Artikel
Beranda » Wafatnya Nabi Muhammad SAW: Hari ketika umat kehilangan penopang utama

Wafatnya Nabi Muhammad SAW: Hari ketika umat kehilangan penopang utama

Ilustrasi Nabi Muhammad dan masjid. (Foto: Internet)

Beberapa waktu setelah Haji Wada’, kondisi kesehatan Nabi Muhammad SAW mulai menurun. Awalnya tidak terlihat serius. Nabi masih sempat memimpin shalat dan berinteraksi seperti biasa.

Namun sakitnya tidak kunjung membaik. Hari-hari terakhir beliau dijalani di rumah Aisyah. Meski sakit, Nabi tetap memperhatikan urusan umat.

Beliau sempat menegaskan kembali agar shalat dijaga dan amanah ditunaikan. Ketika kondisi makin lemah, Nabi meminta Abu Bakar untuk menggantikan beliau menjadi imam shalat. Ini bukan keputusan kecil. Menjadi imam berarti memimpin umat secara simbolik dan praktis.

Haji Wada’: Pesan terakhir yang disampaikan Rasulullah

Detik-Detik Wafat

Pada Senin pagi, Nabi sempat membuka tirai kamarnya dan melihat para sahabat shalat berjamaah. Beliau tersenyum. Itu menjadi momen terakhir yang disaksikan banyak orang.

Tak lama setelah itu, Nabi wafat di pangkuan Aisyah. Usia beliau sekitar 63 tahun. Tidak ada peristiwa aneh. Tidak ada kejadian besar di langit. Yang ada hanya kesunyian dan kebingungan.

Setelah Mekah berhasil dikuasai, Rasulullah menata ulang kota dan hubungan antar-suku

Kabar wafatnya Nabi membuat Madinah gempar. Sebagian sahabat tidak bisa menerima kenyataan itu. Umar bin Khattab bahkan menolak percaya. Ia mengatakan Nabi tidak wafat, hanya pergi sementara. Situasi nyaris tidak terkendali.

Abu Bakar masuk menemui jenazah Nabi, memastikan wafatnya beliau, lalu keluar menemui umat. Ia menyampaikan kalimat yang kemudian menjadi pegangan: “Barang siapa menyembah Muhammad, maka Muhammad telah wafat.

Barang siapa menyembah Allah, maka Allah Maha Hidup dan tidak akan wafat.” Kalimat ini bukan pidato emosional. Ini penegasan arah. Umat perlahan tenang. Mereka sadar bahwa Islam tidak berhenti bersama wafatnya Nabi.

Penaklukan Mekah, sebuah bukti kemenangan tanpa balas dendam yang dilakukan Rasulullah

Peristiwa ini menunjukkan bahwa:

  • kehilangan besar tetap harus dihadapi dengan akal sehat
  • kepemimpinan bukan soal figur semata
  • ajaran Islam tidak bergantung pada satu manusia
  • Nabi sudah menyiapkan umat untuk berdiri sendiri.

Sumber: Sirah Nabawiyah karya Syaikh Shafiyyur Rahman al-Mubarakfury

Isi Perjanjian Hudaibiyah yang berlangsung pada zaman Rasulullah
×