Artikel Soccer
Beranda » Kata Jonathan Wilson, bagaimana taktik sepak bola berkembang: Dari kerumunan ke sistem

Kata Jonathan Wilson, bagaimana taktik sepak bola berkembang: Dari kerumunan ke sistem

Ilustrasi taktik sepak bola. (Foto: Unslash)

Sepak bola tidak selalu seperti yang kita lihat hari ini. Dulu, permainan ini jauh lebih kacau, minim struktur, dan nyaris tanpa konsep taktik. Jonathan Wilson, melalui bukunya Inverting the Pyramid, menjelaskan bahwa evolusi sepak bola bukan soal siapa pemain terbaik, melainkan bagaimana orang mulai berpikir tentang ruang, posisi, dan peran.

Pada awal kemunculannya di Inggris abad ke-19, sepak bola dimainkan secara naluriah. Pemain berkerumun mengejar bola, hampir tanpa pembagian tugas yang jelas. Formasi seperti 1-1-8 bukan hal aneh. Bertahan dianggap tindakan pasif, sementara menyerang dilakukan secara massal.

Perubahan mulai terjadi ketika operan diperkenalkan oleh klub-klub Skotlandia. Mereka menyadari bahwa bola bisa bergerak lebih cepat daripada manusia. Dari sinilah sepak bola mulai beralih dari adu fisik menjadi permainan kolektif. Formasi pun perlahan berkembang, dengan pembagian peran yang lebih masuk akal.

Lirik lagu ‘Langkah Kecil’ yang dinyanyikan oleh Neckemic

Masuk abad ke-20, sistem WM menjadi tonggak penting. Formasi ini muncul sebagai respons terhadap perubahan aturan offside. Untuk pertama kalinya, pertahanan menjadi terorganisir, lini tengah punya fungsi penghubung, dan penyerang tidak lagi berdiri sejajar. Sepak bola mulai mengenal keseimbangan.

Setelah Perang Dunia II, berbagai negara mengembangkan pendekatan berbeda. Italia memperkenalkan catenaccio, sistem bertahan yang disiplin dan sangat terstruktur. Banyak yang mencemoohnya sebagai sepak bola negatif, tetapi bagi Italia, ini adalah cara rasional untuk menang dengan sumber daya terbatas.

Sebaliknya, Brasil dan Hungaria menawarkan pendekatan lebih cair. Tim Hungaria era 1950-an mengacak-acak sistem lama dengan pergerakan bebas dan penyerang yang turun ke tengah. Mereka menunjukkan bahwa posisi tidak harus kaku. Pemain bisa berpindah, selama tim tetap terorganisir.

Laga uji coba Perseta 1970 kontra PSBI Blitar berakhir imbang

Belanda kemudian menyempurnakan gagasan ini lewat Total Football. Semua pemain harus mampu bermain di berbagai posisi, menekan, dan menguasai bola. Sepak bola menjadi permainan ruang dan kolektivitas. Ide inilah yang kelak memengaruhi Barcelona, Pep Guardiola, dan banyak pelatih modern.

Wilson menegaskan bahwa taktik tidak pernah berdiri sendiri. Ia selalu dipengaruhi budaya, kondisi sosial, bahkan politik. Negara dengan tradisi kolektif cenderung mengembangkan sistem berbasis tim, sementara negara dengan budaya individual lebih menonjolkan pemain bintang.

Di era modern, peran pelatih menjadi semakin dominan. Analisis video, data, dan struktur latihan membuat sepak bola jauh lebih terencana. Namun, inti permainan tetap sama: bagaimana menciptakan keunggulan ruang dan waktu.

Kata Dandhy Laksono soal pangan di Indonesia saat diskusi buku di Blitar

Sumber: Jonathan Wilson, Inverting the Pyramid: The History of Football Tactics (Orion Books, 2008).

×