Blitar – Desa Wlingi menyimpan jejak sejarah yang berkaitan erat dengan masa perjuangan Pangeran Diponegoro dalam melawan penjajah Belanda pada abad ke-19.
Setelah penangkapan dan pengasingan Pangeran Diponegoro ke Manado pada tahun 1830, banyak pengikutnya memilih melarikan diri untuk menghindari penangkapan oleh Belanda.
Para pengikut ini menyebar ke berbagai penjuru, termasuk wilayah timur Pulau Jawa. Mereka menyamarkan identitas dengan berpura-pura menjadi petani, pedagang, atau mubaligh agar tidak mudah dikenali.
Dua tokoh yang termasuk dalam rombongan pelarian itu adalah Ki Ageng Pandan Rowo dan Ki Tugusari. Keduanya menempuh perjalanan hingga ke wilayah timur Sungai Lekso di Kabupaten Blitar, yang saat itu masih berupa hutan lebat.
Setelah mendapat izin dari Kanjeng Bupati Blitar, mereka mulai membuka hutan tersebut untuk dijadikan tempat tinggal, dibantu oleh masyarakat yang juga ingin menetap di sana.
Wilayah yang berhasil dibuka kemudian dinamai Desa Wlingi, mengacu pada banyaknya rumput Wlingen yang tumbuh di bagian utara kawasan hutan. Sementara itu, wilayah tenggara dan selatannya dikenal karena banyak ditumbuhi pohon nangka.
Nama “Wlingi” diberikan oleh Ki Ageng Pandan Rowo sebagai bentuk pengingat terhadap kekhasan alam yang ditemukan di daerah itu.
Untuk menunjang kehidupan masyarakat, Ki Tugusari bersama warga membangun berbagai sarana, termasuk jalan, ladang, sawah, dan sistem irigasi. Sungai yang mengalir di bagian timur kemudian dikenal sebagai Sungai Dawuhan, sedangkan yang di barat dinamai Sungai Lekso.
Karena sebagian besar penduduk menggantungkan hidup dari sektor pertanian, desa ini kemudian dikenal dengan sebutan Wlingi Krida Martani, yang mencerminkan kehidupan masyarakat yang giat bertani dan mengelola lahan. (Blt)