungan ekonomi lokal.

Waspada Kerumunan: Karena jalur pasar yang tidak terlalu lebar dan sering kali berdesakan, pastikan untuk menjaga barang bawaan dengan cermat di tengah antusiasme pengunjung yang meluap.

Etika Berkunjung dan Waktu Terbaik

Masuk Ramadan, jam kerja ASN berkurang namun target kinerja tetap

Agar kunjungan Anda tetap khidmat dan selaras dengan sakralitas situs, perhatikan panduan berikut:

Pakaian Sopan: Kenakan pakaian yang tertutup dan sopan. Sangat disarankan untuk menghindari penggunaan celana pendek.

Etika Perilaku: Area ini adalah tempat suci bagi banyak orang. Dilarang merokok, berkata kasar, atau membuang sampah sembarangan di seluruh kompleks makam.

Serunya basah-basahan di Blumbang Gede: 5 Alasan mengapa kamu harus mencoba Stand Up Paddle di sini!

Manajemen Waktu: Sangat direkomendasikan untuk berkunjung pada hari kerja (weekdays). Pada hari libur nasional atau momen sakral seperti Bulan Bung Karno (Juni), jumlah peziarah bisa melonjak hingga ribuan orang per hari, menciptakan kepadatan yang luar biasa.

Kesimpulan: Warisan yang Terus Bertumbuh

Makam Bung Karno telah berevolusi melampaui fungsi asalnya sebagai tempat peristirahatan. Ia adalah titik temu antara sejarah yang pelik, arsitektur yang bermakna, dan harapan rakyat yang terus membumbung. Dari balik kaca 10 cm yang kini telah runtuh, Bung Karno seolah kembali memeluk rakyatnya tanpa sekat.

Di tengah arus modernisasi yang kian kencang, sejauh mana nilai-nilai yang diperjuangkan sosok di balik batu pualam hitam ini masih berdenyut dalam kehidupan kita sehari-hari? Mungkin, jawaban itu hanya bisa ditemukan saat kita bersimpuh di sana, mendengarkan gemericik doa yang mengalir layaknya air dalam wasiatnya yang dulu sempat tertunda.


Artikel ini diolah dari berbagai sumber dengan bantuan AI

Berita Terbaru

×