Pendidikan dasar merupakan fondasi utama dalam membentuk arah perkembangan peserta didik, baik dari aspek pengetahuan, keterampilan, maupun karakter. Pada jenjang inilah anak-anak mulai membangun cara berpikir, sikap terhadap belajar, serta nilai-nilai dasar yang akan memengaruhi perjalanan pendidikan mereka selanjutnya.
Oleh karena itu, kualitas pembelajaran di sekolah dasar sangat ditentukan oleh peran guru sebagai pelaksana utama proses pendidikan di kelas. Guru tidak hanya bertugas menyampaikan materi, tetapi juga berperan sebagai fasilitator, pembimbing, dan pengelola pembelajaran yang mampu menciptakan pengalaman belajar yang bermakna.
Dalam konteks penerapan Kurikulum Merdeka, tuntutan terhadap profesionalisme guru sekolah dasar semakin meningkat. Kurikulum Merdeka menekankan pembelajaran yang berpusat pada peserta didik, fleksibel, kontekstual, serta berorientasi pada pengembangan kompetensi dan karakter.
Guru dituntut untuk mampu merancang dan melaksanakan pembelajaran yang tidak hanya mengejar ketuntasan materi, tetapi juga memperhatikan kebutuhan, minat, dan kemampuan belajar siswa. Untuk menjawab tantangan tersebut, penguasaan keterampilan dasar mengajar menjadi kompetensi esensial yang harus dimiliki oleh setiap guru sekolah dasar.
Keterampilan dasar mengajar merupakan seperangkat kemampuan pedagogis yang mendasari keberhasilan proses pembelajaran. Keterampilan ini meliputi kemampuan membuka dan menutup pelajaran, menjelaskan materi, mengajukan pertanyaan, memberikan penguatan, mengelola kelas, serta melakukan penilaian dan tindak lanjut pembelajaran.
Seluruh keterampilan tersebut saling berkaitan dan membentuk satu kesatuan utuh dalam praktik pembelajaran. Guru yang menguasai keterampilan dasar mengajar dengan baik akan lebih mampu menciptakan suasana belajar yang aktif, kondusif, dan menyenangkan, sebagaimana ditekankan dalam Kurikulum Merdeka.
Esai ini disusun berdasarkan hasil observasi dan wawancara langsung yang dilakukan di SDN Karangtengah 1 Kota Blitar. Subjek observasi adalah Ibu Anna Riana, S.Pd.SD selaku guru kelas III B, sedangkan objek observasi difokuskan pada keterampilan dasar mengajar guru dalam pembelajaran IPAS dengan tema “Energi di Sekitar Kita”.
Melalui esai ini, penulis berupaya menguraikan secara naratif dan mendalam bagaimana keterampilan dasar mengajar tersebut diimplementasikan dalam perencanaan, pelaksanaan, penilaian, serta pengelolaan kelas dan interaksi guru–siswa, tanpa menghilangkan konteks subjek dan objek penelitian.
Dalam tahap perencanaan pembelajaran, guru menunjukkan kemampuan profesional yang tercermin dari penyusunan modul ajar yang selaras dengan Kurikulum Merdeka. Ibu Anna Riana menyusun perencanaan pembelajaran dengan memperhatikan capaian pembelajaran, tujuan pembelajaran, alur tujuan pembelajaran, serta asesmen yang akan digunakan.
Tujuan pembelajaran dirumuskan secara jelas dan terukur sehingga memberikan arah yang tegas bagi proses pembelajaran di kelas. Perencanaan yang matang ini menjadi fondasi penting dalam mewujudkan pembelajaran yang efektif dan terarah.
Materi pembelajaran IPAS dengan tema “Energi di Sekitar Kita” dirancang secara kontekstual dengan mengaitkan konsep energi dengan kehidupan sehari-hari peserta didik. Guru menghubungkan materi dengan penggunaan alat-alat elektronik di rumah dan lingkungan sekolah, sehingga siswa dapat memahami konsep energi secara konkret dan relevan.
Pendekatan kontekstual ini sangat sesuai dengan karakteristik perkembangan kognitif siswa sekolah dasar yang berada pada tahap operasional konkret, di mana pemahaman akan lebih mudah terbentuk melalui contoh nyata dan pengalaman langsung.
Selain itu, guru juga mempersiapkan media dan sumber belajar secara optimal. Media pembelajaran berupa gambar, alat peraga sederhana, serta bahan pengamatan disiapkan sebelum kegiatan pembelajaran dimulai. Kesiapan media ini menunjukkan kesungguhan guru dalam menciptakan pengalaman belajar yang bermakna dan tidak monoton.
Pemilihan metode pembelajaran pun dilakukan secara variatif, seperti tanya jawab, diskusi sederhana, demonstrasi, dan kegiatan pengamatan. Variasi metode ini bertujuan untuk mengakomodasi perbedaan gaya belajar siswa serta menjaga keterlibatan aktif mereka selama proses pembelajaran berlangsung.
Pada tahap pelaksanaan pembelajaran, keterampilan dasar mengajar guru tampak jelas dalam setiap tahapan kegiatan. Pembelajaran diawali dengan kegiatan pendahuluan yang dirancang untuk membangun kesiapan belajar siswa.
Guru melakukan apersepsi dengan mengaitkan pengetahuan awal siswa dengan materi yang akan dipelajari, serta memberikan motivasi belajar yang mendorong rasa ingin tahu siswa. Penyampaian tujuan pembelajaran dilakukan secara jelas agar siswa memahami arah dan manfaat dari kegiatan pembelajaran yang akan mereka jalani.
Dalam penyampaian materi, guru menunjukkan keterampilan menjelaskan yang baik dengan menggunakan bahasa yang sederhana, runtut, dan mudah dipahami oleh siswa kelas III. Konsep energi dijelaskan melalui contoh konkret dan visual yang dekat dengan kehidupan siswa.
Guru memanfaatkan papan tulis, alat peraga, serta ilustrasi sederhana untuk membantu siswa memahami konsep yang disampaikan. Cara menjelaskan seperti ini membantu siswa membangun pemahaman konseptual secara bertahap dan mengurangi potensi miskonsepsi.
Keterampilan bertanya juga menjadi salah satu kekuatan dalam pelaksanaan pembelajaran. Guru mengajukan pertanyaan dengan variasi tingkat kognitif, mulai dari pertanyaan sederhana untuk mengecek pemahaman dasar hingga pertanyaan yang mendorong siswa berpikir kritis dan mengemukakan pendapat.
Guru memberikan kesempatan yang merata kepada siswa untuk menjawab serta memberikan waktu tunggu yang cukup, sehingga siswa tidak merasa tertekan dan lebih percaya diri dalam berpartisipasi.
Selama proses pembelajaran, guru secara konsisten memberikan penguatan positif kepada siswa. Penguatan diberikan dalam bentuk pujian, senyuman, anggukan, serta motivasi verbal yang membangun.
Penguatan tidak hanya diberikan kepada siswa yang menjawab dengan benar, tetapi juga kepada siswa yang menunjukkan keberanian untuk mencoba dan aktif berpartisipasi. Hal ini berdampak positif terhadap motivasi belajar dan kepercayaan diri siswa, serta menciptakan suasana kelas yang suportif.
Dalam aspek penilaian dan tindak lanjut pembelajaran, guru melaksanakan asesmen secara berkelanjutan dan autentik. Penilaian dilakukan melalui pengamatan aktivitas siswa, tanya jawab, serta penilaian formatif selama proses pembelajaran berlangsung.
Guru memberikan umpan balik secara langsung dan konstruktif untuk membantu siswa memahami kekuatan dan kelemahan mereka dalam belajar. Hasil penilaian tersebut kemudian dimanfaatkan sebagai dasar untuk merancang tindak lanjut pembelajaran.
Siswa yang belum mencapai ketuntasan diberikan bimbingan tambahan dan kegiatan remedial dengan pendekatan yang lebih sederhana, sedangkan siswa yang telah mencapai kompetensi diberikan kegiatan pengayaan.
Tindak lanjut ini menunjukkan perhatian guru terhadap perbedaan kemampuan dan kebutuhan belajar siswa. Pendekatan tersebut sejalan dengan prinsip Kurikulum Merdeka yang menekankan pembelajaran berdiferensiasi dan berpihak pada peserta didik.
Pengelolaan kelas dan interaksi guru–siswa juga menjadi aspek penting yang diamati dalam penelitian ini. Guru mampu menciptakan suasana kelas yang kondusif, tertib, dan nyaman. Aturan kelas diterapkan secara konsisten dengan pendekatan yang positif dan edukatif. Guru tidak menggunakan pendekatan otoriter, melainkan lebih mengedepankan komunikasi yang persuasif dan penuh empati.
Interaksi antara guru dan siswa berlangsung secara positif dan komunikatif. Guru memberikan ruang bagi siswa untuk bertanya, berdiskusi, dan menyampaikan pendapat tanpa rasa takut.
Siswa yang cenderung pasif didorong secara halus untuk berpartisipasi, sementara siswa yang lebih aktif diarahkan agar tetap fokus dan tidak mendominasi. Hubungan interpersonal yang baik antara guru dan siswa menciptakan iklim kelas yang inklusif dan mendukung keterlibatan aktif seluruh peserta didik.
Berdasarkan uraian tersebut, dapat disimpulkan bahwa keterampilan dasar mengajar yang dimiliki oleh Ibu Anna Riana, S.Pd.SD selaku guru kelas III B di SDN Karangtengah 1 Kota Blitar telah diimplementasikan secara optimal dalam pembelajaran IPAS dengan tema “Energi di Sekitar Kita”.
Subjek dan objek penelitian menunjukkan keterpaduan antara perencanaan, pelaksanaan, penilaian, serta pengelolaan kelas yang selaras dengan prinsip-prinsip Kurikulum Merdeka.
Keterampilan dasar mengajar terbukti menjadi faktor kunci dalam menciptakan pembelajaran yang efektif, bermakna, dan berpusat pada peserta didik. Implementasi Kurikulum Merdeka tidak hanya menuntut perubahan pada dokumen kurikulum, tetapi juga menuntut kesiapan guru dalam mengembangkan kompetensi pedagogisnya.
Oleh karena itu, penguatan keterampilan dasar mengajar guru sekolah dasar perlu terus dilakukan melalui pelatihan, refleksi, dan pengembangan profesional berkelanjutan agar kualitas pembelajaran dan hasil belajar siswa dapat terus ditingkatkan.
Penulis: Jauharotul Maghfiroh, Binti Syafiatul Khusna, Radha Arumaya, Ikfilia Azizah, Novian Dony Budiantoro
Catatan Redaksi: Artikel ini ditulis oleh Mahasiswa UNU Blitar untuk memenuhi tugas kuliahnya. Tidak ada editorial dari tim redaksi, kesalahan penulisan, ejaan, dan validitas data sepenuhnya menjadi tanggungjawab penulis.

