Banyak orang memahami ideologi sebagai kumpulan doktrin politik yang kaku atau slogan yang dihafalkan secara sadar. Namun filsuf Marxis asal Prancis, Louis Althusser menunjukkan bahwa ideologi bekerja dengan cara yang jauh lebih halus.
Ideologi tidak selalu sebagai perintah atau larangan, melainkan menyusup ke dalam cara kita memandang dunia, menilai sesuatu sebagai “wajar” dan mengambil keputusan sehari-hari tanpa pernah kita pertanyakan.
Menurut Althusser, ideologi bukan soal apa yang kita pikirkan, tapi bagaimana kita hidup. Ideologi bekerja melalui praktik, kebiasaan serta lembaga yang kita jalani sejak kecil. Sekolah, keluarga, agama, media hingga budaya populer membentuk kerangka berpikir tertentu tentang apa itu kesuksesan, kepatuhan, kerja keras atau bahkan kebebasan. Karena berlangsung terus-menerus, proses ini jarang disadari sebagai sesuatu yang politis.
Disinilah Althusser memperkenalkan konsep Aparatus Ideologi Negara. Berbeda dengan aparat negara yang represif seperti polisi atau pengadilan, aparatus ideologi bekerja secara persuasif. Sekolah tidak memaksa murid dengan kekerasan, tetapi melalui kurikulum dan kedisiplinan.
Media tidak memerintah secara langsung, tetapi membingkai realitas melalui bahasa, citra ataupun narasi. Ideologi bekerja justru ketika kondisi terasa netral dan alamiah.
Salah satu gagasan paling penting Althusser adalah bahwa ideologi “memanggil” individu menjadi subjek. Kita merasa memilih secara bebas, padahal pilihan itu sudah dibentuk oleh sistem nilai yang ada. Ketika seseorang percaya bahwa kegagalan sepenuhnya adalah kesalahan individu, bukan akibat struktur sosial di situlah ideologi bekerja.
Ideologi mengalihkan perhatian dari ketimpangan struktural menuju tanggung jawab personal semata.
Dalam konteks masyarakat modern, pendidikan memainkan peran sentral. Sekolah tidak hanya mentransfer pengetahuan, tapi juga menanamkan kepatuhan pada aturan dan hierarki sosial.
Nilai-nilai ini kemudian dianggap sebagai sesuatu yang normal dan tak terhindarkan. Proses tersebut memastikan bahwa sistem sosial yang ada dapat terus berjalan tanpa harus selalu menggunakan represi.
Ideologi menjadi paling kuat justru ketika teori tidak terasa sebagai ideologi. Ketika ketimpangan dianggap wajar, ketika ketidakadilan dipahami sebagai takdir serta ketika kritik dianggap mengganggu stabilitas, saat itulah ideologi mencapai efektivitas tertingginya.
Althusser mengingatkan, memahami cara kerja ideologi bukan untuk menolak semua tatanan, tetapi untuk membuka ruang kesadaran bahwa apa yang tampak alamiah sering kali adalah hasil dari konstruksi sosial yang panjang. (lex/blt)

