Melintasi jalur utama yang menghubungkan Malang-Blitar. Di balik jendela kendaraan, siluet Gunung Kelud yang megah mengawasi dari kejauhan, sementara irama roda kereta api sesekali memecah keheningan persawahan.
Bagi sebagian besar pelancong, Kecamatan Garum mungkin hanyalah sekelebat pemandangan hijau yang dilewati begitu saja. Namun, jika Anda bersedia menepi dan menghirup udara di wilayah seluas 54,56 km² ini, Anda akan menemukan bahwa Garum pernah mengubah arah sejarah Republik.
Garum bukan sekadar titik transit. Ia adalah salah satu tanah tempat ketika bangsa bermula. Sebuah pintu gerbang tersembunyi yang menyimpan fakta-fakta yang jarang masuk ke dalam buku teks sekolah. Mari kita bedah mengapa kecamatan ini layak mendapatkan tempat lebih di hati para penikmat sejarah dan petualang.
1. Sukarni: Putra Jagal Sapi yang Menggetarkan Nyali Belanda
Sejarah proklamasi kita takkan lengkap tanpa menyebut nama Sukarni Kartodiwirjo. Namun, sedikit yang tahu bahwa pahlawan nasional ini adalah putra asli Garum yang lahir dari keluarga sederhana. Ayahnya, Kartodiwirjo, adalah sosok terpandang sebagai satu-satunya jagal sapi di Garum pada masanya.
Keberanian Sukarni yang legendaris di kancah nasional ternyata berakar dari sifat “badung”-nya di jalanan Garum. Di dekat area yang kini menjadi kantor polisi dan kantor kecamatan, dulu berdiri loji-loji megah milik pegawai pabrik gula terbesar di Jawa Timur saat itu. Sukarni remaja sering kali menjadi teror bagi anak-anak pejabat Eropa yang bermain di sana.
“Anak-anak Belanda itu katanya kalau sore suka bermain sepatu roda. Pak De Sukarni biasanya sembunyi di semak-semak di pinggir jalan. Kemudian saat mereka mendekat, Pak De melompat ke jalan dan mendorong mereka atau membuat mereka kaget dan terjatuh,” tutur Kiswoto, keponakan sang pahlawan.
Aksi jahil ini bukanlah sekadar keisengan remaja, melainkan manifestasi awal dari harga diri seorang putra daerah yang enggan tunduk pada dominasi asing.
2. Stasiun Garum: Gerbang Wisata yang Melampaui Statistik
Jangan tertipu oleh bangunan stasiunnya yang sederhana. Stasiun Garum adalah hub mobilitas yang vital bagi ekonomi dan pariwisata Blitar. Camat Arinal Huda mencatat data bahwa tidak kurang dari 191.000 orang naik-turun di stasiun ini setiap tahunnya.
Angka ini melampaui statistik mobilitas banyak stasiun lain di wilayah Blitar. Mengapa begitu tinggi? Usut punya usut, Stasiun Garum adalah gerbang utama bagi para pelancong kereta api yang hendak menuju Candi Penataran.
Tingginya arus manusia ini menjadi napas bagi UKM dan perdagangan lokal. Dari komuter hingga wisatawan mancanegara, setiap langkah di stasiun ini adalah peluang emas bagi masyarakat Garum untuk memperkenalkan potensi lokal mereka kepada dunia.
Desa Karangrejo merupakan wilayah terluas di Kecamatan Garum dengan luas 16,38 km². Bagi para pecinta alam, desa ini menyimpan jalur rahasia menuju puncak Gunung Kelud. Berbeda dengan jalur lain yang mungkin menguras fisik dengan tanjakan ekstrem, jalur via Karangrejo dikenal memiliki medan yang tidak terlalu curam.
Hal ini menjadikannya primadona bagi pendaki pemula atau mereka yang ingin menikmati hiking santai. Secara geografis, Garum memang memiliki hubungan batin dengan Kelud. Kekuatan sang gunung bahkan meninggalkan jejak fisik pada sejarah.
Kayu-kayu usuk (penyangga atap) di Ndalem Sukarni dulunya harus diganti akibat hantaman material letusan Kelud. Hubungan antara gunung, manusia, dan sejarah di sini terjalin begitu erat.
4. Ndalem Sukarni
Di Kelurahan Sumberdiren, berdirilah Ndalem Sukarni, rumah kelahiran sang pahlawan yang tetap dipertahankan keasliannya. Sejak resmi dibuka sebagai situs sejarah pada 2014, bertepatan dengan penganugerahan gelar Pahlawan Nasional bagi Sukarni, rumah ini menjadi magnet bagi pelajar dan mahasiswa.
Namun, Ndalem Sukarni bukanlah museum mati yang kaku. Rumah ini adalah pusat denyut nadi kehidupan warga. Di sinilah rapat RT digelar, layanan Posyandu dilakukan, hingga menjadi Tempat Pemungutan Suara (TPS) saat pesta demokrasi.
Keluarga besar Sukarni secara sadar memutuskan untuk tidak membagi waris rumah induk ini demi menjaga kelestariannya sebagai sarana edukasi. Di dalamnya, Anda masih bisa melihat lemari, tempat tidur, dan meja asli yang pernah digunakan oleh sang tokoh kunci kemerdekaan tersebut.
5. Strategi “Badung” yang Memerdekakan Bangsa
Jiwa pemberani yang dulu mendorong anak-anak Belanda ke semak-semak Garum adalah jiwa yang sama yang membawa Soekarno-Hatta ke Rengasdengklok. Sukarni adalah otak politik yang cerdik. Dialah yang menentukan secara strategis agar hanya nama Soekarno dan Hatta yang dicantumkan dalam teks proklamasi sebagai wakil bangsa Indonesia.
Sebuah langkah krusial untuk menghindari kesan bahwa kemerdekaan kita adalah hadiah dari Jepang. Visi strategisnya tak berhenti di 17 Agustus. Pada 3 September 1945, Sukarni memprakarsai aksi berani mengambil alih Jawatan Kereta Api, stasiun radio, hingga angkutan umum kota.
Ia memastikan bahwa seluruh aset vital komunikasi dan transportasi berada di bawah kendali Republik yang baru saja lahir. Semua langkah besar ini bermula dari karakter kuat yang ditempa di lingkungan dinamis Kecamatan Garum.
Artikel ini diolah dari berbagai sumber dengan bantuan AI