Blitar – The 12th IndoEBTKE ConEx 2026 kembali digelar sebagai forum tahunan paling bergengsi di bidang energi baru terbarukan (EBT) Indonesia. Memasuki penyelenggaraan ke-12, event ini semakin matang dan strategis dalam memfasilitasi pertemuan antara para investor, pengembang proyek, regulator, dan pemangku kepentingan lainnya untuk mendorong percepatan transisi energi nasional.
Indonesia memiliki potensi EBT yang sangat besar, mulai dari energi surya, angin, panas bumi, hidro, biomassa, hingga energi laut. Namun konversi potensi tersebut menjadi kapasitas pembangkit yang beroperasi masih jauh dari optimal dan memerlukan akselerasi investasi yang signifikan agar target bauran energi terbarukan dapat dicapai tepat waktu.
Agenda dan fokus IndoEBTKE ConEx 2026
Forum tahun ini berfokus pada tema eksekusi proyek strategis yang menjadi tantangan utama dalam pengembangan EBT Indonesia. Berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya yang lebih banyak membahas potensi dan rencana, IndoEBTKE ConEx 2026 mendorong konversi dari pembicaraan ke aksi nyata melalui sesi business matching, penandatanganan perjanjian kerja sama, dan presentasi proyek yang siap untuk pembiayaan.
Panel diskusi dengan pembicara dari berbagai kalangan, termasuk pejabat pemerintah, CEO perusahaan energi multinasional, dan akademisi, memberikan perspektif holistik tentang tantangan dan peluang yang ada. Isu-isu seperti pembiayaan proyek EBT, kerangka regulasi yang kondusif, serta pengembangan rantai pasok komponen EBT lokal menjadi topik-topik hangat yang dibahas secara mendalam.
Dampak terhadap target net zero Indonesia
Indonesia telah berkomitmen mencapai net zero emission pada 2060. Mewujudkan komitmen ambisius ini memerlukan transformasi besar-besaran pada sistem energi nasional yang saat ini masih sangat bergantung pada batu bara. IndoEBTKE ConEx 2026 memainkan peran penting dalam mempercepat momentum ini dengan mempertemukan mereka yang memiliki modal dengan mereka yang memiliki proyek dan keahlian teknis untuk mengeksekusinya.
Setiap gigawatt kapasitas EBT yang berhasil dibangun tidak hanya berkontribusi pada pengurangan emisi karbon, tetapi juga menciptakan lapangan kerja baru, mengurangi ketergantungan pada impor bahan bakar fosil, dan memperkuat ketahanan energi nasional dalam jangka panjang bagi seluruh masyarakat Indonesia.

