Italia sering dicap sebagai simbol sepak bola defensif. Dalam Inverting the Pyramid, Jonathan Wilson menjelaskan bahwa catenaccio bukan sekadar parkir bus, melainkan respons logis terhadap kondisi sepak bola Italia.
Klub-klub Italia pascaperang menghadapi keterbatasan finansial dan fisik dibanding lawan Eropa lainnya. Mereka memilih disiplin, organisasi, dan kecerdikan. Catenaccio menempatkan seorang libero di belakang garis pertahanan, bertugas membaca permainan dan menutup celah.
Sistem ini menuntut konsentrasi tinggi dan kerja tim ekstrem. Serangan dibangun cepat dan efisien. Tidak banyak sentuhan, tidak banyak gaya. Yang penting hasil. Banyak pihak mencemooh pendekatan ini sebagai negatif.
Namun Wilson menegaskan, catenaccio adalah bukti bahwa taktik selalu mencerminkan realitas. Italia memilih bertahan bukan karena takut menyerang, tetapi karena itu cara paling rasional untuk menang.
Pendekatan ini juga memengaruhi cara dunia melihat sepak bola. Kemenangan tidak lagi harus indah. Yang penting efektif. Paradigma ini masih hidup hingga sekarang.
Sumber: Jonathan Wilson, Inverting the Pyramid: The History of Football Tactics (Orion Books, 2008).

