Filosofi Johan Cruyff tidak lahir secara tiba-tiba di Barcelona. Pemikirannya berakar kuat pada tradisi sepak bola Belanda, khususnya Ajax, klub tempat ia tumbuh sebagai pemain dan pelatih.
Sejak muda, Cruyff dibesarkan dalam budaya sepak bola yang menekankan operan, pergerakan, dan kecerdasan posisi. Ajax telah lama mengajarkan bahwa bola harus bergerak lebih cepat daripada pemain. Prinsip ini kemudian berkembang menjadi apa yang dikenal sebagai Total Football.
Di bawah pelatih seperti Vic Buckingham dan Rinus Michels, Cruyff belajar bahwa sepak bola modern menuntut pemain memahami lebih dari satu peran. Semua pemain harus mampu menyerang dan bertahan, berpindah posisi, serta membaca situasi secara kolektif.
Cruyff juga dipengaruhi oleh pengalaman di luar sepak bola. Ia bermain bisbol dan memahami pentingnya pengambilan keputusan sebelum bola datang. Kesadaran ruang dan waktu menjadi ciri khas permainannya, baik sebagai pemain maupun pelatih.
Saat Cruyff membawa gagasan ini ke Barcelona, ia sebenarnya sedang melanjutkan tradisi panjang yang telah berkembang sejak awal sepak bola modern. Ia bukan pencipta segalanya dari nol, tetapi penyempurna dan penyebar ide tersebut ke panggung global.
Melalui Barcelona, filosofi Ajax menjelma menjadi standar baru sepak bola elite Eropa. Klub-klub lain boleh meniru, tetapi hanya sedikit yang mampu menanamkannya sedalam Barcelona.
Sumber: Jonathan Wilson, The Barcelona Legacy: Guardiola, Mourinho and the Fight for Football’s Soul (Blink Publishing, 2018).

