Artikel Soccer
Beranda » Jose Mourinho: Antitesis filosofi Cruyff di Barcelona

Jose Mourinho: Antitesis filosofi Cruyff di Barcelona

Jose Mourinho. (Foto: Chelsea FC)

Jika Johan Cruyff melambangkan idealisme sepak bola berbasis filosofi dan identitas, maka Jose Mourinho muncul sebagai kebalikannya. Menariknya, Mourinho justru mengawali karier besar kepelatihannya di Barcelona, meski bukan sebagai pelatih utama.

Mourinho datang ke Barcelona sebagai penerjemah sekaligus asisten Bobby Robson pada musim 1996–1997. Namun perannya jauh melampaui tugas bahasa. Ia terlibat dalam analisis taktik, persiapan latihan, dan pembacaan lawan. Dari dekat, Mourinho menyerap dinamika klub yang masih berada dalam bayang-bayang Cruyff.

Berbeda dengan Cruyff yang menekankan filosofi jangka panjang, Mourinho lebih pragmatis. Ia melihat sepak bola sebagai soal menang dengan cara paling efektif. Struktur bertahan, disiplin, dan eksploitasi kelemahan lawan menjadi prioritas, bukan keindahan permainan.

Janji politik Soekarno dan uji konsistensi dalam revolusi

Ketegangan ideologis ini kelak menjadi konflik terbuka ketika Mourinho berhadapan langsung dengan Barcelona sebagai pelatih lawan. Pertemuan-pertemuan panas antara Barcelona dan tim Mourinho bukan sekadar duel taktik, tetapi benturan dua cara pandang tentang sepak bola.

Dalam konteks ini, Mourinho bukan sekadar rival Barcelona. Ia adalah produk sampingan dari era pasca-Cruyff, sekaligus penantang paling keras terhadap filosofi yang ditinggalkan Cruyff. Pertarungan mereka mencerminkan perdebatan besar dalam sepak bola modern: idealisme melawan pragmatisme.

Sumber: Jonathan Wilson, The Barcelona Legacy: Guardiola, Mourinho and the Fight for Football’s Soul (Blink Publishing, 2018).

Pengepungan rumah Utsman bin Affan dan krisis kepemimpinan

×