Artikel Berita

Cerita usaha gula jawa di Semen, Gandusari yang bertahan sejak 1991

Dok.KKN Semen 1

Gandusari, Blitar — Kegiatan kunjungan serta wawancara pembuatan gula Jawa milik Bapak Supriyadi di Desa Semen, Dusun Tulungrejo, Kecamatan Gandusari, Kabupaten Blitar, dilakukan oleh mahasiswa KKN UNU Blitar Kelompok 1 pada tanggal 8 Agustus 2026.

Kegiatan ini bertujuan untuk mengetahui secara langsung proses produksi gula Jawa tradisional sekaligus menggali informasi mengenai usaha rumahan yang telah bertahan puluhan tahun di tengah perkembangan zaman.

Dalam kunjungan tersebut, mahasiswa KKN juga berkesempatan melihat langsung proses produksi gula Jawa yang telah dijalankan Bapak Supriyadi sejak 1991. Usaha ini merupakan warisan turun-temurun dari orang tua dan neneknya.

Bakung punya industri gula kelapa yang sudah tak beroperasi

Bapak Supriyadi menjelaskan bahwa usaha ini sudah ia tekuni sejak tahun 1991 dan menjadi sumber penghidupan keluarga hingga saat ini. “Usaha ini sudah turun-temurun dari orang tua dan nenek, dan saya lanjutkan sejak tahun 1991 sampai sekarang,” ujar Bapak Supriyadi.

Bapak Supriyadi memanfaatkan nira yang berasal dari kebunnya sendiri sebagai bahan utama pembuatan gula Jawa. Ia mempertahankan penggunaan bahan murni tanpa pengawet maupun campuran bahan lainnya sebagai salah satu keunggulan produknya. Gula ini murni tanpa pengawet maupun pemanis buatan.

Proses pembuatan gula Jawa diawali dengan menyaring nira untuk membersihkannya dari kotoran seperti semut, lebah, dan serpihan bunga kelapa. Nira kemudian disaring kembali menggunakan kain bersih sebelum dimasukkan ke dalam wajan besar.

Nglegok jadi sentra industri gula kelapa terbesar Blitar

Setelah itu, nira direbus di atas tungku dengan api yang cukup besar. Busa yang muncul ketika nira mendidih dibuang agar gula tetap bersih. Proses pemasakan dan pengentalan berlangsung kurang lebih lima jam hingga warna nira berubah dari bening keruh menjadi kecokelatan. Selama proses tersebut, nira terus diaduk hingga merata.

Nira yang telah mengental kemudian dituangkan ke dalam cetakan berbentuk balok yang terbuat dari kelapa. Gula didiamkan sekitar 20 menit hingga mengeras dan dingin. Setelah dikeluarkan dari cetakan, gula Jawa siap dikemas saja untuk menjaga agar gula tidak lembap.

Dalam sehari, Bapak Supriyadi dapat menghasilkan sekitar 9 kilogram gula Jawa. Produk tersebut dijual dengan harga Rp22.000 per kilogram. Hasil produksinya juga sudah memiliki pembeli yang mengambil langsung dari tempat produksi.

Gandusari jadi sentra tanaman jahe terbesar di Blitar

Yuspi, salah satu anggota kelompok, berkata, “Gula yang diproduksi Bapak Supriyadi memiliki rasa manis alami yang enak dengan gurih khas kelapa yang membuatnya terasa nagih.”

Dalam kesempatan itu, mahasiswa juga mendapatkan oleh-oleh berupa cimplung dari Bapak Supriyadi.

Menurut Bapak Supriyadi, salah satu kendala dalam proses produksi adalah kondisi cuaca buruk yang dapat memengaruhi kualitas nira. Meski demikian, ia tetap mempertahankan usaha yang telah diwariskan keluarganya tersebut.

Gerabah Blitar, kerajinan tanah liat yang terus bertahan

Ia berharap usaha gula Jawa tersebut dapat terus berkembang dengan semakin banyak pelanggan. Dengan mempertahankan bahan baku murni dari kebun sendiri dan tanpa tambahan pengawet, Bapak Supriyadi berupaya menjaga kualitas gula Jawa yang diproduksinya.

×