Artikel
Beranda » 7 fakta mengejutkan tentang wisata di Blitar yang jarang diketahui orang

7 fakta mengejutkan tentang wisata di Blitar yang jarang diketahui orang

Pantai Gayasan dan JLS Blitar - Tulungagung. (Foto: Admad/Bicarablitar.com)

Pendahuluan: Lebih dari Sekadar Kota Proklamator

Apa yang terlintas di benak Anda saat mendengar nama Blitar? Kebanyakan orang mungkin akan langsung mengasosiasikannya dengan Makam Bung Karno. Namun, kota bersejarah ini menyimpan jauh lebih banyak kejutan daripada citranya sebagai tempat peristirahatan Sang Proklamator.

Mari kita singkap tujuh lapisan tersembunyi Blitar yang akan memperkaya pemahaman Anda tentang denyut nadi salah satu sudut paling dinamis di Jawa Timur ini.

1. Memiliki “Raja Ampat” Tersembunyi di Pesisir Selatannya

Pantai Peh Pulo adalah jawaban Blitar untuk pesona kepulauan eksotis di ujung timur Indonesia. Pantai ini menawarkan pemandangan menakjubkan dengan hamparan pasir putih bersih yang berpadu dengan gugusan pulau-pulau karang kecil yang tersebar tak jauh dari bibir pantai.

Kendang jimbe di Blitar: industri kreatif lokal

Keindahannya begitu memukau hingga sering disandingkan dengan Raja Ampat.

Para pelancong dan kreator konten wisata bahkan tak ragu menjulukinya demikian, seperti yang terekam dalam sebuah ulasan video populer: Enggak sedikit yang bilang kalau Peh Pulau itu raja ampatnya Blitar.

Meskipun untuk mencapainya pengunjung harus melewati jalanan berbukit yang cukup terjal, panorama laut biru jernih yang menyambut di lokasi membuat setiap tetes keringat terasa sepadan.

Hal yang mungkin belum kamu tahu tentang Jembatan Trisula di Blitar Selatan

2. Sajian Kuliner Ekstrem yang Ternyata Lezat: Sambal dari Tempe “Busuk”

Bagi pencinta kuliner yang gemar bertualang rasa, Blitar menawarkan sebuah sajian yang unik dan provokatif: Sambal Tumpang.

Bahan utama yang membuat sambal ini istimewa adalah tempe bosok atau tempe semangit, yaitu tempe yang telah melewati proses fermentasi lanjutan.

Jangan biarkan aromanya yang “cukup menyengat” menipu Anda. Namun, setelah diolah dengan racikan bumbu kaya rempah seperti bawang, kencur, dan daun jeruk, lahirlah sebuah cita rasa umami yang kompleks dan ‘sangatlah lezat’, mengubah aroma menyengat itu menjadi kenikmatan gurih yang mendalam.

Saat ibu-ibu ini siapkan 400 porsi hidangan Ramadan di sekitar Dayah Al-Musthafa Aceh Tamiang

Biasanya, sambal tumpang disajikan di atas nasi panas dengan aneka sayuran rebus seperti tauge dan bayam, menciptakan perpaduan rasa yang tak terlupakan.

3. Dua Wajah Pesisir: Dari Pantai Festival Meriah hingga Sudut “Perawan”

Pesisir Blitar memiliki dua karakter yang kontras. Di satu sisi, ada pantai-pantai meriah yang menjadi pusat keramaian, dan di sisi lain, terdapat sudut-sudut “perawan” yang menawarkan ketenangan mutlak.

Pesisir Meriah: Pantai Tambakrejo adalah destinasi andalan dengan pasir putih, adanya Tempat Pelelangan Ikan (TPI), dan menjadi lokasi tradisi tahunan Larung Sesaji yang digelar setiap bulan Juni.

Blitar menyambut Ramadan 2026: antara ketegasan dan tenggang rasa

Sementara itu, Pantai Serang menjadi favorit keluarga dan lokasi camping, dengan deretan pohon cemara udang yang sejuk dan menjadi tuan rumah Serang Culture Festival pada bulan Oktober.

Pesisir ‘Perawan’: Bagi yang mencari keunikan, Pantai Umbul Waru menawarkan fenomena langka berupa air terjun mini yang mengalir langsung dari tebing karang ke laut. Untuk para petualang sejati, Pantai Gayasan menanti dengan keunikan pasirnya yang bergradasi dari putih, cokelat, hingga hitam, serta aksesnya yang masih menantang.

4. Jejak Sejarah Megah Jauh Sebelum Era Kemerdekaan

Meskipun dikenal sebagai kota peristirahatan terakhir Sang Proklamator, jejak sejarah Blitar telah tercatat jauh lebih tua, sejak era kerajaan besar di Nusantara. Bukti termegahnya adalah Candi Penataran.

Dari megengan ke bukber modern: Wajah ramadan 2026 di Blitar

Kompleks candi Hindu ini adalah yang terluas di Jawa Timur, sebuah peninggalan agung dari masa Kerajaan Kediri hingga puncak kejayaan Majapahit. Keberadaan candi ini menjadi saksi bisu bahwa wilayah Blitar telah memegang peranan penting sejak sepuluh abad yang lalu, jauh sebelum Indonesia merdeka.

Keberadaan kompleks candi megah inilah yang menjadi salah satu fondasi julukan Blitar sebagai ‘Land of Kings’, sebuah penanda bahwa DNA kepemimpinan dan peradaban telah mengakar di tanah ini jauh sebelum era modern.

Menariknya, untuk memasuki kompleks bersejarah ini tidak dikenakan biaya tiket masuk, pengunjung hanya perlu memberikan donasi sukarela dan membayar biaya parkir.

Masjid ar-rahman: suasana madinah di Jawa Timur

5. Denyut Budaya yang Hidup Sepanjang Tahun

Blitar bukanlah kota sejarah yang senyap. Sebaliknya, daerah ini memiliki kalender budaya yang padat dan hidup sepanjang tahun, memadukan tradisi kuno dengan perayaan modern. Kalender Event Kabupaten Blitar 2026 menunjukkan keragaman yang luar biasa, di antaranya:

Ritual sakral: Jamasan Gong Kyai Pradah (Agustus) dan Siraman Pusaka Kyai Bonto (Agustus) menjadi momen pelestarian pusaka leluhur.

Festival modern: Festival Kopi di Kebun Kopi Kawisari (Juni) dan Festival Teh Sirah Kencong (April) merayakan potensi agrikultur lokal.

Tradisi unik masyarakat Blitar menyambut Ramadan

Tradisi lain: Kirab Tumpeng Ketupat Coklat (Maret) menjadi acara unik yang menggabungkan tradisi dengan komoditas unggulan daerah.

Rangkaian acara ini membuktikan bahwa Blitar bukanlah sekadar penjaga abu sejarah, melainkan panggung hidup di mana ritual pusaka leluhur, festival komoditas modern seperti kopi dan teh, serta perayaan unik berbasis cokelat dapat berjalan beriringan secara harmonis.

6. “Ibukota” Manis untuk Cokelat dan Belimbing

Selain sejarah dan alam, Blitar juga merupakan surga agrowisata. Daerah ini adalah salah satu pusat produksi komoditas agrikultur yang berhasil diolah menjadi destinasi wisata edukasi yang sangat populer.

Masuk Ramadan, jam kerja ASN berkurang namun target kinerja tetap

Kampung Coklat: Salah satu destinasi paling populer di Blitar, tempat ini mengajak pengunjung melihat langsung proses pengolahan biji kakao menjadi aneka produk cokelat lezat. Dengan tiket masuk sekitar Rp20.000 per orang, pengunjung dapat belajar sekaligus memanjakan lidah.

Agrowisata Belimbing Karangsari: Sebagai pusat perkebunan belimbing madu khas Blitar, tempat ini menawarkan pengalaman memetik buah langsung dari pohonnya. Buah belimbing dari sini terkenal berukuran besar dan memiliki rasa yang sangat manis.

7. Kekuatan Ekonomi Tersembunyi di Balik Kota Sejarah

Di luar sektor pariwisata, Blitar ternyata memiliki fondasi ekonomi yang kuat dan masyarakat yang sangat produktif. Data dari “Buku Profil Daerah Kabupaten Blitar” mengungkap sisi lain yang jarang diketahui:

Jumlah UMKM: Pada tahun 2023, terdapat 31.473 UMKM aktif di Kabupaten Blitar, sebuah bukti nyata semangat kewirausahaan warganya.

Sektor Dominan: Sektor perdagangan menjadi yang terbesar dengan jumlah 11.241 UMKM, menunjukkan denyut niaga yang kencang.

Populasi Produktif: Mayoritas penduduk (70%) berada di usia produktif (14-64 tahun), menjadi motor penggerak ekonomi daerah.

Angka Harapan Hidup: Masyarakatnya memiliki angka harapan hidup yang tergolong tinggi, mencapai 75,12 tahun pada 2023, menandakan kualitas hidup yang baik.

Data-data ini bukan sekadar angka; mereka melukiskan potret masyarakat yang ulet, berjiwa wirausaha, dan memiliki kualitas hidup yang terjaga—fondasi tak terlihat yang menopang kekayaan sejarah dan budaya Blitar.

Kesimpulan: Wajah Baru Blitar Menanti untuk Dijelajahi

Jelas sudah, Blitar adalah destinasi yang jauh lebih kaya dan beragam daripada sekadar kota sejarah.

Dari pesisir yang menyembunyikan pesona Raja Ampat, dapur yang meracik tempe bosok menjadi mahakarya kuliner, hingga data ekonomi yang mengungkap vitalitas warganya, Blitar membuktikan dirinya sebagai sebuah destinasi paradoks: tenang namun dinamis, kuno namun produktif.

Dari tujuh kejutan ini, sisi mana dari Blitar yang paling membuat Anda penasaran untuk dijelajahi pertama kali?


Artikel ini diolah dari berbagai sumber yang dibantu AI

Berita Terbaru

×