Artikel Feature
Beranda » Perang Khandaq, ketika Madinah bertahan dari ketakutan yang datang dari semua arah

Perang Khandaq, ketika Madinah bertahan dari ketakutan yang datang dari semua arah

Kakbah di Mekah. (unsplash.com/id/@sul3li)

Setelah Uhud, musuh-musuh Islam sadar bahwa mengalahkan Madinah secara langsung tidak mudah. Maka mereka mengubah strategi: menyatukan seluruh kabilah dan kelompok anti-Islam dalam satu operasi besar untuk menghancurkan umat Muslim sekali untuk selamanya.

Itulah yang kemudian dikenal sebagai Perang Khandaq atau Perang Ahzab, perang yang dimulai bukan karena keberanian, tapi karena ketakutan.

Gabungan pasukan Quraisy, Yahudi Bani Nadhir, serta suku-suku besar lainnya membentuk aliansi lebih dari 10.000 pasukan untuk menyerang Madinah. Jumlah sebesar itu berarti satu hal: Madinah tidak mungkin menang lewat pertempuran terbuka.

Konsolidasi Dinasti Umayyah: Stabilitas yang dibangun dari kontrol ketat

Sementara di dalam kota, kaum Muslimin tidak sedang berada dalam kondisi ideal. Sebagian baru pulih dari trauma Uhud dan kehilangan orang-orang terdekat. Ada juga kelompok munafik yang mulai menyebarkan rumor bahwa Islam tidak akan bertahan lama.

Gagasan Parit yang Mengubah Situasi

Dalam musyawarah, Salman Al-Farisi,  sahabat yang berasal dari Persia, mengusulkan strategi yang belum pernah dikenal di Jazirah Arab saat itu: menggali parit besar sebagai pertahanan di bagian terbuka kota. Nabi menerima usulan itu.

Dunia Islam pasca Karbala: Kekuasaan berjalan, luka tetap ada

Gagasan sederhana namun rasional ini menunjukkan bahwa Islam tidak anti strategi dan sains perang. Madinah berubah menjadi lokasi kerja bakti besar: kaum Muslimin menggali parit dengan tangan sendiri.

Ketika pasukan sekutu tiba, mereka kecewa melihat parit besar menghalangi jalan.
Kavaleri tidak bisa lewat, strategi mereka lumpuh. Mereka pun menunggu, berharap kaum Muslimin menyerah karena ketakutan. Pengepungan berlangsung sekitar sebulan.

Tidak ada perang terbuka, tapi tekanan mental sangat berat:
• makanan mulai menipis
• udara dingin menusuk
• tidur tidak tenang karena serangan kapan saja bisa terjadi

Tragedi Karbala dan dampaknya bagi sejarah Islam

Yang paling mengkhawatirkan: sebagian pasukan Yahudi dari dalam Madinah melanggar perjanjian Piagam Madinah dan membuka peluang serangan dari dalam kota. Kaum Muslimin terjepit dari luar dan dalam.

Ketika sebagian muslim berkata, “janji kemenangan tidak datang”, Nabi menjawab pendek: “Pertolongan Allah selalu dekat.”

Sekutu semakin frustrasi karena parit tidak bisa ditembus. Ditambah badai pasir keras menerjang kemah mereka: tiang roboh, api padam, dan logistik hancur.

Pemerintahan Yazid dan jalan menuju Tragedi Karbala

Pasukan sekutu kehilangan kepercayaan pada rencana mereka dan akhirnya memilih mundur.

Sumber: Sirah Nabawiyah karya Syaikh Shafiyyur Rahman al-Mubarakfury

Perang Nahrawan dan akhir kepemimpinan Ali bin Abi Thalib
×