Sungai Brantas memiliki peran sejarah yang sangat vital sebagai “urat nadi” peradaban, sosial, dan ekonomi di Jawa Timur sejak masa kerajaan kuno hingga saat ini.
Sejak abad ke-8 Masehi, sungai ini telah berfungsi sebagai “jalan raya peradaban” utama yang menghubungkan wilayah pedalaman dengan dunia luar, memperdagangkan komoditas penting seperti beras dan rempah-rempah.
Peran sejarah Sungai Brantas bagi peradaban dan pariwisata:
Peran Sejarah bagi Peradaban
• Pusat Kerajaan Kuno: Raja Mpu Sindok memindahkan pusat kerajaannya dari Mataram Kuno di Jawa Tengah ke lokasi baru di sekitar Sungai Brantas sekitar tahun 950 M, yang dianggap sebagai tempat yang lebih aman dan strategis.
Prasasti Dinoyo (760 M) juga mencatat keberadaan Kerajaan Medang di sekitar mata air Brantas di wilayah Malang.
• Jalur Niaga dan Strategi Militer: Pada masa Kerajaan Kediri, pentingnya Brantas ditegaskan melalui prasasti yang mencatat pembebasan pajak bagi desa-desa yang menjaga kelancaran perdagangan di sepanjang sungai.
Secara militer, keberadaan jabatan Senapati Sarwajala (panglima angkatan laut) pada tahun 1181 M menandakan sungai ini sangat strategis secara pertahanan.
• Kejayaan Majapahit: Raden Wijaya memanfaatkan sungai ini sebagai jalur penyelamatan diri, sementara Prasasti Trowulan (1358 M) menyebutkan desa-desa penyeberangan di sepanjang Brantas sebagai titik vital transportasi.
• Transformasi Kolonial: Di bawah pemerintahan Belanda, Sungai Brantas dan anak cabangnya, Kalimas, dimodernisasi untuk mendukung ekspor industri gula.
Pembangunan pelabuhan Surabaya dan sistem irigasi raksasa seperti Proyek Lengkong (1840-an) mengubah wilayah ini menjadi pusat ekonomi paling efisien di Asia Tenggara pada masanya.
Peran dalam Sektor Pariwisata Seiring menurunnya fungsi transportasi niaga di era modern, Sungai Brantas kini bertransformasi menjadi destinasi wisata berbasis sejarah dan lingkungan:
• Wisata Susur Kalimas (Surabaya): Revitalisasi anak cabang Brantas di Surabaya menawarkan wisata edukasi dan sejarah dengan pemandangan pintu air kolonial, monumen kapal selam, serta taman-taman tematik di bantaran sungai seperti Taman Prestasi dan Taman Ekspresi.
• Wisata Hulu di Malang: Kota Malang mengembangkan Festival Kali Brantas yang rutin digelar setiap Hari Sungai Nasional, serta membangun kampung tematik di bantaran sungai yang mengusung konsep edukasi lingkungan dan seni budaya lokal.
• Pengembangan Heritage dan Ekowisata: Kota-kota lain seperti Blitar, Kediri, Mojokerto, dan Jombang mulai mengintegrasikan konsep wisata heritage dan festival budaya di sepanjang aliran sungai untuk meningkatkan ekonomi lokal sekaligus menjaga kelestarian ekosistem.
Melalui berbagai upaya revitalisasi ini, warisan sejarah Sungai Brantas kini dikelola sebagai modal ekonomi baru yang berbasis pada komunitas dan pelestarian lingkungan.
Peran Komunitas Lokal Jaga Brantas
Keterlibatan komunitas lokal merupakan pilar penting dalam menjaga kelestarian Sungai Brantas, yang secara hukum diamanatkan melalui UU No. 17 Tahun 2019 tentang Sumber Daya Air dan PP No. 22 Tahun 2021. Partisipasi ini mencakup berbagai aksi mulai dari pemantauan mandiri hingga edukasi publik.
Berikut adalah bentuk-bentuk utama keterlibatan komunitas lokal di Sungai Brantas:
1. Kelompok Aksi dan Komunitas Peduli Sungai (KPS) Terdapat banyak kelompok masyarakat yang aktif melakukan aksi nyata di lapangan:
SaberS Pungli (Kota Batu): Secara rutin mengadakan kegiatan bersih-bersih sungai mingguan di lebih dari 40 desa untuk mengedukasi warga tentang bahaya sampah.
Relawan Jatim Jogo Kali: Berfokus pada pembangunan proyek ekoriparian, pengembangan ekowisata, dan edukasi lingkungan.
Gerakan Bersih Sungai: Melakukan pembersihan saluran air serta pelepasan benih ikan endemik untuk menjaga keanekaragaman hayati.
Aksi Brantas dan Ecoton: Aktif dalam advokasi lingkungan, kampanye pengurangan plastik, dan pengembangan bisnis hijau berbasis komunitas.
2. Ilmu Pengetahuan Warga (Citizen Science) Komunitas menggunakan data sebagai alat advokasi dan penelitian untuk memantau kesehatan sungai:
Jaringan Komunikasi Pemantauan Kualitas Air (JKPKA): Melibatkan hampir 100 sekolah di sepanjang Brantas untuk mengajarkan siswa cara menguji kualitas air secara mandiri.
Platform BrantaSae: Wadah daring bagi warga untuk mengunggah data kualitas air, memetakan titik limbah, dan melaporkan tempat pembuangan sampah ilegal secara real-time.
3. Pemberdayaan Perempuan dalam Pengelolaan Limbah Perempuan
Hal itu memegang peran sentral karena mereka mengendalikan sebagian besar keputusan pengelolaan sampah dan air limbah di tingkat rumah tangga.
Upaya pelibatan ini meliputi:
Sekolah Perempuan dan Musrenbang Perempuan: Program di Jombang dan Gresik yang melatih perempuan untuk terlibat dalam perencanaan pembangunan desa, terutama terkait pengadaan sarana sanitasi dan pengelolaan sampah.
Koperasi dan Kelompok Senam: Komunitas non-lingkungan, seperti kelompok senam ibu-ibu, juga dilibatkan dalam pengelolaan sampah organik di tingkat lokal.
4. Restorasi dan Konservasi Fisik Warga juga terlibat dalam kegiatan fisik di daerah sempadan sungai:
Penghijauan: Masyarakat di Desa Tlekung dan Desa Bendosari telah melakukan reboisasi lahan kritis seluas puluhan hektar untuk menjaga resapan air.
Pengembangan Bisnis Hijau: Pemanfaatan daerah riparian untuk budidaya ramah lingkungan melalui kemitraan antara pemerintah dan masyarakat.
5. Festival Budaya Berbasis Lingkungan Komunitas di berbagai kota menggunakan budaya untuk membangun kesadaran lingkungan:
Festival Kali Brantas (Malang): Mengadakan ritual petik tirto amerto dan parade kampung untuk memperkuat ikatan emosional warga dengan sungai.
Wisata Susur Sungai: Revitalisasi bantaran sungai di Surabaya dan kota lainnya yang melibatkan warga lokal dalam mengelola ekowisata dan taman tematik.
Meskipun keterlibatan ini sangat luas, keberlanjutannya sering kali terkendala oleh keterbatasan dana dan perlunya koordinasi yang lebih kuat antara pemerintah dengan kelompok masyarakat agar aspirasi lokal dapat terakomodasi dalam kebijakan resmi.
Revitalisasi Sungai Kalimas
Revitalisasi Sungai Kalimas, yang merupakan salah satu anak cabang utama Sungai Brantas di Surabaya, difokuskan untuk mengubah fungsi transportasi niaga masa lalu menjadi destinasi wisata berbasis sejarah, edukasi, dan lingkungan.
Berikut adalah beberapa upaya utama revitalisasi yang telah dilakukan:
Wisata Susur Kalimas: Pemerintah Kota Surabaya bersama Balai Wilayah Sungai Brantas telah membuka layanan wisata susur sungai menggunakan perahu.
Program ini menawarkan pengalaman wisata yang mengintegrasikan aspek sejarah, edukasi, kuliner, dan belanja. Selama perjalanan, pengunjung dapat menikmati pemandangan infrastruktur bersejarah seperti pintu air kolonial, jembatan-jembatan kuno, dan Monumen Kapal Selam.
Pembangunan Taman Tematik: Di sepanjang bantaran sungai, telah dibangun berbagai taman dengan konsep tertentu sebagai ruang publik kreatif dan edukatif, di antaranya adalah Taman Prestasi, Taman Ekspresi, dan Taman BMX.
Keberadaan taman-taman ini bertujuan untuk mempercantik estetika kota sekaligus memberikan sarana rekreasi bagi warga.
Penyelenggaraan Event Budaya: Untuk menghidupkan kembali memori kejayaan Kalimas sebagai urat nadi kota, diadakan berbagai kegiatan berkala seperti festival perahu dan acara seni budaya lainnya di sepanjang aliran sungai.
Kolaborasi Lintas Sektor: Upaya pengembangan ini melibatkan kerja sama antara Pemerintah Kota Surabayadengan Balai Wilayah Sungai (BWS) Brantas guna memastikan pengelolaan yang terintegrasi antara fungsi pariwisata dan pelestarian fungsi sungai.
Melalui langkah-langkah ini, warisan sejarah Sungai Kalimas kini dikelola sebagai modal ekonomi baru yang berbasis pada komunitas dan pelestarian warisan budaya kota.
Artikel ini diolah dari berbagai sumber dengan bantuan AI

