Artikel Soccer
Beranda » Konflik Johan Cruyff dan manajemen Barcelona: Perpisahan yang buruk

Konflik Johan Cruyff dan manajemen Barcelona: Perpisahan yang buruk

Johan Cruyff. (Foto: Barcelona)

Pemecatan Johan Cruyff dari Barcelona pada Mei 1996 menjadi salah satu episode paling kontroversial dalam sejarah klub. Bukan karena hasil semata, melainkan karena konflik terbuka antara Cruyff dan presiden klub saat itu, Josep Lluís Núñez.

Masalah mulai memuncak setelah performa Barcelona menurun di Eropa, terutama sejak kekalahan telak dari AC Milan di final Liga Champions 1994. Cruyff melakukan perombakan besar-besaran, melepas banyak pemain kunci, dan membangun ulang tim dengan caranya sendiri. Namun hasilnya tidak langsung terlihat, sementara ketegangan dengan manajemen terus meningkat.

Núñez dan jajaran direksi mulai mempertanyakan metode latihan Cruyff, kebijakan transfer, hingga kendalinya yang terlalu besar atas tim. Media Spanyol menggambarkan situasi internal klub sebagai “perang dingin” yang terbuka.

Soekarno dalam pandangan Tan Malaka: Antara fakta, mitos, dan kekuasaan

Hubungan Cruyff dan manajemen dianggap sudah tidak bisa dipulihkan. Pemecatan itu sendiri berlangsung dengan cara yang kasar. Tidak ada penghormatan, tidak ada perpisahan resmi.

Cruyff meninggalkan klub dengan kemarahan, merasa dikhianati oleh orang-orang yang sebelumnya mendukungnya. Banyak pemain dan suporter menilai Barcelona gagal menunjukkan rasa hormat kepada sosok yang telah membentuk identitas klub.

Ironisnya, meski dipecat, pengaruh Cruyff justru semakin kuat setelah kepergiannya. Filosofi yang ia tanamkan tidak ikut pergi. Barcelona tetap berjalan di rel yang ia bangun, bahkan ketika hubungan personal antara Cruyff dan manajemen klub telah lama putus.

Utsman bin Affan: Kodifikasi mushaf dan munculnya ketegangan politik

Sumber: Jonathan Wilson, The Barcelona Legacy: Guardiola, Mourinho and the Fight for Football’s Soul (Blink Publishing, 2018).

×