Artikel Feature
Beranda » Akhir kepemimpinan Umar bin Khattab dan warisan keadilan

Akhir kepemimpinan Umar bin Khattab dan warisan keadilan

Gurun pasir/unsplash.com/id/@gkumar2175

Menjelang akhir masa kepemimpinannya, Umar bin Khattab sudah menyadari bahwa jabatannya tidak akan lama lagi. Wilayah Islam sangat luas, tugas makin berat, dan usia juga tidak muda. Namun seperti kebiasaannya, Umar tidak mengendurkan pengawasan.

Suatu pagi, ketika Umar memimpin shalat Subuh, ia ditusuk oleh seorang budak bernama Abu Lu’lu’ah. Serangan itu terjadi di dalam masjid, di tengah jamaah. Umar terluka parah. Ia tidak langsung wafat, tetapi kondisinya jelas kritis.

Dalam keadaan seperti itu pun, yang ia tanyakan bukan soal balas dendam, tapi: apakah pelaku bertindak sendiri, bagaimana kondisi umat setelah dirinya, Ini menunjukkan prioritas Umar tetap pada urusan publik, bukan dirinya.

Dari Ajax ke Barcelona: Akar filosofi sepak bola Johan Cruyff

Berbeda dengan Abu Bakar, Umar tidak menunjuk satu orang sebagai penggantinya. Ia membentuk tim kecil berisi enam sahabat utama untuk memilih khalifah berikutnya. Keputusan ini disengaja. Umar tidak ingin kekuasaan terlihat diwariskan atau dipaksakan. Ia memberi batas waktu dan aturan jelas agar proses berjalan cepat dan tidak memecah umat.

Dalam kondisi sekarat, Umar masih sempat: mengingatkan agar rakyat tidak dizalimi, meminta agar utang pribadinya dilunasi, menolak dimakamkan di dekat Nabi tanpa izin keluarga Aisyah. Bahkan soal makam pun ia tidak merasa punya hak istimewa. Ini bukan soal rendah hati simbolik, tapi konsistensi sikap sampai akhir.

Wafatnya Umar bin Khattab

Umar bin Khattab: Dari ketegasan pribadi ke sistem pemerintahan

Umar wafat beberapa hari setelah penusukan. Ia dimakamkan di dekat Nabi Muhammad SAW dan Abu Bakar, setelah mendapat izin. Umat kehilangan pemimpin yang keras pada dirinya sendiri, tapi adil pada orang lain.

Warisan Umar bukan bangunan megah atau istana. Yang tertinggal adalah: sistem pemerintahan yang rapi, standar etika bagi pejabat, prinsip bahwa pemimpin bisa dikritik. Banyak kebijakan administrasi modern berakar dari sistem yang ia bangun.

Dari akhir hidup Umar, terlihat bahwa: jabatan tidak membuat seseorang kebal, kekuasaan harus siap ditinggalkan kapan saja, keadilan bukan slogan, tapi praktik sehari-hari. Umar tidak berusaha dikenang sebagai tokoh lembut. Ia dikenang karena konsisten menjalankan tanggung jawabnya.

Johan Cruyff dan cara Barcelona menemukan identitasnya

Sumber: Sirah Nabawiyah karya Syaikh Shafiyyur Rahman al-Mubarakfury

×