Kota Blitar selama ini dikenal sebagai “Kota Proklamator,” tempat Bung Karno, beristirahat.
Namun, jika kita menyusuri kota lebih dalam di sepanjang Jalan Sudanco Supriyadi, terdapat sebuah kawasan yang menyimpan resonansi sejarah yang mengalami pergolakan.
Warga lokal mengenalnya sebagai SMP Kompleks, pusat pendidikan yang menjadi tempat belajar bagi para siswa dan siswi.
Namun, bagi seorang penelusur sejarah, dinding-dinding tua di kawasan ini bukan hanya bata dan semen tetapi tempat menyimpan lapisan memori kelam dan heroik.
Di sinilah, 80 tahun lalu suara dentuman mortir memecah kesunyian pada waktu subuh.
Sebuah bekas Markas Daidan (Batalyon) Tentara Pembela Tanah Air (PETA) Blitar yang menjadi saksi bisu dari keberanian yang nyaris mustahil. Mari kita menelusuri lorong waktu.
Bangunan dengan ‘Tiga Nyawa’
Kegagalan Rekayasa Sosial Kolonial
Kawasan ini sejatinya adalah monumen dari sebuah ironi sejarah yang mendalam.
Dibangun pertama kali pada tahun 1910, pemerintah kolonial Belanda mendesain tempat ini sebagai kawah candradimuka bagi kaum elite pribumi.
Melalui lembaga Meer Uitgebreid Lager Onderwijs (MULO) dan Opleidingsschool voor Inlandsche Ambtenaren (OSVIA), Belanda berusaha melakukan “rekayasa sosial” mendidik anak-anak bangsawan untuk menjadi birokrat (pamong praja) yang patuh dan terampil demi kelanggengan administrasi kolonial.
Ironisnya, halls yang dirancang untuk melahirkan kesetiaan pada Ratu Belanda ini justru bertransformasi menjadi inkubator perlawanan.
Ketika Jepang masuk pada 1942, fungsi pena dan kertas beralih menjadi bayonet dan mortar.
Lulusan pendidikan Barat yang diharapkan menjadi pegawai setia, justru berubah menjadi perwira militer yang paling membangkang di Asia.
Saat ini, lima struktur utama masih berdiri sebagai saksi bisu, meski beberapa dalam kondisi yang memprihatinkan:
- Kantor Perintis Kemerdekaan: Bekas kantor administrasi MULO yang kemudian menjadi pusat pengawasan Jepang. Bangunan megah ini kini menderita kerusakan yang cukup signifikan, sebuah panggilan sunyi bagi pelestarian.
- Bangunan SMKN 3 Blitar: Mencakup gedung administrasi dan gudang yang sebagian besar kini tidak lagi digunakan, menyisakan atmosfer sunyi di tengah hiruk-pikuk sekolah.
- Bangunan SMPN 3 Blitar: Ruang-ruang kelas MULO yang sempat beralih fungsi menjadi pusat administrasi Daidan PETA.
- Bangunan SMPN 5 Blitar: Koridor-koridor yang pernah menjadi saksi bisu koordinasi militer tingkat batalyon.
- Bangunan SMPN 6 Blitar: Meliputi aula dan gudang yang terus beradaptasi melewati zaman pra-kemerdekaan hingga modernitas.
Keberanian ‘Murid’ Melawan ‘Tuan’
Dentuman Mortir 02:30 Pagi
Pemberontakan PETA Blitar pada 14 Februari 1945 adalah sebuah anomali militer yang menggetarkan kawasan Asia.
Sejarah mencatat aksi yang dipimpin Shodanco Supriyadi ini sebagai satu-satunya fenomena di mana tentara bentukan dan didikan Jepang berani mengangkat senjata melawan instruksi pelatih atau “tuan” mereka di seluruh kawasan Asia Tenggara dan Asia Timur.
Tepat pukul 02:30 dini hari, sebuah letusan mortir menggelegar dari dalam markas. Itu bukan sekadar suara ledakan, melainkan sinyal pemberontakan yang telah matang.
Nasionalisme para prajurit muda ini terbakar bukan oleh taktik perang, melainkan oleh perihnya empati melihat rakyat yang hancur di bawah romusha dan penderitaan lainnya.
Penderitaan rakyat di seluruh Nusantara kala itu sudah sangat parah. Harga diri bangsa diinjak-injak, kemiskinan, kelaparan, dan kesengsaraan menjangkiti sendi kehidupan. Yang terjadi adalah sore sakit malam mati, malam sakit pagi mati.
Meskipun secara taktis dianggap tidak efektif karena hanya berlangsung beberapa jam dan berakhir dengan penangkapan massal, secara spiritual aksi ini sangat efektif.
Hal tersebut membuka mata dunia dan meruntuhkan mitos tak terkalahkannya Jepang, sekaligus membuktikan bahwa tekad kemerdekaan Indonesia telah sampai pada titik di mana kematian lebih terhormat daripada penindasan.
Kamar Tidur dan Imusitsu: Saksi Bisu Strategi dan Kemanusiaan
Jika lapangan upacara adalah panggung terbuka, maka ruang-ruang privat di dalam kompleks SMPN 3 adalah ruang mesin revolusi.
Kamar tidur Shodanco Supriyadi dan kamar Bundanco Halir Mangkudijaya beralih fungsi sebagai ruang rapat rahasia. Di mana strategi pemberontakan disusun dalam bisikan-bisikan di tengah malam.
Selain ruang strategi, terdapat satu sudut yang menyimpan sisi kemanusiaan dari pangkalan militer ini: Imusitsu (kamar sakit atau klinik).
Di sinilah Cudanco dr. Ismangil menjalankan praktiknya. Kehadiran dr. Ismangil sebagai penyembuh di tengah para pejuang memberikan lapisan narasi bahwa pemberontakan ini bukan sekadar tentang kemarahan, tetapi juga tentang perlindungan terhadap martabat hidup.
Struktur-struktur ini adalah saksi bisu yang menyimpan memori tak terdokumentasi. Atmosfer di dalamnya masih menyisakan kesan “berat,” seolah-olah gema diskusi para perwira muda tentang nasib bangsa masih tertinggal di sudut-sudut plafon bangunan kolonial yang tinggi.
Hari ini, kawasan eks-Markas PETA Daidan Blitar berdiri di persimpangan yang krusial. Sebagai “SMP Kompleks,” ia memikul tanggung jawab ganda: sebagai rahim pendidikan masa depan dan penjaga memori masa lalu.
Para pelajar yang duduk di bangku kelas sekarang sebenarnya sedang menduduki ruangan yang sama di mana Supriyadi dan rekan-rekannya pernah mempertaruhkan segalanya demi sebuah kata: Merdeka.
Sejarah bukanlah deretan angka tahun yang kering atau seremoni tahunan setiap Februari.
Sejarah adalah nilai yang berdenyut di bawah permukaan modernisasi.
Markas ini mengingatkan kita bahwa kemerdekaan dibayar dengan harga yang sangat mahal, dimulai dari keberanian yang dipupuk oleh empati terhadap penderitaan sesama manusia.
Artikel ini diolah dari berbagai sumber dengan bnatuan AI

